From A Long Way Gone

Pernah denger negara Sierra Leone?? Mungkin ada yang jawab pernah sih, tapi lupa – lupa inget gitu deh. Atau mmmm belum tuh ren. Tenang aja, ini bukan pelajaran geografi atau sejarah kok. Saya juga termasuk kategori yang kedua. Tapi berkat sebuah buku, saya jadi sedikit mengenal negara ini dan memancing saya untuk tahu lebih banyak.

Buku yang belum lama saya baca berjudul A Long Way Gone. Saya sangat tertarik dengan gambar sampul buku setebal 316 halaman ini. Bagaimana tidak, sampul buku berupa sebuah foto close – up seorang anak laki-laki (meski belum membaca isinya saya sangat yakin foto itu foto anak-anak) dengan tatapan mata yang sangat tajam, dingin dan dan sangat dalam. Di depan wajahnya nampak salah satu bagian senjata. Saya gak terlalu familiar dengan namanya. Sudah selesai membayangkan? Begini saja, saya berikan langsung gambar sampul buku A Long Way Gone.

long-way-gone.jpg

Sesuai dengan bayanganmu? Oke, terserahlah. Saya juga tidak bermaksud bicara lebih jauh tentang gambar sampulnya. Tapi paling tidak saya punya gambaran tentang sosok “aku” dalam memoar ini.

Adalah Ismael Beah yang membuat buku ini. Kehidupan masa kecilnyalah yang menjadi tema utama. Ismael termasuk satu dari entah berapa juta anak dengan beban kehidupan yang harus dipanggul akibat perang sipil di Sierra Leone. Sierra Leone sendiri adalah sebuah negara di Afrika Barat yang kaya mineral dan bekas jajahan Inggris. Negara ini baru merdeka pada tahun 1961. Dan ternyata sisa-sisa sebagai negara kolonial yang rentan akan konflik kekuasaan, kemiskinan, monopoli, rasisme membuat negeri ini kembali harus terjebak dalam perang sipil sejak 1967.

Memulai kisahnya ada satu kalimat yang sangat menyentuh saya. Bunyinya kira-kira begini, “Semua kisah yang menceritakan tentang perang terdengar seolah-olah terjadi di suatu tempat yang sangat jauh dan begitu berbeda. Tapi ketika para pengungsi melintas di kota kami, kami mulai menyadari bahwa perang benar-benar telah terjadi di negara kami.” Dan Ismael pun harus terlibat di dalamnya.

Usia Ismael waktu itu baru 12 tahun, sekitar tahun 1993. Satu hari ia pergi meninggalkan desanya untuk mengikuti lomba menyanyi dan menari rap di MattuJong, kota tetangga. Ismael dan “gank”nya sangat menggemari musik rap dan menarikannya. Tak pernah terpikirkan oleh Ismael, kakaknya dan seorang sahabat mereka bahwa seiring dengan langkah kaki mereka keluar dari desa itu, mereka tidak akan pernah dapat kembali lagi ke sana.

Ismael adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia tinggal bersama dengan Junior-kakak laki-lakinya- dan keluarga baru ayahnya. Sementara ibu Ismael tinggal di tempat lain bersama adik laki-lakinya. Ayah Ismael adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan Amerika (mungkin pertambangan) di dekat desa mereka.

Berdasarkan kronologis peristiwa yang dituliskan Ismael, awal 1990-an sekelompok orang yang menyebut diri Revolutionary United Front (RUF) mulai menyerang desa-desa. Pihak pemerintah Sierra Leone menyebut kelompok ini sebagai kelompok pemberontak, sementara RUF menyatakan mereka adalah pihak yang ingin membersihkan negara dari koruptor. Serangan RUF yang dibalas oleh tentara negara mulai menyebar dari desa ke desa, termasuk ke desa Ismael.

Sejak saat itulah Ismael terpisah dari keluarganya. Ia tidak pernah lagi melihat ayahnya, ia tidak pernah lagi melihat ibu dan adik kecilnya. Ia tidak pernah lagi merasakan nikmatnya tidur di rumah dan kehilangannya yang terakhir adalah ia tidak lagi melihat kakaknya. Meski mereka sempat berjalan bersama.

Selanjutnya saya terbawa mengikuti perjalanan mempertahankan hidup Ismael bersama dengan teman-temannya. Anak-anak yang seumuran ini harus masuk keluar hutan menghindari serangan baik dari pemberontak maupun tentara, makan seadanya, diguyur hujan, serangan babi hutan atau bahkan tatapan curiga penduduk desa yang mereka lewati. Karna di saat perang seperti itu, sekelompok anak yang berjalan dengan pakaian kusut, wajah tak terurus sering kali dianggap sebagai mata-mata pemberontak yang akan menyerang desa yang mereka lewati. Padahal Ismael hanya ingin mencari sedikit ubi agar mampu bertahan hidup sehari dalam perjalanan mereka.

Hingga satu waktu, ketika Ismael terpaksa ikut ke sebuah desa yang dikuasai pemerintah. Dan di tempat yang pada awalnya ia merasa aman inilah, Ismael justru terperangkap masuk menjadi seorang tentara anak-anak. Kurang dari setahun sebelumnya Ismael muda yang energik, pintar menyanyi cepat dalam bahasa Inggris, senang mendengar dongeng, dipaksa berubah menjadi pembunuh, letnan junior yang sanggup memutuskan urat leher tawanan dan lincah menembak dalam rimbunan pohon dan tepat sasaran. Tak kenal rasa takut. Mematikan

Perang telah meninggalkan bekas yang sangat-sangat dalam pada diri Ismael. Narkoba yang selalu diberikan pada tentara-tentara cilik ini telah menghilangkan segala macam rasa takut dan belas kasihan. Ada satu waktu ketika Ismael merasa ia tidak ingat lagi bagaimana wajah orang tuanya, adik dan kakaknya, neneknya. Perang telah menghapuskan wajah-wajah damai yang pernah diingat Ismael. Bahkan ketika Ismael telah “diselamatkan” sisa-sisa kerasnya perang masih membekas dalam diri Ismael. Hampir 3 tahun ia harus tumbuh dalam perang dan hingga di usianya yang ke-20 pun ia masih harus bertahan dengan itu.

Membaca kisah Ismael saya teringat kisah anak-anak di Indonesia. Konflik dan perang juga terjadi di beberapa bagian negara ini. Bahkan jauh sebelum negara ini merdeka, kita sering mendengar cerita dari kakek mengenai kisah-kisah pejuang cilik. Kadang di dalamnya terkandung nilai kebanggaan akan perjuangan memerdekakan negara, kisah heroisme, kisah sedih ketika harus kehilangan kawan atau bahkan keluarga.

Dan belakangan saya juga teringat akan konflik yang terjadi di Aceh, Timor Leste (ketika masih menjadi wilayah negara ini dulu), Kalimantan. Apakah tentara anak-anak juga muncul di sana? Sinar Harapan edisi 27 Desember 2004 menuliskan report dari Koalisi Asia Tenggara untuk Penghentian Penggunaan Tentara Anak. Menurut laporan mereka anak-anak usia 13 tahun di Aceh digunakan oleh sekelompok pihak untuk melempar granat, mencuri senjata dan membakar sekolah-sekolah. Di sana disebutkan bahwa anak-anak tersebut mengaku bergabung secara sukarela untuk membalas dendam atas kekerasan yang dialami keluarganya. Ada juga anak-anak yang bergabung karna ada intimidasi dan ancaman baik oleh GAM maupun TNI.

Di dunia ini selain di Indonesia dan Sierra Leone ada 13 negara yang masih menggunakan anak-anak sebagai tentara, versi Pelapor Khusus PBB untuk Anak dan Konflik Bersenjata, Radhika Coomaraswamy (www.okezone.com). Negara itu adalah Afghanistan, Burundi, Republik Afrika Tengah, Kongo, Myanmar, Nepal, Somalia, Sudan, Chad, Kolombia, Filipina, Sri Lanka dan Uganda. Bisa kita lihat negara-negara yang masih menggunakan anak-anak sebagai tentara adalah negara yang dilanda konflik yang panjang, antar suku, ras dan religi, penghasil minyak tapi miskin.

Apapun bentuknya, mau mulai dari melempar granat, jadi mata-mata, kurir atau bahkan pegang senjata, memanfaatkan anak-anak adalah sebuah kejahatan perang. Mahkamah Pidana Internasional telah menetapkannya sejak 2002. Pertanyaannya adalah bukan pada bagaimana menghindarkan anak-anak dari perang, tapi bagaimana menghentikan perang itu sendiri. Menghentikan keserakahan negara maju akan minyak di negara miskin, menghentikan keserakahan pemimpin negeri yang hanya memperkaya diri sendiri dan menikmati perang-perang yang terjadi di negaranya.

Lalu bagaimana Ismael bertahan? Akankah dia menghabiskan seluruh masa kanak-kanaknya dengan menjadi tentara? A Long Way Gone is just for you

redrena

About these ads

~ by redrena on March 26, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: