<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rena's World</title>
	<atom:link href="http://redrena.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://redrena.wordpress.com</link>
	<description>Let's see the colours of the world ..</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 20:16:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='redrena.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rena's World</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://redrena.wordpress.com/osd.xml" title="Rena&#039;s World" />
	<atom:link rel='hub' href='http://redrena.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hanya aku dan diriku (bagian pertama)</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2009/11/09/hanya-aku-dan-diriku-bagian-pertama/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2009/11/09/hanya-aku-dan-diriku-bagian-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 18:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Hal apa yang menarik dari sebuah perjalanan? Apakah tempatnya, orang-orangnya, perjalanannya, ceritanya, atau makanannya?  Tulisan ini berisi hal-hal menarik tentang perjalanan saya. Tapi hanya ada satu hal yang saya temukan di perjalanan ini&#8230; Sejak pertama kali menginjakkan kaki lagi di benua ini ada dua tempat yang selalu menghantui malam-malam saya (hehehe).. Paris dan Berlin. Paris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=235&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hal apa yang menarik dari sebuah perjalanan? Apakah tempatnya, orang-orangnya, perjalanannya, ceritanya, atau makanannya?  Tulisan ini berisi hal-hal menarik tentang perjalanan saya. Tapi hanya ada satu hal yang saya temukan di perjalanan ini&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-235"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak pertama kali menginjakkan kaki lagi di benua ini ada dua tempat yang selalu menghantui malam-malam saya (hehehe).. Paris dan Berlin. Paris karena saya amat bersemangat melihat jejak-jejak feodalisme raja-raja abad pertengahan, kastil-kastil tuanya, museumnya, seni dan musik jalanannya. Sementara Berlin, kota yang kental nuansa perjuangan kelasnya, perebutan kekuasaannya, simbol Perang Dingin, kota yang dipenuhi nuansa perlawanan&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu yang ditunggupun datang juga. Setelah menyelesaikan kelas hari itu, berhaha hihi dengan teman – teman seperjuangan, Kamis, 22 Oktober saya memulai perjalanan menuju kedua kota itu seorang diri. Uhm rencananya sih gak sendirian, tapi lantaran masalah koordinasi dan kepentingan berbagai pihak yang tidak terakomodir jadilah saya ambil pilihan praktis.. Jalan Sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-236" title="Peralatan perang" src="http://redrena.files.wordpress.com/2009/11/img_1111.jpg?w=279&#038;h=239" alt="Peralatan perang" width="279" height="239" />Travel bag ukuran sedang, paspor, dompet berisi uang 150 euro, tiket bus Utrecht – Paris, paspor, kamera, HP (hellow), satu helai baju plus handuk, berkaleng – kaleng susu, coke dan coklat, payung, buku berisi daftar tempat yang harus saya kunjungi menjadi bekal perjalanan saya. Gak ketinggalan sarung tangan dan jaket untuk menghindari bahaya mati kedinginan di negeri orang. Pengalaman menggigil sampai batuk parah di Poznan tahun lalu cukup menjadi tamparan keras di pipi saya.. hehe</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah nunggu bus yang mengangkut saya dari tempat training ke Hiversum, saya pun naik kereta seharga  3,70 euro menuju Utrecht. Tepat jam 7.31 kereta datang dan lima belas menit kemudian saya sudah duduk nyaman di ruang tunggu di Utrecht Central Station. Bus yang akan mengantar saya ke Paris berangkat dari sini jam 22.45 .. Weeks.. 2 jam 45 menit saya harus nunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit, tiga puluh menit&#8230; saya hanya bisa bertahan duduk manis selama tiga puluh menit. Waktunya menjelajah. Tempat pertama adalah WC alias toilet. Untuk masuk ke toilet otomatis ini saya harus memasukkan koin 50 sen di pintu depan toilet. Begitu tombol berubah menjadi warna hijau, toilet yang seperti kotak seng itu akan terbuka dan gw bisa melakukan beberapa aktivitas di sana. Di dalam toilet yang cukup besar karena memang diperuntukkan juga untuk mereka yang disable, ada satu jamban, keran air (yang keduanya terbuat dari besi), cermin, tissu dan sabun. Waktu pakai bebas, asal tidak pada jam padat.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai urusan pertoiletan, say  beralih ke tempat yang lain. Tujuan berikutnya adalah tempat makan. Perut udah agak berontak, saya pun menemukan Smullers. Di tempat ini saya beli sekotak french fries ukuran besar dengan saus mayonaise.. Sambil duduk nyaman memperhatikan orang-orang lalu lalang ngejar-ngejar kereta, saya nikmati kentang goreng itu. Sesekali saya ngobrol dengan seorang ibu di samping saya dengan bahasa campur sari antara Belanda, Inggris, Tarzan dan bahasa universal&#8230; Senyum..</p>
<p style="text-align:justify;">Bosan duduk, plus temen ngobrol saya juga udah kabur entah kemana, saya putuskan turun ke bawah. Berikut jam di dinding udah mengarah ke angka 22.30, time to go. Berjalan pelan, say menuju halte bus Eurolines yang akan mengantar saya ke tempat tujuan. Gak perlu lama-lama nunggu, bus pun dateng. Supir bus ngecek barang saya yang cuma seuprit itu, plus tiket dan saya pun melangkah masuk ke dalam bis. Boot dilepas, cari posisi enak, minum susu dulu dan bersiap tidur.  Secara gelap juga di luar dan hitung-hitung hemat energi untuk perjalanan panjang esok hari.. Zzzzz</p>
<p style="text-align:justify;">Delapan jam kemudian (06.30 pagi), tibalah saya di Gallieni Station. Sedikit ngecek sana sini, saya pun menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Paris..  Untuk mereka yang masuk Paris lewat jalur darat, Gallieni Station merupakan tempat masuk utama. Stasiun ini gabungan antara stasiun bis antar negara dan stasiun kereta bawah tanah (metro).</p>
<p style="text-align:justify;">Khawatir kehabisan tiket ke Berlin, saya pun memutuskan untuk menunggu sampai loket Eurolines dibuka jam 08.00. Sambil nunggu saya melakukan aktivitas pribadi yakni&#8230; berkunjung ke rest room area..  Berbeda dengan di Utrecht, toilet umum di Paris mencharge kita sebesar 20 sen. Di sinilah untuk pertama kalinya say memandang betapa pentingnya uang koin. Dengan uang koin 20 sen, 50 sen kita bisa ke WC. Bahkan kalo mau cepet, beli tiket kereta pun sebaiknya pake uang koin karena ada mesin otomatisnya. Sementara di kita, uang koin udah paling hobi dibuang-buang ato diganti permen kalau belanja di supermarket.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai di toilet, setelah gosok gigi, cuci muka, bedakan, ganti baju, sedikit cantik dan harum saya pun melangkah menuju counter tiket. Saya menjadi pembeli pertama di loket itu. Sebuah dinding kaca memisahkan saya dengan seorang pria penjual tiket.</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : I want to go to Berlin to nite. Do you still have a one way ticket?</p>
<p style="text-align:justify;">Pria: Sorry, it’s finish. Full booked</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : How bout to Brussel?</p>
<p style="text-align:justify;">Pria: Same, all destination are full until Saturday nite.</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : Oke, then i buy one to Paris for Saturday</p>
<p style="text-align:justify;">Pria: One to Paris, 19.30, 85 euro. You passport please?</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : Oke</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dan begitulah.. tanpa rencana (yang emang gak punya rencana) saya pun harus memperpanjang masa tinggal sayadi Paris satu hari. Setelah dikurangi 85 euro praktis uang yang tersisa di dompet saya adalah 65 euro.. Hehehe what we gonna do with this money? And how bout my ticket from Berlin to Utrecht? Could i buy it? Hehehe&#8230; lihat saja nanti. Sekarang, nikmati Paris..</p>
<p style="text-align:justify;">Melangkah ringan saya menuju ke stasiun kereta. Hari masih pagi, masih belum banyak orang, plus saya masih disorientasi karena saya berada di bawah tanah, saya pun melihat-lihat peta Paris. Entah pengaruh laper atau masih belon sadar dari kantuk, saya gak berhasil menangkap maksud dari peta itu. Saya pun memilih bertanya ke bagian informasi khusus metro yang alhamdulillah udah buka.</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : Could you tell me how can i go to Louvre Museum ?</p>
<p style="text-align:justify;">Girl : Uhm&#8230; you go this, take this line, this and get off here&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Gw : Oke, can i take this map</p>
<p style="text-align:justify;">Girl : sure&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Hehehe bingung kan? Itu tadi adalah arahan dari petugas informasi yang ngasih saya info rute dan nomor metro yang akan mengantar saya menuju Louvre Museum.  Yup, tujuan pertama adalah museum tertua di Paris, Louvre Museum di pusat kota Paris. Berhubung petugas informasi tadi tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, seperti saya yang gak bisa sama sekali berbahasa Perancis, akhirnya prinsip here here dan gambar menjadi kunci utama. Plus, saya juga dikasih peta metro gratis sama si mbak ini. Damn, tau gitu ngapain tadi beli peta Paris seharga 2 euro ya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini bekal perjalanan saya bertambah, sebuah peta metro dan peta Paris yang dipenuhi dengan warna-warna. Pelajaran pertama, cintailah warna karena berkat warna kita gak bakalan tersesat di negeri orang.. Jalur metro dibedakan berdasarkan warna dan nomor. Kayak jalur metro dari Gallieni menuju stasiun Pont de Levallois Becon yang berwarna kecoklatan dan bernomor 3. Dari Gallieni saya naik metro ini turun di stasiun Hotel de Ville lalu naik metro nomor 1 ke arah La Defense dan turun di stasiun Palais Royal Musee du Louvre. Metro nomor satu ini berwarna kuning.. Alhamdulillah menemani Syahrani mewarnai membuat gw hafal warna&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Jam 9 pagi saya sampai di Musee du Louvre. Saya masuk museum masih amat sangat sepi. Baru segelintir orang yang dateng. Suasana masih gelap.. Saya gak ngerti apa ini karena memang masih gelap atau karena saya masih berada di bawah tanah. Jalur masuk museum memang ada dua. Satu dari atas, satu lagi dari bawah bagi mereka yang menggunakan metro. Well.. lagi-lagi gw orientsi waktu.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-241" title="Musee de Louvre" src="http://redrena.files.wordpress.com/2009/11/p1210339.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Musee de Louvre" width="300" height="225" />Gak pake lama, gak pake rehat, bahkan gak pake sarapan, saya langsung beli tiket masuk seharga 9 euro.. Waw.. cukup murah untuk museum sebesar itu mengingat sebelumnya saya ke Van Gogh museum dan tiket masuknya seharga 12,50 euro. Plus tiket masuk Louvre berlaku selama satu hari, keluar masuk asal masih berada di hari yang sama. Horee..  Setelah menitipkan seluruh barang bawaan,  saya ke counter sewa audio library seharga 6 euro dan langsung masuk ke bagian pertama.. Anjungan Sully tempat beberapa masterpiece koleksi Louvre disimpan.. Baru dari sinilah, di lantai dua Louvre sebelum masuk ke anjungan saya melihat ke sekeliling dan emang&#8230; gede banget&#8230; !!! Total luas museum 60.600 meter persegi..</p>
<p style="text-align:justify;">Museum yang dibuka sejak 1793 (cuyyy &#8230; ) ini setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 6 juta orang.   Beragam koleksi mulai dari koleksi oriental; Mesir; Romawi, Yunani dan Etruscan; sejarah awal Louvre sendiri; lukisan; patung; koleksi zaman pertengahan dan renaissance; print and drawing department; Amerika, Asia, Oceania dan Afrika; hingga yang terakhir dan sedang dalam masa pembangunan adalah koleksi Art of Islam&#8230; hampir lengkap&#8230; Setau saya yang bisa ngalahin cuma The British Museum di London&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Tiga jam waktu yang saya habiskan di dalam museum.. Mulai dari patung La Victoria de Samothrace, Venus de Milo, Monalisa Smile-nya om Leonard da Vinci, koleksi terbaru mereka berupa pakaian para Ottoman Turki, sampai pondasi Louvre waktu awal dibangun. Kaki udah pegel, mata udah mulai berkunang-kunang plus berusaha melarikan diri dari seorang pria Perancis rada-rada aneh yang mengikuti saya terus, berakhirlah penjelajahan saya di Louvre. Meski hanya tiga jam, saya sudah mengunjungi seluruh anjungan di Louvre.. Dan saya pun bersiap bertandang ke lokasi selanjutnya. Tapi sebelumnya cari makan siang dulu kali ya&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">-<em>sambil saya makan siang, bersambung dulu ceritanya</em>-</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">redrena</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=235&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2009/11/09/hanya-aku-dan-diriku-bagian-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2009/11/img_1111.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Peralatan perang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2009/11/p1210339.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Musee de Louvre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati Indahnya Lebaran Meski di Hati Saja</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2009/09/20/menikmati-indahnya-lebaran-meski-di-hati-saja/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2009/09/20/menikmati-indahnya-lebaran-meski-di-hati-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 18:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Hufff.. akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Lebaran, alias Idul Fitri 1430 H, hari Minggu 20 September 2009, sehari setelah ulang tahun Syahrani.. Bagi gw, inilah pengalaman pertama gw merasakan lebaran jauh dari orang tua, anak, orang tersayang, sahabat, dan teman-teman plus gak di Indonesia pula.. Dan inilah petualangan tersebut. Persiapan menuju hari nan istimewa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=228&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hufff.. akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Lebaran, alias Idul Fitri 1430 H, hari Minggu 20 September 2009, sehari setelah ulang tahun Syahrani.. Bagi gw, inilah pengalaman pertama gw merasakan lebaran jauh dari orang tua, anak, orang tersayang, sahabat, dan teman-teman plus gak di Indonesia pula.. Dan inilah petualangan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-228"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Persiapan menuju hari nan istimewa udah gw lakukan sehari sebelumnya,t erutama dalam mencari tempat untu shalat Ied. Kebetulan Sabtu ini gw dan temen-temen kebagian jatah mengeksplorasi pusat kota  Hilversum. Sang pemandu bilang di sini ada mesjid kecil. Setelah keliling cari toko-toko murah meriah untuk beli berbagai keperluan selama di sini, gw pun memisahkan diri mencari jejak mesjid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Eng ing eng.. ternyata mesjidnya berada di belakang Hilversum Central Station. Gw cuma perlu jalan 15 menit dari stasiun dan sampailah ke mesjid itu. Namanya Meslava Moskee yang dibangun pada tahun 2003 oleh masyarakat Belanda keturunan Turki. Belanda sendiri saat ini dihuni oleh sekitar 1 juta kaum muslimin yang sebagian besar berasal dari Turki dan Maroko. Dan mesjid ini berada di daerah pemukiman masyarakat Turki, yakni di Guezenweg 27.  Bentuknya seperti gedung sekolah kecil, bedanya di bagian depan ada dua buah menara. Menara yang tinggi dilengkapi dengan toa, sementara menara yang lebih rendah letaknya agak sedikit ke belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedikit capek karena abis muter-muter jalan kaki, niat gw pengen ngasoh bentaran sambil shalat ashar. Tapi sayang disayang gw gak bisa masuk. Mesjid terkunci rapat dan gak ada murbaot alias penjaga mesjidnya. Beda bener kan ma di Indonesia yang terbuka setiap saat setiap waktu. Di bagian depan pun gak ada pengumuman apapun tentang jadwal shalat Ied buat besoknya. Dan gw pun hanya bisa moto-moto mesjid itu. Setelah tanya kiri kanan, informan gw bilang shalat akan berlangsung jam 10.00 teng !! Dutch time..</p>
<p style="text-align:justify;">Hari Minggu, setelah dibangunkan oleh sms seseorang, gw pun langsung menelpon rumah. Jam di HP berada di angka 7.30 tapi di Bogor dah jam 12.30. Minta maaf ke ortu sambil inget-inget keadaan rumah pas lebaran. Sedikit sedih tapi cukup senang dah denger suara mereka semua. Abis itu mandi, bersiap-siap, pake baju dobel-dobel karena pagi ini berkabut dan udara dingin banget. Dengan semangat 45 gw pergi tepat jam 08.00, melewatkan sarapan gw. Lima belas menit kemudian gw sampai di terminal yang letaknya di depan stasiun.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkerudung, dan jalan sedikit tergesa gw pun sampai di mesjid. Ada perasaan deg-degan dan rada aneh sedikit karena gw hanya melihat laki-laki keturunan Arab yang malang melintang di depan gw. Eng ing eng lagi&#8230; guess what &#8230; ternyata gw gak bisa shalat di situ.. Mesjid itu ternyata hanya untuk lelaki saja karena dalam budaya Turki gak ada perempuan yang ke mesjid. Gw pun putar haluan, secepatnya jalan ke stasiun dan mencari tiket buat ke Den Haag, karena kedutaan Indonesia ngadain shalat berjamaah di sana jam 10 juga. Tapi memang mungkin belum rejeki gw, gw pun terpaksa harus ngelewatin moment itu. Kereta ke Den Haag berangkat jam 09.00 dan memakan waktu 1.15 jam baik lewat Schipol Station maupun Utrecht.  Huff&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara semua hal yang gak bisa gw nikmatin saat lebaran ini, gak bisa shalat Ied di mesjidlah yang paling membuat gw sedih.  Karena gak cuma akhirnya gw bisa berdoa, bersyukur, dan merasakan suasana yang sama seperti yang gw lewatin di rumah. Tapi.. ya sutralah, toh gw juga dah tau kan harus ngalamin ini..</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya gw jalan lagi ke penginapan dan makan pagi.  Kenyang makan mie instan, susu coklat dan beberapa iris keju, gw pun memilih ngikut ajakan temen gw mengekplor  “pantai” di Bussum.. Karena letaknya agak jauh kita pun naik bis dengan waktu tempuh 20 menit. Dan sampailah kita di sana.. Ternyata pantai yang dimaksud adalah danau yang cukup besar yang dibikin seperti pantai, lengkap dengan pasirnya. Suasananya memang mirip pantai dan laut, kecuali warna air dan ombaknya ya sodara-sodara. Nama danau ini adalah Bussum Delta, dan biasa dijadiin tempat anak-anak muda Bussum berperahu layar ria karena anginnya.. dingin buanget boo&#8230; Matahari memang bersinar dan tepat berada di atas kepala gw, tapi anginnya bikin gw gak mau lama-lama lepas jaket kecuali pas sesi foto – foto.. Hehehe</p>
<p style="text-align:justify;">Dua jam menghabiskan waktu di Bussum Delta, foto-foto, ngobrol-ngobrol, gw dan rombonganpun akhirnya pulang. Mampir bentar di McD untuk beli makan siang plus malam. Mengingat gw gak punya makanan istimewa untuk lebaran ini, gw pun menghadiahi diri gw dengan dua paket cheese burger, McD nugget seharga 13 euro.. hiksss.. Tapi tadi pagi gw dapet kue lapis ding dari temen gw&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan itulah, petualangan gw hari ini di sini. Meski gak ada takbir, meski gak bisa shalat, meski gak dikelilingi orang-orang yang gw sayang, meski harus bersederhana ria, tapi Lebaran ini gw nikmati semuanya. Terima kasih buat temen-temen baru gw, para fellow Radio Netherland Training Center.. They make me cheer up.. Lagian hari selasa nanti ada perayaan (syukuran sih ya) lebaran di RNW bareng sama staff disana.. hehe lucky me&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-231" title="IMG_0505" src="http://redrena.files.wordpress.com/2009/09/img_05051.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_0505" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">redrena</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=228&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2009/09/20/menikmati-indahnya-lebaran-meski-di-hati-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2009/09/img_05051.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0505</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimanakah tempat aman bagi perempuan?</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/10/23/dimanakah-tempat-aman-bagi-perempuan/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/10/23/dimanakah-tempat-aman-bagi-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 10:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Adakah tempat aman bagi perempuan? Jika ada dimanakah ia? Di rumahnya kah? Di tempat kerjanya kah? Di sekolah? Atau bahkan tidak ada tempat aman bagi perempuan? Pagi ini, saat saya tengah duduk manis di atas becak di daerah Karang Asem, Citeureup, Bogor, saya melihat pemandangan yang mengajak saya berpikir ke depan dan ke belakang. Saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=218&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Adakah tempat aman bagi perempuan? Jika ada dimanakah ia? Di rumahnya kah? Di tempat kerjanya kah? Di sekolah? Atau bahkan tidak ada tempat aman bagi perempuan?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Pagi ini, saat saya tengah duduk manis di atas becak di daerah Karang Asem, Citeureup, Bogor, saya melihat pemandangan yang mengajak saya berpikir ke depan dan ke belakang. Saat itu becak yang saya tumpangi melintasi sebuah pabrik garmen yang tengah membuka lowongan pekerjaan. Pemandangan yang kerap saya dan kamu juga lihat saat sebuah pabrik membuka lowongan kerja adalah antrian puluhan (terkadang bahkan ratusan) orang perempuan muda dan dewasa menanti giliran mendapatkan kesempatan tes kerja.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><span id="more-218"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dari sebuah papan sederhana yang sekilas saya lihat ada empat posisi yang ditawarkan. Sebagai operator, supervisor, sampling, dan yang terakhir saya lupa karna posisinya asing di telinga saya. Di daerah ini memang terdapat beberapa pabrik (mulai dari garmen hingga odol) bercampur dengan rumah penduduk, pasar, toko kelontong dan menjadi kota kecil di wilayah Kabupaten Bogor. Antrean perempuan-perempuan itu tak ayal membuat berpikir, &#8220;Wah cukup berani juga ya pabrik itu, di zaman krisis sekarang dia berani membuka lowongan kerja. Jadi inget omongannya Kalla, sektor TPT lah yang akan menjadi pilar dan penyelamat ekonomi Indonesia di krisis ini. Benarkah?&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Anyway, saya tidak akan banyak berkomentar soal krisis ekonomi sekarang. Riset saya belum cukup dalam dan komprehensif untuk hal ini. Satu hal yang saya concern dan saya yakini juga berhubungan dengan perekonomian kita. Antrean pelamar kerja perempuan dan pekerja perempuan mengingatkan saya pada sebuah buku dan film yang baru saja saya baca dan tonton yakni buku Tangisan dari Juares (The Daughter from Juarez) dan film Bordertown.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tangisan dari Juares dan film Bordertown mengambil latar belakang kasus penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan-perempuan pekerja di pabrik- pabrik baru di kota perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat, Juarez. Mungkin film ini terinspirasi dari kisah nyata yang hingga saat ini masih terjadi di Juarez sejak tahun 1993 dan telah menelan korban lebih dari 500 nyawa perempuan. Kebanyakan mereka yang menjadi korban adalah perempuan muda dengan usia tidak lebih dari 25 tahun, bahkan ada yang masih berusia 10 tahun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Seperti halnya di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, Meksiko menjadi surga bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk memperbesar produksinya, memperbanyak pundi-pundi uangnya dengan mendirikan pabrik-pabrik di negara berkembang. Tidak hanya karna harga tenaga kerja yang murah, namun juga menjadi pasar dan sumber bahan baku yang murah. Saat inilah, kaum perempuan didorong untuk masuk dan menjadi penggerak roda industri bagi pabrikan itu hanya untuk mendapatkan beberapa dolar dalam sehari.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Namun, kondisi ini ternyata menempatkan perempuan Juarez (dan juga dari kota lain) ke dalam tempat yang berbahaya. Tidak hanya penghasilan yang minim, namun nyawa mereka pun hanya dipandang sebelah mata. Ratusan perempuan yang menjadi korban pembunuhan entah oleh siapa (ada yang mensinyalir dilakukan oleh geng pengedar narkoba yang berkeliaran di perbatasan, ada yang menyatakan dilakukan oleh supir bis, pembunuh berantai, ekspatriat yang disewa pabrik hingga pihak kepolisian), namanya hanya menjadi sekadar catatan di laci meja polisi. Pihak keluarga tidak pernah mendapatkan kejelasan siapa yang membunuh mereka. Negara, dalam hal ini pemerintah setempat dan kepolisian, tidak mau ambil pusing karna masalah ini bukanlah masalah yang penting, bahkan justru dengan mengangkatnya akan membuat para investor, pemilik pabrik melarikan investasinya ke tempat lain dengan alasan keamanan atau tuntutan tinggi terhadap keamanan para pekerjanya. Sementara para pemilik pabrik tentu saja tidak perlu merasa pusing karna urusan pekerja yang pulang ke rumah bukan lagi urusan mereka karna urusan mereka adalah ketika perempuan berada di pabrik dan menghasilkan barang-barang produksi yang bisa dijual.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di akhir halaman dan sesaat membaca credit title film, saya menghela nafas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">&#8220;Fuuhh&#8230;untung aja hal ini tidak terjadi di Indonesia..&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tapi eitsss&#8230;. jangan salah dulu Ren, belum tentu situasi di negara kita aman nyaman tentram. Kemudian saya ingat ketika saya masih di Bandung dulu. Saya sempat beberapa saat mengenal kehidupan kawan-kawan muda saya yang baru saja memulai karir mereka sebagai pekerja pabrik. Waktu itu di pabrik kaus kaki Kahatex di Cijerah. Lima orang gadis muda yang baru saja menyelesaikan sekolah mereka, berumur antara 17 &#8211; 21 tahun, berasal dari kota-kota lain di sekitaraan Bandung. Mereka mengontrak sebuah rumah di dekat pabrik, tinggal bersama, berbagi kisah di pabrik dan kehidupan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Terkadang ketika saya mengunjungi mereka, mereka bercerita tentang sulitnya pekerjaan di pabrik hingga perjalanan malam ke tempat kerja atau dari tempat kerja saat shift malam yang mengandung resiko. Bagaimana tidak, meski wilayah pabrik dan kontrakan mereka hanyalah selemparan batu, namun minimnya penerangan dan banyaknya kumpulan pemuda gak jelas yang kerap menggoda mereka menjadi tantangan saat pulang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Untuk itu mereka menyiasatinya dengan memilih pulang bersama. Memang hingga saat saya terakhir berkumpul dengan kawan-kawan muda ini, tidak pernah ada satu kejadian yang berbahaya terjadi pada mereka. Namun, kisah perjalanan mereka telah menunjukkan bahwa potensi itu tetap ada. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Hal inilah yang juga terbersit di kepala saya ketika saya melihat antrean perempuan-perempuan muda tadi. Di Citeureup masih banyak terdapat desa-desa terpencil, sulit akses jalannya yang mungkin bisa jadi tempat tinggal beberapa perempuan tadi. Apakah mereka yang diterima di pabrik itu akan juga mengalami hal yang sama?<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tidak di desa, tidak di kota, termasuk di Jakarta. Dua tahun terakhir saya menghabiskan Senin hingga Jumat, tak jarang hingga Minggu di kota ini. Perjalanan Bogor &#8211; Jakarta &#8211; Bogor pun sudah harus saya tempuh setiap hari. Dan hampir setiap hari pula saya bahkan hingga gelap menyelimuti Jakarta, masih harus berada di Jakarta, di jalanan Jakarta. Beberapa tempat yang saya lewati seperti Mangga Dua, Senen, Kampung Melayu, dan UKI adalah tempat-tempat yang rawan tindak kejahatan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Perusahaan saya belum menjadi perusahaan yang baik yang menyediakan sarana transportasi antar jemput pada karyawannya yang tinggal jauh di luar Jakarta. Nasib saya samalah dengan nasib perempuan-perempuan lain yang saya temui di Bandung, di Jakarta atau di tempat-tempat lain di kota ini, dan juga perempuan di Juarez. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Saat ini bisa dibilang sangat sedikit perusahaan yang ngeh akan keselamatan karyawannya dengan menyediakan sarana antar jemput bagi karyawan mereka. Beberapa pabrik (biasanya pabrik tekstil atau garment) menyediakan sarana antar jemput, namun hanya bagi pekerja mereka yang masuk malam. Namun hal ini kerap kali mengundang konflik di daerah setempat, yang melibatkan supir angkutan. Biasalah masalah rebutan penumpang. Huf&#8230; what a world.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Saya yakin, masih banyak hal-hal seperti ini yang terjadi di Indonesia. Mungkin berbeda kasus, tapi intinya sama, betapa mahalnya hak seorang perempuan untuk mendapatkan keamanan.  Mungkin kaum perempuan harus lebih bersatu menyuarakan kepentingan ini. Tidak hanya perempuan yang ada di pabrik, tapi juga seperti saya dan kamu. Siapa yang tak ingin selamat sampai di rumah?</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">redrena</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=218&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/10/23/dimanakah-tempat-aman-bagi-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Berbagi</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/10/20/saatnya-berbagi/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/10/20/saatnya-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 11:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mom's experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, tanggal 20 Oktober 2008, tepat satu bulan lebih satu hari dari hari kelahiran Syahrani (19 September). Baru pada hari ini kami berhasil mewujudkan keinginan Syah, yakni merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama dengan teman-teman. Bukan sebuah pesta perayaan yang besar, tapi hari inilah, harinya Syah untuk berbagi dengan teman-temannya. Dan bagian itulah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=207&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Hari ini, tanggal 20 Oktober 2008, tepat satu bulan lebih satu hari dari hari kelahiran Syahrani (19 September). Baru pada hari ini kami berhasil mewujudkan keinginan Syah, yakni merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama dengan teman-teman. Bukan sebuah pesta perayaan yang besar, tapi hari inilah, harinya Syah untuk berbagi dengan teman-temannya. Dan bagian itulah yang dengan saat antusias dilakukannya. Berikut, sedikit gambarannya&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><span id="more-207"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-209" title="syah-11" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-11.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"> Can you see that beautiful smile?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Hari ini setelah jam istirahat makan, kami menggelar pesta kecil perayaan ulang tahun Syah. Tanpa ada baju peri, tanpa ada musik anak-anak, tanpa ada tukang dongeng, tanpa ada balon dan macam-macam pernak pernik pesta toh pesta kecil itu telah membuat syah tersenyum. &#8220;Thanks bunda. Rani seneng banget hari ini. Kadonya banyak ya,&#8221; kata Syah sesampainya di rumah sebelum aku berangkat ke kantor. Ada sedikit perih saat kuiingat bahwa aku pernah berpikir untuk membatalkan pesta kecil itu. I&#8217;m so sorry Syah, please forgive me &#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><img class="alignleft size-medium wp-image-211" title="syah-21" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-21.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /> Mommy, please I&#8217;m making a wish for you&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Ada cerita di seputar kue ulang tahun Syah. Kue bertema strawberry campur-campur ini dipilih sendiri oleh Syah di sebuah toko kue di Citeureup. Mulai dari bidadari, little mermaid, another disney icon sampai foto dirinya sendiri, membuat Syah bingung memutuskan mau yang mana. Akhirnya pilihan jatuh pada kue bertema strawberry karna aku ingat dia selalu memilih sesuatu bertema strawberry. Tapi ternyata, ketika aku mengambil kue itu, sang pedangang dengan berat hati bilang bahwa stok patung strawberry habis. Jadilah cinderella, beuty n d beast bercampur baur dengan back ground buah strawberry&#8230;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-212" title="syah-3" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-3.jpg?w=224&#038;h=300" alt="" width="224" height="300" /></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"> Friends&#8230;. Be passion, I&#8217;m trying to make a slice</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Salah satu karakter Syah adalah, dia suka berbagi, terutama untuk soal makanan. Jadi, setelah kue itu kami potong, dengan cekatan dia membagikan ke teman-temannya. Untuk urusan ini dia paling cekatan, dan sekaligus menjadi masalah kami karna di setiap saat, gak peduli makanan itu harus dia makan atau tidak dia akan membaginya dengan orang lain. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dan coba diperhatikan, bibirnya tidak pernah tidak mingkem. Aku gak tau kenapa sekarang Syah suka mingkem ya? Sambil dia membagikan kue-kue, teman-temannya satu per satu menyanyikan lagu &#8211; lagu buat Syah. Wah.. aku jadi terharu&#8230; </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-213" title="syah-5" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-5.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"> Vissal&#8230; this is for you.. Hey, guys this is my cousin</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Vissal adalah sepupu Syah yang juga bersekolah di Karya Mukti. Waktu TK A mereka sekelas, namun sekarang mereka berbeda kelas. Seperti halnya pembagian kue, ketika membagikan bingkisan kecil pun Syah sangat antusias. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">&#8220;Bunda, Vissal kasih yang tempat pensil kungfu panda aja. Kalo Kayla yang Hello Kitty, yah?&#8221; </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-6.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-214" title="syah-6" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-6.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"> All the crowd..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dan inilah semua orang yang hadir dalam pesta kecil Syah. Ada mantan kepala sekolah dan wali kelasnya, ada ibuku, ada teman-temannya, dan tentu saja ada aku di sana. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Acara kecil inilah yang sejak dua tahun lalu dimintanya dan baru bisa kuwujudkan saat ini. Tidak hanya acara ini, namun kehadiranku ternyata memberikan arti untuk Syah. Hal inilah yang juga membuatku berarti di tengah segala pengabaian yang belakangan kurasakan semakin membesar.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Happy birthday Syah, I love you and thank you for your love for me&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">redrena</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=207&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/10/20/saatnya-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">syah-11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">syah-21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-3.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">syah-3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">syah-5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/10/syah-6.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">syah-6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Books to read</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/10/16/books-to-read/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/10/16/books-to-read/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 10:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman memberi kabar gembira padaku hari ini. Kakaknya akan ada tugas luar negeri ke India. Sekarang setiap mendengar kata India, yang langsung teringat olehku adalah buku. India menjadi gudang buku murah meski baik untuk buku terbitan baru maupun lama. Memang tidak semua buku di India adalah buku yang legal, maksudku seperti hal nya di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=205&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ffffff;">Seorang teman memberi kabar gembira padaku hari ini. Kakaknya akan ada tugas luar negeri ke India. Sekarang setiap mendengar kata India, yang langsung teringat olehku adalah buku. India menjadi gudang buku murah meski baik untuk buku terbitan baru maupun lama. Memang tidak semua buku di India adalah buku yang legal, maksudku seperti hal nya di Indonesia, buku &#8211; buku di India juga tidak lepas dari pembajakan. Namun, di sana buku-buku tersebut dapat kita temui di mana saja dan pemerintah India seolah-olah memang mengijinkan hal ini agar masyarakat India lebih pintar dan berwawasan luas. Rasanya hal inilah yang tidak dimiliki oleh pemerintahan kita. Dan ternyata, tidak hanya di India saja buku-buku diperjualkan dengan harga yang murah. Syamsul pernah bilang, di Manila pun harga buku-buku termasuk kategori murah.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Maka, tidak melewatkan kesempatan, kali ini pun aku titip buku ke teman kantorku itu. Ada tiga buku yang sepertinya layak baca. Midnight in the Garden of Good and Evil, The City of Falling Angels dan The White Tiger. Dua buku pertama adalah buku yang ditulis oleh seorang jurnalis dari Amerika bernama John Berendt yang baru baru ini datang ke Ubud Writers and Readers Festival 2008 . Sementara buku terakhir ditulis oleh Aravind Adiga, novelis dari India pemenang Booker Prize. Saya yakin ketiga buku ini pasti sangat mahal harganya di Indonesia. </span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Semoga saya bisa membacanya sesegera mungkin dan ikutan MENULIS &#8230; </span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">redrena</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=205&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/10/16/books-to-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saat Air Mengalir Sampai Jauh</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/saat-air-mengalir-sampai-jauh/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/saat-air-mengalir-sampai-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 09:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Be wise to our earth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak sejuk hatinya saat melihat beningnya air yang mengalir? Bisa langsung kita rasakan kesegarannya yang kadang membuat kita lupa bahwa air, sama halnya seperti manusia, tengah berada dalam situasi yang rentan, bahasa kerennya fragile, vulnerable . Lewat tulisan ini saya ingin membawa dua hal yang saling kontradiktif tentang air ini, sama halnya lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=162&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Siapa yang tidak sejuk hatinya saat melihat beningnya air yang mengalir? Bisa langsung kita rasakan kesegarannya yang kadang membuat kita lupa bahwa air, sama halnya seperti manusia, tengah berada dalam situasi yang rentan, bahasa kerennya fragile, vulnerable . Lewat tulisan ini saya ingin membawa dua hal yang saling kontradiktif tentang air ini, sama halnya lagi seperti kehidupan manusia. Sambil saya ajak berpetualang ke Sukabumi</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><span id="more-162"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/dusun-cisalimar.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-163" title="dusun-cisalimar" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/dusun-cisalimar.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Pertengahan tahun 2007, aku bersama dua orang rekanku berkesempatan mengunjungi Dusun Pandan Arum, Desa Cipete, Kabandungan, Sukabumi. Pandan Arum adalah dusun terakhir di desa itu. Letaknya tidak terlalu jauh dari Parung Kuda, hanya berjarak sekitar tiga puluh km atau empat jam perjalanan menuju wilayah Taman Nasional Gunung Halimun. Selama tiga hari dua malam aku berada di tempat itu untuk melihat salah satu pemanfaatan air modern yang dikelola oleh masyarakat desa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Meski berada hanya sepelemparan batu dari Parung Kuda, yang sudah bisa disebut kota, masyarakat Pandan Arum hingga kini belum bisa menerima jaringan listrik dari PLN. Tiga ratus keluarga atau sekitar seribu jiwa rupanya belum menarik minat PLN setempat untuk mengaliri daerah ini dengan listrik. Padahal, desa Cipete, yang notabene adalah induk dari dusun ini, telah memperoleh fasilitas tersebut. Alasan klise mengemuka, wilayah yang sulit dijangkau secara topografi dan penduduk yang sedikit, membuat dusun Pandan Arum dibenarkan untuk diabaikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sungai-cisalimar1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-165" title="sungai-cisalimar1" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sungai-cisalimar1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tepat di tengah Dusun Pandan Arum mengalir Sungai Citanian. Volume airnya cukup besar meski alirannya tidak cukup deras. Setidaknya untuk saat ini, ketika wilayah Gunung Halimun Salak yang di dalamnya terdapat hulu sungai ini masih dapat terjaga kerimbunan pohonnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Selain digunakan untuk kepentingan irigasi, Sungai Citanian sudah sejak lama digunakan sebagai sumber tenaga listrik bagi masyarakat Pandan Arum. Letak sungai yang berdekatan dengan rumah penduduk, memudahkan penduduk untuk menarik kabel dari kincir air sederhana ke rumah mereka. Kincir air sederhana inilah yang mengubah aliran air menjadi energi listrik. Sayangnya kontur Dusun Pandan Arum yang kurang berundak-undak membuat warga harus mengeluarkan tenaga ekstra agar kincir air bisa bergerak. Mereka harus membeli bensin atau solar untuk menggerakkan kincir agar air bisa mengalir.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sebelum tahun 2004, deretan kincir air bertenaga bbm sangat mudah ditemui di sepanjang aliran Sungai Citanian ini. Di satu sisi warga bisa menikmati listrik, namun di sisi lain warga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya. Dan yang pasti, hanya yang mampu secara ekonomi lah yang bisa menikmati hal ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-11.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-167" title="instalasi-mikrohidro-11" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-11.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a> <a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-22.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-170" title="instalasi-mikrohidro-22" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-22.jpg?w=72&#038;h=96" alt="" width="72" height="96" /></a> <a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-4.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-171" title="instalasi-mikrohidro-4" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-4.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a> <a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-172" title="instalasi-mikrohidro-3" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-3.jpg?w=72&#038;h=96" alt="" width="72" height="96" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sejak tahun 2004, manfaat air Sungai Citanian tidak lagi hanya untuk pengairan, atau menggerakkan kincir air. Usaha mengalirkan listrik ke dusun itu telah berkembang menjadi lebih maju dan berdaya guna luas. Tri Mumpuni, perempuan pelopor Listrik Masuk Desa, menginisiasi program penyediaan listrik dengan tenaga mikrohidro bagi masyarakat dusun ini. Tenaga mikrohidro adalah tenaga yang dihasilkan dari aliran air yang dapat dipasang di sungai kecil dan tidak memerlukan dam yang besar sehingga dampaknya terhadap lingkungan sangat kecil. Menurut Tri Mumpuni asal ada perbedaan ketinggian dalam aliran sungai tersebut maka, pembangkit energi air skala mikro dapat dibuat di sana. Listrik yang bisa dihasilkan melalui proses ini berkisar antara 5 hingga 100 KW<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">PLTMH yang dibangun di dusun Pandan Arum menghasilkan listrik sekitar tiga puluh tiga kilo watt dan dialirkan ke sekitar tiga ratus keluarga dengan penggunaan listrik yang bervariasi di masing-masing rumah, mulai dari lima puluh watt hingga dua ratus watt. Kini masyarakat Pandan Arum tidak hanya bisa menyalakan lampu, namun juga bisa menonton televisi, mengaji di mesjid desa bahkan membangun sebuah radio komunitas. </span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Saat ini pemanfaatan energi mikro hidro di Indonesia belum dilakukan secara maksimal. Padahal Indonesia memiliki stok energi mikro hidro sebesar 7.500 MW dan hanya sekitar 60 MW (2,5%) saja yang baru tergarap.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/operator-turbin3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-180" title="operator-turbin3" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/operator-turbin3.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a> <a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/pak-ahim2.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-182" title="pak-ahim2" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/pak-ahim2.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Foto di sebelah kiri atas adalah foto Madsani. Bapak enam orang anak ini adalah sang operator PLTMH. Waktu kerjanya dimulai pukul 4 sore, saat ia harus menyalakan instalasi hingga pukul 6 esok paginya saat ia harus mematikan turbin. Bersama satu orang rekannya yang lain Madsani saling berbagi giliran jaga. Ia beruntung, aliran sungai di Pandan Arum masih sangat bersih tanpa ada noda sampah sedikitpun yang dapat mengganggu jalannya turbin. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Madsani tinggal di sebuah rumah tidak jauh dari instalasi PLTMH. Pagi dan siang hari ia adalah seorang buruh tani. Upahnya sebagai operator diperolehnya dari hasil iuran warga yang memanfaatkan listrik dari PLTMH yang berkisar antara lima ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sementara itu foto berikutnya adalah foto Ahim, atau Pak Ahim. Pak Ahim adalah kepala dusun Pandan Arum yang berperan dalam menggerakkan masyarakat dusun untuk terlibat dalam pengadaan listrik murah ini.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/anak-di-empang.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-177" title="anak-di-empang" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/anak-di-empang.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /> </a><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/berharganya-air-bersih.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-178" title="berharganya-air-bersih" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/berharganya-air-bersih.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tidak hanya digunakan sebagai sumber energi, air bagi masyarakat Pandan Arum adalah segalanya. Mulai dari tempat anak-anak bermain, sumber pendapatan keluarga, hingga untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, mandi dan memasak. Air yang masih berlimpah adalah kekayaan utama yang masih dapat diperoleh secara cuma-cuma bagi masyarakat sederhana di dusun Pandan Arum.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Maklum saja, tanah dan pepohonan sudah bukan lagi milik mereka sepenuhnya. Tanah yang ada di dusun ini sudah sebagian besar menjadi milik pengusaha &#8211; pengusaha kaya dan pejabat-pejabat pemerintahan di Jakarta dan Jawa Barat. Akibatnya para penduduk lokal hanya bisa menikmati tetesan terkecil dari hasil tani dan garapan mereka karna harus membayar sewa tanah atau menjadi buruh tani. Demikian pun dengan area perkebunan teh yang ada di antara wilayah dusun dan Gunung Halimun. Perkebunan teh Nirmala nan luas itu pun hanya menyisakan sedikit hasil yang bisa dinikmati oleh para penduduk. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Ada satu kisah ketika saya tengah menunggu Widodo mengambil gambar turbin PLTMH. Seorang pria menghampiri kami berdua dan dengan mimik serius ia menawarkan tanah kepada kami. Dengan cekatan ia menunjukkan bidang-bidang tanah yang &#8220;menurutnya&#8221; masih bebas alias belum jatuh ke tangan kedua golongan masyarakat di atas. Ketika kami menanyakan mengapa ia begitu antusias menawarin kami tanah dengan entengnya ia menjawab demikian, &#8220;Habis biasa sih Mbak, Mas. Rata-rata orang Jakarta yang kesini kan pasti cari tanah. Nah, Mbak dan Mas kan dari Jakarta. Jadi mau tanah yang mana?&#8221; &#8230; Weleh weleh</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Kesederhanaan (untuk tidak menyebut sebagai tanda-tanda kemiskinan) masyarakat Pandan Arum tidak hanya berhenti pada keminiman akses mereka terhadap listrik, tapi juga terhadap berbagai sarana kehidupan yang pokok seperti pendidikan dan kesehatan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Ketika hendak menuju stasiun radio komunitas kami sempat melewati satu-satunya sekolah dan posyandu di dusun Pandan Arum, SDN Cisalimar 1 dan Posyandu Cisalimar. SDN Cisalimar 1 memiliki dua bangunan utama dan beberapa ruang kelas. Kondisi di masing-masing kelas sudah cukup mengkhawatirkan dengan jumlah kursi yang sedikit, langit-langit yang nyaris runtuh karna lapuk dan tidak berjendela. Kamera saya mengarahkan ruang kelas dari balik jendela yang berupa jeruji kawat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sementara bangunan Posyandu sangatlah sederhana dan kosong. Meski dari luar terlihat kokoh, namun di dalamnya hampir tidak tersedia apapun selain meja dan kursi. Kamera saya hanya bisa mengabadikan pintu depan Posyandu dengan papan nama yang setengah terbalik dan terkunci. Please take a look and maybe we can make something&#8230;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sdn-cisalimar1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-185" title="sdn-cisalimar1" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sdn-cisalimar1.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a> <a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sekolah-di-cisalimar.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-186" title="sekolah-di-cisalimar" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sekolah-di-cisalimar.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /> </a><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/posyandu-cipeuteuy.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-188" title="posyandu-cipeuteuy" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/posyandu-cipeuteuy.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di tengah jalan saya berpapasan dengan beberapa orang anak kecil yang sedang bermain. Terbayang langsung di benak saya bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu dan masa depan mereka di tempat tersebut. Satu masalah mungkin terselesaikan, yakni ketika anak-anak ini tidak harus lagi menggunakan lampu templok dengan cahaya seadanya di waktu malam karna listrik telah tersedia. Namun cukupkah hanya sekadar listrik untuk mengubah nasib mereka, ketika masalah-masalah yang lain belum terselesaikan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dan ketika melintasi jalan desa saat dalam perjalanan pulang, kembali satu hal merasuk dalam pikiran saya. Ketika dengan mata kepala saya sendiri saya melihat beberapa orang tengah memikul gelondongan-gelondongan kayu, saya berpikir berapa lama lagi turbin PLTMH akan bertahan? Ketika hutan Gunung Halimun semakin gundul sudah pasti akan berpengaruh pada cadangan air di hulu sungai. Lalu bagaimana nasib Sungai Citanian? Akankah masih ada aliran air yang mampu menggerakkan turbin? Akankah warga Pandan Arum tetap menikmati listrik dari sana? Atau malah mereka harus kembali ke lampu templok? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Jika tidak bisa memberikan emas pada mereka, maka janganlah kau rusak lumbungnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">redrena</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/new-water1.jpg"><br />
</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/new-water-factory1.jpg"> </a><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/stage-11.jpg"> </a><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/stage-2.jpg"> </a><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/stage-5.jpg"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=162&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/saat-air-mengalir-sampai-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/dusun-cisalimar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dusun-cisalimar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sungai-cisalimar1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sungai-cisalimar1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-11.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">instalasi-mikrohidro-11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-22.jpg?w=72" medium="image">
			<media:title type="html">instalasi-mikrohidro-22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-4.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">instalasi-mikrohidro-4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/instalasi-mikrohidro-3.jpg?w=72" medium="image">
			<media:title type="html">instalasi-mikrohidro-3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/operator-turbin3.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">operator-turbin3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/pak-ahim2.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">pak-ahim2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/anak-di-empang.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">anak-di-empang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/berharganya-air-bersih.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">berharganya-air-bersih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sdn-cisalimar1.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">sdn-cisalimar1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/sekolah-di-cisalimar.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">sekolah-di-cisalimar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/09/posyandu-cipeuteuy.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">posyandu-cipeuteuy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panas Menyengat</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/panas-menyengat/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/panas-menyengat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 07:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Be wise to our earth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta panas menyengat Gak tanggung &#8211; tanggung panasnya Setiap hari mulai dari pagi sampai malam Terlebih ketika sejak minggu ini saya terpaksa harus menikmati sengatan panasnya di siang hari, mulai dari pinggir kali CIliwung sampai Cakung BMG memperkirakan suhu antara 25 sampai 33 derajat Celcius Tapi sampai saat ini gak ada yang menjelaskan kenapa Jakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=200&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ffffff;">Jakarta panas menyengat</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Gak tanggung &#8211; tanggung panasnya</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Setiap hari mulai dari pagi sampai malam</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Terlebih ketika sejak minggu ini saya terpaksa harus menikmati sengatan panasnya di siang hari, mulai dari pinggir kali CIliwung sampai Cakung</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">BMG memperkirakan suhu antara 25 sampai 33 derajat Celcius</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Tapi sampai saat ini gak ada yang menjelaskan kenapa Jakarta bisa sedemikian panasnya</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Pemanasan bumi, perubahan iklim</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">Apakah kau merasakan hal yang sama?</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">redrena</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=200&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/10/15/panas-menyengat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Percik Semangat</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/08/26/percik-semangat/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/08/26/percik-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 12:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini bukan pagi yang cerah, meski kemarin aku sudah memperpanjang liburku. Ingatan akan lima episode talk show yang harus disyuting hari ini ditambah perasaan tidak nyaman atas kondisi kantor sejak Jumat lalu membuatku malas memulai hari. Beratlah pokoknya. Belum lagi kondisi meja kerjaku yang berantakan (well this one is absolutely my fault&#8230; hehehe). Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=149&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Pagi ini bukan pagi yang cerah, meski kemarin aku sudah memperpanjang liburku. Ingatan akan lima episode talk show yang harus disyuting hari ini ditambah perasaan tidak nyaman atas kondisi kantor sejak Jumat lalu membuatku malas memulai hari. Beratlah pokoknya. Belum lagi kondisi meja kerjaku yang berantakan (well this one is absolutely my fault&#8230; hehehe).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Namun, mataku kembali ceria sesampainya aku di depan mejaku. Sebuah majalah edisi terbaru sudah tergolek manis di sana. Bukan NG langgananku melainkan Majalah Campus Asia yang diberikan oleh atasanku, Pak Hong Tjhin. Secepat kilat aku balik-balik majalah setebal 202 halaman itu. Baru kali ini aku membaca majalah ini. Isinya adalah tentang kehidupan dunia pendidikan di berbagai wilayah Asia. Kali ini ia mengangkat mengenai Great Ideas in Education. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Secepat gerak tanganku membolak balik halaman majalah itu, secepat itu pula aku teringat akan cita-citaku. Aku berkeyakinan dan berusaha sebelum usiaku menginjak 30 tahun, aku harus menyelesaikan pendidikan pasca sarjanaku. Tahun ini, bahkan aku memfokuskan diri untuk meraihnya, minimal merintis jalan meraihnya. Uhmm.. resolusi awal tahunku kemarin ada dua yakni pindah kerja dan lolos beasiswa. Option yang pertama sudah aku eliminasi Juni lalu, ketika aku menolak pindah ke Metro TV. Jadi, fokusku memang hanya tinggal yang kedua. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tidak mudah untuk memfokuskan diri pada hal tersebut, di saat sejuta rencana, tawaran dan pekerjaan menggoda imanku, seperti saat ini. Meski belum sempat kubaca, majalah titipan tersebut telah menjadi percik semangat bagi cita-citaku. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Namun, tidak hanya itu. Pekerjaan pun telah menjadi sumber inspirasi dan percik semangat yang lain. Seperti halnya tema talk show yang kuangkat tadi, yang akan tayang Oktober nanti. Pendidikan alternatif dalam rupanya yang beragam adalah tema utama dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Argumentasiku dan bahasa yang kugunakan dalam opening talk show yang menghubungkan antara pendidikan dan Sumpah Pemuda kurang lebih seperti ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><em>&#8220;Delapan puluh tahun yang lalu tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia melahirkan satu janji kebangsaan untuk menjaga keutuhan bangsa ini, yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Hal ini membuktikan bahwa inisiatif kaum muda telah menorehkan sejarah dalam kehidupan negara Indonesia. Namun, bagaimana kondisi pemuda Indonesia saat ini? Seperti halnya delapan puluh tahun yang lalu, masalah pendidikan masih tetap membelenggu kehidupan pemuda kita. Meniti Harapan akan membahas mengenai pendidikan alternatif sebagai salah satu langkah membawa pengetahuan bagi pemuda Indonesia.&#8221;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Untuk itu, aku mengangkat lima subtema yang berhubungan dengan pendidikan alternatif, yakni Sekolah Komunitas Qaryah Tayyibah, Sekolah Kesetaraan Merah Putih, Pusat Belajar Masyarakat Rumah Dunia, Kursus Penyiaran Mantan Pecandu Narkoba After Care, Rumah Belajar Komunitas Proklamasi dan Rumah Baca Paramita. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sekolah Komunitas Qaryah Tayyibah berada di desa Kalibening, Salatiga.  Didirikan oleh mantan petani dan pada awalnya diperuntukkan untuk mengatasi  masalah pendidikan yang dihadapi oleh petani-petani di desa tersebut. Bisa  disebut sekolah ini menerapkan homeschooling bersama. Anak-anak usia 13 &#8211; 17  tahun atau yang setara kelas 1 SMP hingga 3 SMA dilatih untuk mandiri mencari  ilmu pengetahuan yang ingin mereka kuasai. Sebagian besar dari mereka akhirnya  terlatih untuk kreatif dan berkarya di bidangnya masing-masing. Seni, baik  sastra, musik maupun rupa adalah wilayah yang diminati oleh sebagian besar  anak-anak di sini. Namun tidak tertutup kesempatan bagi mereka yang menyukai  ilmu eksakta ataupun pengetahuan umum. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tidak banyak atribut yang kerap digunakan  di sekolah formal, seperti seragam, buku paket, kelas, atau gedung  sekolah. Ruang belajar dan laboratorium mereka adalah rumah penduduk dan  wilayah Desa Kalibening. Demikian juga dengan metode pengajaran. Tidak ada  sistem penjenjangan, guru lebih berperan sebagai tutor dan tidak ada forum  evaluasi yang mengacu pada sistem nilai tertentu. Saat evaluasi mereka adalah  forum ketika anak-anak ini melakukan semacam refleksi atas apa yang mereka sudah  dan belum dapatkan di sekolah mereka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sebulan sekali mereka mengadakan gelar  karya untuk memperlihatkan karya-karya yang telah mereka hasilkan dari kegiatan  belajar mereka. Anak-anak ini juga rajin menulis dan mempublikasikan karya tulis  mereka. Tidak hanya fiksi namun juga non fiksi seperti buku Lebih Baik Tidak Ada  UAN, Gus Dur di Mata Remaja dan lainnya. Meski banyak kesenangan dan kebebasan  dalam mengolah pengetahuan, anak-anak kerap merasa kurang adanya keseimbangan  dalam mendapatkan ilmu pengetahun. Menurut mereka ilmu eksakta dan pengetahuan  umum masih kurang diperoleh. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sekolah Merah Putih berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Merupakan  sekolah khusus untuk anak-anak pemulung yang berasal dari sekitar 33 lapak  pemulung di sekitar Lebak Bulus dan Pondok Labu. Konsep sekolah ini  adalah pendidikan luar sekolah yang didirikan oleh seorang notaris pasar modal  yang ingin menjadi relawan Tzu Chi, R.Ayu Tri Wahyuniati Subali. Dibangun pada  tahun 2006 saat ini jumlah siswanya telah mencapai 350 orang mulai dari tingkat  taman kanak-kanak hingga SMU. Meski konsepnya pendidikan luar sekolah,  namun Sekolah Merah Putih berusaha menerapkan pendidikan yang setara dengan  sekolah formal namun dilengkapi dengan life skill untuk membantu anak-anak  pemulung ini keluar dari lembah kemiskinan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sekolah ini membebaskan  murid-muridnya dari biaya pendidikan. Pemberian life skill di tempat ini antara  lain dengan membuka kebun bersama di mana hasil kebun dapat dinikmati oleh  murid-murid, pembuatan kompos yang bisa dijual, hingga daur ulang plastik.  Berbagai latar belakang anak-anak ada di tempat ini, tidak hanya berasal dari  keluarga pemulung, tapi juga anak-anak dengan latar belakang korban kekerasan  dalam rumah tangga, korban pelecehan seksual, traffiking, dsb. Selain itu,  banyak dari mereka yang juga putus sekolah.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Untuk menjauhkan dan membuka jalan hidup baru bagi para mantan  pecandu narkoba, beberapa dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara membuat satu  metode pembelajaran bagi para mantan pencandu narkoba. Mereka membuka kelas  broadcast sebagai tempat belajar dan kembali berkarya. Kursus selama tiga bulan  ini memberikan kesempatan bagi para mantan junkie untuk bisa membuat film  pendek, atau film iklan sehingga mereka memiliki aktivitas lain yang lebih  positif. </span></p>
<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ffffff;"> Rumah Belajar Komunitas Proklamasi didirikan oleh Yayasan Nurani Dunia,  pimpinan sosiolog Imam Prasodjo. Bertempat di Kampung Bonang, Kelurahan  Pesanggrahan, Menteng, Rumah Belajar Komunitas Proklamasi didirikan dalam upaya  memberdayakan masyarakat Kampung Bonang yang sangat rentan konflik dan masalah  sosial seperti narkoba, tawuran, pengangguran hingga angka penderita HIV/AIDS  yang cukup tinggi. Melalui jalur pendidikan mereka bersama dengan masyarakat  sekitar berupaya mendamaikan kampung, mencegah peningkatan pengguna narkoba dan  penderita HIV/AIDS, memberdayakan masyarakat dalam bidang ekonomi. </span></div>
<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ffffff;">Selain rumah  belajar untuk anak-anak usia sekolah, di beberapa area di tempat ini juga  terdapat sudut-sudut tempat membaca masyarakat seperti di gardu ilmu (dulunya  bekas gardu hansip), DPR (Daerah Pinggiran Rel) yang berfungsi sebagai perpustakaan sekaligus sanggar seni, dan pos ilmu  (tempat mangkal tukang ojek yang juga dilengkapi buku bacaan). Tidak hanya  relawan Nurani Dunia, seorang mantan pencandu narkoba pun ikut serta menggawangi  dan menginisiasi program yang berencana membangun 100 pos ilmu di seluruh  kampung dan menjadikan Kampung Bonang sebagai Kampung Ilmu.</span></div>
<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ffffff;"> </span></div>
<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ffffff;">Jika Komunitas Proklamasi fokus pada pemberdayaan masyarakat yang  mandiri, maka Yayasan Sutra Bakti melalui Rumah Baca Paramita membangun dua  buah taman bacaan masyarakat di Tangerang dan Bekasi. Rumah Baca ini  diperuntukkan bagi anak-anak miskin yang tinggal di wilayah Tangerang dan Bekasi  (tepatnya di Babelan) untuk menambah pengetahuan masyarakat setempat. </span></div>
<div style="text-align:justify;">
<p><span style="color:#ffffff;">Tidak  hanya memancing masyarakat melalui bacaan, upaya membantu memecahkan problem  sosial dilakukan dengan memberikan bibit tanaman kepada masyarakat. Diharapkan  melalui pembagian bibit tanaman produktif (pohon belimbing) tidak  hanya berfungsi melestarikan lingkungan alam, tapi juga berupaya  meningkatkan perekonomian masyarakat melalui hasil jual buah-buahan tersebut.</span></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Rumah Dunia sebuah learning center di kota Serang Banten didirikan oleh penulis  novel Gola Gong atau Heri Henrayana Harris. Di tempat ini Gola Gong bersama  dengan istrinya yang juga penulis Tyas Tantaka  berupaya membuat tempat belajar  masyarakat dan perpustakaan umum. Dengan semangat berbagi mereka bersama dengan  relawan yang sebagian besar adalah mahasiswa universitas setempat membuka  kesempatan yang luas bagi masyarakat sekitar dan juga di luar kota Serang untuk  belajar menulis karya sastra, jurnalistik, membuat film, berlatih teater, seni  rupa atau hanya membaca sekitar 5000 koleksi buku sumbangan dari berbagai  pihak. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Mantan tim kreatif RCTI yang kini tengah menjalani perawatan akibat  pengapuran tulang yang dideritanya ini juga kerap mengadakan berbagai  kegiatan diskusi sastra ataupun permasalahan sosial. Ode Kampung, demikian forum  yang secara rutin diadakannya setahun sekali pada November ini akan mengangkat  mengenai keberadaan TBM atau Taman Bacaan Masyarakat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di akhir hari saat saya menuliskan posting ini, saya jadi berefleksi. Sudah selayaknya pendidikan lanjutan yang akan saya tempuh suatu saat nanti bukan dilakukan untuk meraih gelar kesarjanaan semata. Tapi apapun yang saya dapat dari pendidikan tersebut sudah seharusnya saya gunakan untuk membayar hutang saya bagi anak-anak lain agar menjadi berarti.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-150" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/08/sekolah-merah-putih.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-151" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/08/komunitas-proklamasi.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">sekolah merah putih       rumah belajar komunitas proklamasi</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#ff0000;">redrena</span><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/redrena.wordpress.com/149/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/redrena.wordpress.com/149/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=149&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/08/26/percik-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/08/sekolah-merah-putih.jpg?w=128" medium="image" />

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/08/komunitas-proklamasi.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Haru</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/07/21/haru/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/07/21/haru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 12:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mom's experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa minggu terakhir perasaan saya bagaikan orang yang naik roller coaster di taman hiburan. Ini masih terkait dengan pekerjaan saya kali ini yang mengangkat anak-anak muda yang berprestasi. Jika kemarin saya menuliskan tentang terlukanya hati anak-anak kita atas ketidakadilan yang harus mereka terima dan juga membuat hati saya terluka, hari ini saya sangat terharu. Terharu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=135&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Beberapa minggu terakhir perasaan saya bagaikan orang yang naik roller coaster di taman hiburan. Ini masih terkait dengan pekerjaan saya kali ini yang mengangkat anak-anak muda yang berprestasi. Jika kemarin saya menuliskan tentang terlukanya hati anak-anak kita atas ketidakadilan yang harus mereka terima dan juga membuat hati saya terluka, hari ini saya sangat terharu. Terharu karna dalam setiap luka itu ada setitik cahaya yang memberi harapan pada hati anak-anak yang lain yang terluka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><span id="more-135"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Jumat Sore saya memenuhi janji saya bertemu dengan Juliawati Jati, 16 tahun penyandang tuna grahita. Sore itu selain berbincang-bincang dengan Juli saya juga akan mengambil gambarnya ketika sedang latihan renang. Bersama Widodo saya meluncur ke Danau Sunter Sport Center. Setibanya di sana saya tidak hanya bertemu dengan Juli, sudah menunggu beberapa anak &#8211; anak lain yang juga akan melakukan ritual yang sama dengan Juli. Latihan renang rutin dua kali seminggu yang dilakukan oleh anak-anak yang tergabung dalam Special Olympic Indonesia (SOIna). Oh ya, bagi yang belum membaca postingan saya sebelumnya Juli ini adalah pemenang medali perak Junior Special Olympic di Australia 2008 dan juara keempat Special Olympic di Shanghai, Cina 2007. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sekitar tujuh orang anak-anak berkebutuhan khusus seperti down sindrom dan autis berlatih renang bersama dengan Juli. Dua orang pelatih dari Universitas Negeri Jakarta mendampingi mereka. Selama menunggu mereka latihan dan Widodo mengambil gambar aku berbincang dengan Ibu Iih atau yang biasa dipanggil Tante Iih. Usia dua tahun Juli sudah diterbangkan dari Sampit, Kalimantan Timur, berpisah dari orang tuanya dan dirawat di Jakarta bersama dengan Tante Iih. Tidak ada sekolah dan tempat terapi adalah satu dari beberapa alasan lain yang mendasari Juli harus tinggal terpisah dari orang tuanya. Orang tua Juli tidak ingin nasib Juli seperti nasib kakak tertuanya yang harus meninggal dunia ketika berusia tiga tahun akibat penyakit yang sama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Namun, meski jauh terpisah, kasih orang tua tidak pernah lepas dari Juli. Setidaknya dia dapatkan itu dari Tante Iih. &#8220;Saya hanya ingin dia mendapatkan kesempatan, bisa mandiri dan percaya diri.&#8221; Sebuah harapan yang kerap saya dengar dari orang tua anak-anak berkebutuhan khusus, melihat aspek-aspek dalam kehidupan ini tidak ramah terhadap mereka. Untuk itu sejak kecil Tante Iih tidak ingin Juli bermanja &#8211; manja. Berbagai kegiatan dilakukan Juli, mulai dari sekolah di SLB Dian Grahita, menari, bermain musik seperti organ, keyboard, angklung, hingga olah raga. Dan di dunia yang terakhirlah Juli menuai prestasi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><a href="http://redrena.files.wordpress.com/2008/07/juli2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-140" src="http://redrena.files.wordpress.com/2008/07/juli2.jpg?w=120&#038;h=96" alt="" width="120" height="96" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"> <em></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><em> ( Melihat aku berbicang dengan tantenya, Juli langsung memanggilku dan mengajak </em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><em> berkenalan. So friendly )</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Obrolanku dengan Tante Iih sesekali disela dengan percakapanku dengan orang tua lain yang tengah menunggu anak-anaknya berlatih. Atau disela oleh teriakan pelatih renang yang memanggil satu per satu anak-anak untuk berenang bersama dengan yang lainnya. Orang tua Janneth bercerita padaku, tidak seperti Juli Janneth, penderita down sindrom, lebih menyukai sesuatu yang berbau seni, seperti bermain piano dan menulis. Di setiap kesempatan ia menulis apapun yang dipikirkann</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">ya. Tidak hanya itu, Janneth pun sangat disiplin dan mandiri. Baginya Janneth tidaklah berbeda dengan anak-anak yang lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Demikian juga dengan Ibu Lily orang tua Sasha, gadis berumur 19 tahun. Akibat tubuhnya dimasuki oleh satu jenis virus tak dikenal dan tak terdeteksi, daya tangkap dan bicaranya menurun drastis ketika Sasha berumur 2 tahun. Seperti halnya Tante Iih dan orang tua Janneth, Ibu Lily tidak menyerah. Sasha digembleng seperti halnya anak yang lain, meski disesuaikan dengan kemampuan fisik dan mental mereka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dalam setiap detik perbincangan saya dengan para orang tua anak-anak berkebutuhan khusus ini, saya menyadari betapa kebesaran hati untuk menerima adalah sebuah modal utama. Setelah itu perjuangan dan usaha keras. Dan ketika mereka diberikan kesempatan, kepercayaan sediki demi sedikit kita akan melihat bahwa mereka juga akan memberikan kebahagiaan itu bagi kita. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah kerja keras. Di titik inilah, saya terharu untuk yang pertama kalinya hari itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Jam lima sore latihan renang selesai. Saya bersama tim kecil berangkat menuju persinggahan berikutnya yakni rumah Juli di Petojo Selatan. Hari itu kami ingin melihat medali yang pernah didapatkan Juli dan melihat Juli bermain alat musik. Dengan kata-kata yang terbatas yang keluar dari mulutnya, Juli menjawab pertanyaan-pertanyaan singkatku. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">&#8220;Harap maklum ya Mba. Daya tangkapnya memang segitu. Ditambah dia pemalu. Tapi sejak ikut berbagai kompetisi rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit meningkat. Itu saja sudah membuat saya senang,&#8221; ungkap Tante Iih sembari terus mengingatkan Juli untuk mengangkat kepalanya ketika berbicara dengan lawan bicara. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tak lama medali yang pernah didapatkan Juli dikeluarkan dari kamarnya. Cukup banyak juga ternyata. Ada yang tingkat nasional, ada pula yang internasional. Tak bosan-bosan Juli, kata Tantenya, melihat-lihat medalinya, memakainya kembali, mengaguminya. Dasar anak-anak&#8230; kataku dalam hati. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dan tak butuh waktu lama lagi untukku merasa terharu untuk yang kedua kalinya. Juli mulai memperagakan kebisaannya yang lain. Bermain keyboard, sebenarnya ada dua pilihan keyboard atau organ. Tapi keyboard lebih dekat dari jangkauan kami, jadilah Juli memilih alat itu. Satu hal yang membuatku terpukau, Juli seperti tidak mengenal kata lelah. Bayangkan dari jam 7 pagi dia sudah mulai aktivitasnya dengan bersekolah, jam 1 siang dia pulang sekolah dan langsung berlatih menari. Jam 3 sampai 5 dia latihan renang. Full dua jam kulihat dia di dalam kolam. Energi dari mana anak yang satu ini ya?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dua lagu yang dia bawakan. Satu lagu milik Ahmad Dhani, dan satu lagu lagi berjudul Nona Manis. Jemarinya sangat cekatan. Dan dua lagu itu dibawakannya tanpa melihat catatan, alias menghafal. Berdiri di belakangnya aku merasa ya.. benar tidak ada yang tidak dapat dilakukan oleh mereka. Mereka bisa melakukan segala sesuatu, hanya saja daya tangkapnya tidak secepat anak-anak atau orang-orang biasa. Sabar.. sabar dan sabar.. Tapi bukankah itu juga yang kita butuhkan, meskipun kita manusia normal?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di balik rasa haru yang keluar karna moment itu, aku jadi teringat Syahrani. Betapa berdosanya saya jika menyia-nyiakan apa yang dimiliki Syah saat ini. Meski untuk itu saya harus bekerja lebih giat lagi, lebih sabar lagi, dan lebih kuat lagi. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tapi bagaimana dengan anak-anak yang lain? Pada siapa mereka bisa bergantung?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">redrena</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/redrena.wordpress.com/135/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/redrena.wordpress.com/135/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=135&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/07/21/haru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://redrena.files.wordpress.com/2008/07/juli2.jpg?w=120" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Yang Muda Yang Berprestasi</title>
		<link>http://redrena.wordpress.com/2008/07/18/yang-muda-yang-berprestasi/</link>
		<comments>http://redrena.wordpress.com/2008/07/18/yang-muda-yang-berprestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 04:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redrena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Colours of my life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://redrena.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Bulan ini saya mempersiapkan materi untuk talk show Meniti Harapan bulan Agustus nanti. Tema yang diangkat adalah anak-anak yang berprestasi yang bisa menjadi sumber inspirasi. Tema ini kami persembahkan sebagai hadiah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Ada empat tema yang akan kami angkat dan disiarkan setiap minggu. Tema atau profil yang akan diangkat adalah Tobi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=131&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Bulan ini saya mempersiapkan materi untuk talk show Meniti Harapan bulan Agustus nanti. Tema yang diangkat adalah anak-anak yang berprestasi yang bisa menjadi sumber inspirasi. Tema ini kami persembahkan sebagai hadiah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Ada empat tema yang akan kami angkat dan disiarkan setiap minggu. Tema atau profil yang akan diangkat adalah Tobi Moektijono, Rizka Feryani Ciptaningrum dan Juliawati Jati, Aulia Reza dan Yurgen Alifia, serta Richi dan Linda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;"><span id="more-131"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tobi Moektijono, peraih medali emas Olimpiade Matematika tingkat sekolah dasar 2005 adalah seorang penulis buku kumpulan soal unik matematika. Sejak kelas 4 SD ia telah mulai membuat soal matematika yang sedikit demi sedikit dikumpulkan oleh Grace Oviana Surjadi, ibunya. Dan ketika Tobi kelas 6 SD, dengan biaya sendiri ia menerbitkan kumpulan soal-soal matematika buatannya sekaligus kunci jawabannya. Tidak hanya satu buku, Tobi saat ini sudah menerbitkan dua buku kumpulan soal matematika. Kini Tobi duduk di kelas 9 SMP Kolose Kanisius Jakarta dan tengah mempersiapkan mengikuti ajang Olimpiade Matematika Tingkat SMU tahun depan. Penerima Piagam Satyalancana WIra Karya ini bercita-cita menjadi medical engineering.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Profil kedua adalah Rizka Feryani Ciptaningrum dan Juliwati Jati. Rizka dan Juli adalah peraih medali emas dan perunggu di Special Olympic 2007 di Shanghai Cina. Rizka meraih medali emas untuk cabang olah raga tenis meja, sedangkan Juli peraih medali perunggu untuk cabang atletik. Rizka dan Juli adalah penyandang tuna grahita. Namun kondisi ini tidak menghalangi kedua orang muda ini untuk berprestasi di bidangnya. Berdasarkan catatan Special Olympic Indonesia (SOIna) tinta emas Indonesia dalam ajang internasional ini kerap kali diukir oleh para atlit usia muda. Seperti halnya atlit yang lain, atlit SOIna juga berlatih keras. Kelemahan yang mereka miliki tidak lantas membuat beban latihan berkurang. Meningkatkan kepercayaan diri dan memeratakan kesempatan adalah tujuan utama diselenggarakannya kegiatan yang digagas oleh keluarga Kennedy ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di luar kegiatan keolahragaan, Rizka dan Juli juga tetap menjalankan aktivitas pengembangan diri. Rizka baru saja menyelesaikan pendidikannya di SLB Budidaya Cijantung. Sementara Juli masih tercatat sebagai pelajar di SLB Dian Grahita.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Profil Ketiga adalah Aulia Reza dan Yurgen Afilia. Aulia Reza siswa kelas 3 SMA Kharisma Bangsa di Serpong adalah peraih medali emas dalam Olimpiade Lingkungan di Azerbaizan pada 2007. Rumah kaca otomatis buatannya telah berhasil memukau tim dewan juri. Sementara Yurgen Afilia (bersama dengan dua rekannya yang lain yang salah satunya adalah Reza) meraih medali perunggu dalam kompetisi Sains International Sustainable Suistanable World Energy, Engineering, Environement Project di Houston pada 2008. Tim Yurgen membuat satu alat penarik ion-ion negatif dari udaara seperti asap rokok. Satu penemuan baru untuk membatu mengatasi masalah kenyamanan udara bagi mereka perokok pasif. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Baik Reza maupun Yurgen lagi-lagi harus dengan bermodal usaha dan perjuangan sendiri untuk ikut bertarung dalam kompetisi yang akhirnya dimenangkan oleh mereka. Biaya penelitian, pembuatan project hingga keberangkatan ke Azerbaizan dan Amerika semuanya atas biaya mereka sendiri dan pihak sekolah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Profil keempat adalah Richi dan Linda, keduanya adalah atlit Indonesia sekaligus pelajar di SMP Ragunan. Keduanya juga menuai prestasi yang tak kalah gemilang. Richi peraih medali emas bagi tim taekwondo Indonesia di Turki, sementara Linda meraih medali emas untuk cabang olah raga voli. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Di luar anak-anak tersebut saya yakin pasti kita telah sering mendengar prestasi-prestasi gemilang yang telah diraih oleh mereka. Jakarta Post yang terbit hari ini (Jumat, 18 Juli) misalnya memuat fot berita tim matematika tingkat dasar Indonesia yang baru saja mengikuti Kompetisi Matematika Internasional di Po Leng Kuk, Hongkong pada 12-16 Juli 2008. Tim kecil ini berhasil membawa lima medali emas dan satu medali perak dalam ajang yang bergengsi ini (berdasarkan pengalaman ibunda Tobi, Ibu Grace yang anaknya juga meraih medali perunggu di ajang ini).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Tidak hanya matematika, atau olah raga, tentu kita sangat familiar dengan nama Yohanes Suryo bersama dengan tim Olimpiade Fisika dan Kimianya ke berbagai ajang di luar negeri. Mereka pun pulang tidak dengan tangan hampa. Baik mereka yang berpunya ataupun tidak berpunya semuanya ikut serta menunjukkan sumbangsihnya bagi negeri ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Sayangnya, seperti halnya hati masyarakat Indonesia yang lainnya, hati anak-anak muda ini pun sering kali tersakiti oleh negara ini. Lebih tepatnya oleh pemerintah negara ini. Pertama, tidak sedikit di antara mereka yang harus berjuang sendiri, baik dengan usaha dan modal sendiri mengikuti berbagai kompetisi tersebut. Tentu kita tidak lagi memperdebatkan pentingkah anak-anak kita mengikuti kompetisi itu. Yang jelas mengembangkan sains dan berpikir logis memang masih sangat dibutuhkan di negeri yang lebih banyak diisi oleh hal-hal tidak logis ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Reza misalnya, seperti yang telah saya sebutkan untuk membuat rumah kaca otomatisnya ia harus membiayainya sendiri dibantu oleh sekolah. Demikian pula saat ia mengikuti kompetisi di Azerbaizan. Yurgen sebelas dua belas (alias sama saja nasibnya). Tobi, menerbitkan buku pertama kumpulan soal matematika dengan uangnya sendiri (yah uang orang tuanya sih). Meski kemudian setelah memenangkan Olimpiade ia mendapatkan pembimbing dari DIknas. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Rizka dan Juli dari SOIna, mereka lebih tragis lagi. SOIna sendiri sebenarnya berbentuk seperti NGO, yang menyalurkan bakat olah raga bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk mengikuti berbagai kompetisi, bahkan pelatnas atau latihan sehari-hari saja mereka harus membiayai semuanya sendiri. Atau dengan bantuan sponsor. Negara? Baru pada SOIna di Shanghai kemarin negara &#8220;mau sedikit&#8221; membantu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Jika ada pepatah yang menyatakan apa yang telah kita (masyarakat) ini berikan bagi negara? Maka lebih pantaslah jika saya bertanya apa yang negara ini sudah berikan bagi masyarakat, bagi pemuda kita, bagi rakyat kita? Bukan kepada sebagian orang yang menjadi konglomerat yang telah menghisap sumber daya dan manusia kita masih ditambah dengan meninggalkan hutang yang tidak akan habis dibayar tujuh turunan. Bukan .. bukan itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Dalam satu wawancara dengan orang tua Tobi, Bapak Heru menjawab pertanyaan standar saya tentang impian dan harapan mereka terhadap anaknya. Jawabnya simple saja. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">&#8220;Bagi saya ya Mba, yang penting adalah Tobi benar-benar bisa bermanfaat bagi orang banyak, bagi masyarakat. Nah masyarakat itu kan gak cuma Indonesia saja. Dia bisa berkarya dan karyanya itu berguna bagi orang banyak. Jika satu waktu dia memutuskan untuk berkarya di Indonesia tentu saja itu adalah pilihan yang baik karna pasti banyak sekali yang membutuhkannya disini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Kelu hati saya. Saya tidak tahu apakah Pak Heru ini termasuk orang yang juga terluka hatinya. Ketika anak-anak kita berteriak-teriak kecewa ketika mereka gagal dalam ujian nasional, saya tahu mereka terluka. Ketika anak-anak harus mengambil keputusan keluar sekolah karna harus bekerja atau uang yang tidak cukup untuk sekolah, saya tahu mereka terluka. Ketika anak-anak harus belajar di kolong jembatan, di pinggir tempat pembuangan sampah, di pinggir rel, saya juga tau mereka terluka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">Namun yang lebih melukakan adalah ketika kita sudah berbuat sesuatu tetapi kita disia-siakan. Lukanya tak terperikan. Tapi luka itu tidak menggelapkan cahaya semangat mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">redrena </span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/redrena.wordpress.com/131/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/redrena.wordpress.com/131/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/redrena.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/redrena.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=redrena.wordpress.com&amp;blog=2944121&amp;post=131&amp;subd=redrena&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://redrena.wordpress.com/2008/07/18/yang-muda-yang-berprestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84c1e4743c4109e5c587f15afa89367f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">redrena</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
