Sick experience

Menjadi sakit memang menyeramkan, tapi dalam setiap pengalaman sakit selalu ada cerita yang dapat kita bagi. Tiga hari yang lalu aku harus mengalami hal itu. Bukan penyakit yang berat, hanya serangan diare akibat masuk angin dan salah makan. Dua hari istirahat total di tempat tidur, sambil sesekali setor muka ke kamar mandi, membuatku “ngeh” akan kondisi di rumah.

Seperti kamar yang berantakan karna seminggu belum aku rapikan, tanaman di depan rumah yang mulai melayu karna terlalu banyak kena air, atau jalan setapak tak bergot yang kian hari kian tak jelas bentuknya karna aspal terkikis derasnya air hujan. Harap maklum aku jadi seperti orang yang anti sosial, kelakuan kaum komuter yang harus puas hanya bertemu malam di rumah, tanpa pernah melihat siang.

Tapi bukan itu yang ingin aku bagi. Tepat sehari sesudah aku sembuh, Syah mendadak memunculkan gejala-gejala sakit. Sore hari setelah bangun tidur, Syah mulai muntah-muntah. Padahal sebelumnya, bahkan sebelum tidur, Syah masih segar bugar, menyanyikan lagu idola cilik. Hingga malam, muntah-muntahnya tak kunjung reda. Malah semakin tak terhentikan meski yang keluar hanya tinggal air yang sebelumnya ia minum. Malam itu Syah gak mau tidur. Hanya minum dan minta digendong. Duhh… betapa sedihnya.

“Perut rani sakit bun. Gak bisa tidur. Mau muntah lagi…” hanya itu saja yang bisa dia ucapkan.

Semalaman suntuk aku gendong dia. Mungkin dengan digendong, tekanan di perutnya tidak membuat dia sakit. Atau mungkin dengan digendong, tubuhnya serasa dipeluk seperti kanguru. Atau mungkin dengan digendong, Syah merasa selalu ditemani. Dan puluhan mungkin mungkin yang lain… Hhhh … lumayan juga kan gendong anak 4 tahun semalaman suntuk.

Saat digendong, gak sadar Syah ngomong begini….

“Bund, janji ya. Bunda gak marah-marah sama rani lagi kalau rani sembuh nanti.” Plash !

Aku baru inget, sehari sebelumnya aku sempat marah besar sama Syah. Padahal cuma gara-gara Syah rewel ketika dia harus mengerjakan pr-nya. Tapi ternyata dia masih ingat kejadian itu, dan di saat sakitnya, Syah meminta janjiku untuk tidak lagi bersikap kasar padanya.

Syaharani .. syahrani… u really remind me for being a good parent, even when you’re sick.

Jika pengalaman sakit banyak memberi kita pelajaran bagaimana lebih menghargai tubuh ketika sehat, pengalaman sakitku kali ini memberi pelajaran tentang bersikap lebih sabar dan peka pada anak kita.

I always try to be honest to her. always try to be open. tidak malu meminta maaf jika aku bersikap salah. Berusaha memberikan model hubungan ibu dan anak yang berbeda dengan yang dipraktekkan orang tuaku. Sehingga kadang batas antara ibu dan anak tidak begitu tegas.

Tapi yah tetap saja.. masalah utama adalah masalah kesabaran. Masalah ego orang tua yang terkoyak ketika anaknya hanya menolak sedikit saja keinginannya. I’m still young, but I hope I still have enough time to fix it. Before I hurt her more.

Thanks to remind ur mom, Syah.

Hari selanjutnya, aku check ternyata Syah sakit gangguan pencernaan, akibat salah makan. Thanks god it wasn’t bcoz i got mad on her.

redrena

~ by redrena on February 28, 2008.

2 Responses to “Sick experience”

  1. ouuuu.. cooo cweeeet… i hope i have that kind of experience someday..🙂

    you are a very good mom, pal!

  2. Begitulah seharusnya orang tua…Jangan hanya marah-marah & marah…itulah sifat anak2 selalu ingin disayang & dimanja oleh orang tuanya…Be good…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: