Belajar dari Subang

Sewaktu membuka file-file lamaku, ada satu tulisan yang lama yang sudah dimuat di Harian Bisnis Indonesia. Cukup menarik untuk mulai belajar dari kisah mereka.

Mekar Saluyu, Koperasi Perempuan Beraset Rp 2 Miliar

Berawal dari rasa simpati yang dirasakannya terhadap nasib kaum perempuan di desanya yang kekurangan dalam hal ekonomi, Een Kurniawti, lulusan Sekolah Rakyat, tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Yaitu usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan puluhan perempuan tani di desanya, Desa Jambelaer Kecamata Kalijati Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Maka tercetuslah sebuah koperasi, yang kemudian diwudukannya bersama 20 orang perempuan tani teman-teman pengajiannya di Kampung Cihuni. Dengan modal awal Rp 20.000 per orang, Een membangun koperasi pada 1986 yang saat itu masih berupa perkumpulan ibu-ibu.

“Mengapa dipilih model koperasi, soalnya koperasi memang sudah tidak asing lagi bagi kami, warga subang. Hanya saja waktu itu belum ada koperasi untuk kaum perempuannya,”ungkapnya.

Een, yang lulusan Sekolah Rakyatmengatakan saat itu perempuan sekitarnya kebanyakan sebagai buruh tani dan pedagang kecil yang memiliki kesulitan permodalan untuk usahanya. Selain itu mereka juga berusaha kecil-kecilan dengan membuat keripik singkong.

Identifikasi masalah waktu itu terungkap, perempuan tani kesulitan untuk membeli bahan-bahan pertanian dan perempuan pedagang kesulitan mendapatkan modal awal untuk berjualan.

Awalnhya modal koperasi hanay dari anggota, tidak ada pengajuan proposal kredit ke bank atau ke manapun. Kemudian secara bertahap perkumpulan kecil itu berkembang ke wilayah kampung sekitarnya. Hingga anggota yang tadinya hanya 20 orang meningkat menjadi 200 orang perempuan dengan modal usahaRp 200.000 per orang.

Perkumpulan yang menjadi cikal bakal koperasi tersebut diberi nama Perusahaan Ibu-ibu Cihuni. Hingga akhirnya pada1998 perkumpulan tersebut menjadi sebuah badan hukum dengan nama Koperasi Wanita Mekar Saluyu.

Karena perkembangannya yang pesat, pada tahun 1992-1993 International Labour Organization tertarik untuk melakukan pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan pada para pengelola kelompok perempuan ini.

Namun demikian, adanya bantuan dari ILO, tidak serta merta membuat pembangunan koperasi ini menjadi lebih mudah, karna dalam perjalannya sempat mengalami berbagai rintangan. Mulai dari anggota yang tidak mengembalikan pinjaman dikarenakan dihalang-halangi oleh sang suami, hingga anggota yang bermasalah dalam hal keuangan.

“Gak ada kiat khusus sih. Paling ya pendekatan sesama perempuan, tidak menjauhi atau membenci yang bermasalah karena pasti mereka akan lari,” ungkapnya. Kiat-kiat semacam itu ternyata menjadikan koperasi Mekar Saluyu menjadi solid dan berkembang lebih luas di kalangan perempuan.

Een yang berputera tiga orang tersebut, mengungkapkan untuk memperkuat keberadaan koperasi di tengah-tengah masyarakat petani, langkah awal yang ditempuh dengan memberikan pengertian arti koperasi.

“Setiap kali anggota meminjam, mereka harus diberikan pengertian dan pembinaan mengenai apa itu koperasi, pentingnya koperasi bagi mereka, dan alokasi uang yang ada di koperasi. Apalagi prinsip awal koperasi bentukkannya adalah demi kesejahteraan perempuan Desa Jembelaer,” katanya.

Langkah lanjutan yang dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan kepada koperasi yaitu setiap anggota yang melakukan pinjaman selalu memberikan jaminan dan diketahui oleh saksi. Hal ini dilakukan untuk menjaga keterbukaan dan menumbuhkan tanggung jawab bagi anggota.

Berdasarkan kesepakatan bersama, koperasi menetapkan biaya 4% per bulan bagi setiap pinjaman. “Bunga itu untuk jaminan kesejahteraan anggota dan akan dibagikan saat Rapat Akhir Tahun yang selalu berjalan sesuai jadwal yakni setiap awal tahun berikutnya.”

Kiat Een agar koperasi berjalan dengan tertib adalah menyeleksi mereka yang ingin masuk menjadi anggota. Caranya, melalui seleksi yang dilakukan kelompok yang ada di masing-masing kampung. “Jadi jika penduduk yang ingin masuk koperasi dinilai buruk, maka dia tidak bisa masuk koperasi kami,” ungkap perempuan kelahiran 25 Januari 1950 ini.

Koperasi yang kini memiliki aset hingga Rp 2 miliar ini telah beranggotakan lebih dari 1.200 orang perempuan yang tersebar di sepuluh kampung dalam empat desa di wilayah Kabupaten Subang. Unit usahanyapun telah meluas, mencakup usaha penjualan sarana produksi pertanian (pupuk, bibit), jasa sewa peralatan pesta, hingga usaha sembako.

Karena telah menjadi badan huku,, pada tahun 1998 Koperasi Wanita Mekar Saluyu menerima bantuan dari dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jabar Rp 100 juta. “Kami ditunjuk oleh Dinkop untuk mengelola dana dari program subsidi BBM tapi secara resmi kami tidak pernah meminta bantuan dana untuk mengembangkan koperasi. Dana yang dari anggota sudah cukup untuk operasional dan usaha.”

Bangun Kantor

Belakangan Koperasi Mekar Saluyu baru saja menyelesaikan pembangunan kantor barunya di Desa Jambelaer yang menghabiskan dana sebesar Rp 150 juta yang berasal dari sisa hasil usaha.

Saat ini Koperasi Wanita Mekar Saluyu menjadi salah satu koperasi yang menandatangi Deklasari KUKM Perempuan di Jawa Barat. Dengan demikian koperasi ini mendukup usaha peningkatan pemberdayaan perempuan melalui unit koperasi dan UKM untuk meningkatkan taraf hidup perempuan Jabar.

Berbagai bentuk penghargaan telah diterima Koperasi Wanita Mekar Saluyu untuk prestasi yang telah dicapainya. Penghargaan tersebut antara lain penghargaan dari Bupati Subang sebagai koperasi terbaik (2001, 2003) dan penghargaan dari Gubernur Jabar sebagai koperasi terbaik (2003).

Terakhir, pada Juni 2004 menerima penghargaan dari Meneg Koperasi dan UKM sebagai koperasi berprestasi. Penghargaan yang telah diterima selama dua tahun berturut-turut.

Keberhasilan koperasi Mekar Saluyu, tidak terlepas dari keuletan Een Kurniati dalam mengelola koperasi ini. Meski kebijakannya sering dijuluki orang one woman show saja, namun berbagai kebijakan tersebut telah membawa banyak keberhasilan. “Tapi akibatnya, sudah setua ini saya masih saja menjadi ketua koperasi,” keluhnya.

Padahal dia mengaku sudah mencoba untuk melakukan kaderisasi di tingkatan pengurus yang kini berjumlah sembilan orang. Namun ketidakpercayaan diri anggota untuk mampu menjalankan koperasi masih menahannya.

Keberhasilan koperasi ini juga menjadikanya sebagai tempat studi banding untuk koperasi-koperasi lain di Jabar. Salah satunya adalah dengan seringnya Een Kurniati menjadi penyaji dalam forum-forum seminar yagn berkaitan dengan pengembangan koperasi perempuan.

“Yah, banyak belajar saja,” ungkapnya merendah menutup pembicaraan.

Bandung, Januari 2005

Baru dengar ada koperasi perempuan bukan? Ketika menulisanya waktu itu juga aku rada kaget. Terkaget kaget dengan kemampuan mereka mengorganisasikan diri dan mengelola lembaga keuangan dalam bentuk yang paling sederhana, ya.. koperasi itu.

Kalau dibandingkan dengan keadaan sekarang, di tengah keterpurukan lembaga ini, di tengah ketidak percayaan diri masyarakat akan lembaga keuangan kecil yang bisa sustain, kayaknya kita memang perlu belajar dari mereka. Ekonomi kerakyatan gak sekedar jargon yang ada di kolom-kolom opini surat kabar yang terbit hari ini, atau omongan ngalor ngidurnya SBY. Tapi benar kegiatan ekonomi yang ditopang oleh sistem yang ada dan dikenal oleh masyarakat setempat.

redrena

~ by redrena on February 29, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: