Apakah pilihan itu masih ada di tangan kita?

buldozer-marunda.jpg                                         menanam-bakau-2.jpg

Dua gambar di atas adalah gambar yang sangat familiar di mataku, mungkin juga bagi jutaan mata orang-orang Jakarta. Karna diambilnya di kota ini. Tanah berpasir atau pasir bertanah (disebut demikian karna semua orang Marunda tahu bahwa sebelumnya wilayah itu murni laut) versus tanah berlumpur (disebut demikian karna semua orang di areal Muara Angke juga tahu bahwa sebelumnya tempat itu adalah rawa dekat pantai).

Namun tanah berpasir di Marunda kelak akan menjadi lebih banyak kandungan tanahnya dibandingkan pasir, karna wilayah itu sudah sedemikian dipermak untuk menjadi satu wilayah baru tempat  entah berapa ribu orang yang akan tinggal di sana. Face to face dengan laut. Jika di tempat lain (negara lain maksudku) tinggal berhadapan dengan laut adalah sebuah kemewahan, tapi bagi masyarakat kita tinggal di pinggir laut adalah pilihan terakhir.  

Sementara pada tanah berlumpur di Pantai Indah Kapuk, yang sekarang ini dengan mati-matian dilindungi oleh masyarakat, kelak diharapkan akan tetap lestari. Meski harus tetap adu otot jika bicara soal luasan. Berbagai lembaga masyarakat yang rata-rata diinisasi oleh NGO berlomba – lomba menghijaukan daerah ini dengan menanam bakau di sekitar hutan lindung, taman wisata atau suaka marga satwa muara angke (tempat aku kehilangan hape ku… oh memori.. hiks).

Para pencinta lingkungan tidak ingin wilayah ini bernasib seperti tanah berpasir, yang setiap hari hanya mengenal buldozer.  Lebih tepatnya sih warga Jakarta yang sudah sadar akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam, gak ingin wilayah hutan bakau ini hilang karna tidak ada lagi penahan rob alami. Mereka sudah cukup mengalami pengalaman banjir rob yang cukup dahsyat sejak November 2007 lalu.

Sekarang pilihannya memang ada di tangan kita. Saya, kamu, anda, mereka. Saya, orang yang tidak tinggal di Jakarta (sekarang) tapi masih harus bekerja di Jakarta. Kamu yang mungkin bernasib seperti saya yang sama-sama susah kalau Jakarta banjir. Atau kamu yang tinggal di Jakarta dan bernasib lebih naas kalau Jakarta terus kebanjiran (banjir hujan plus banjir rob). Anda, para orang-orang berkepentingan (you know who i mean) yang meski bisa berlindung di atas mobilnya, di atas apartemennya atau pindah ke Singapur waktu banjir tapi tetap saja mencari pundi-pundi di Jakarta. Atau mereka, yang harus tinggal tepat di pinggir laut di atas rumah panggungnya.

Dan tidak hanya Jakarta yang hanya sepersekian meter persegi dibandingkan nusantara ini. Apakah pilihan itu masih ada di tangan kita?

anak2-marunda.jpg

Setidaknya kita memberikan pilihan yang baik untuk mereka. Bukan tak mungkin kita yang bermain di sana kan?

redrena 

~ by redrena on March 3, 2008.

One Response to “Apakah pilihan itu masih ada di tangan kita?”

  1. Prinsipnya adalah harus ada political will dari pemerintah untuk melindungi kawasan penyangga itu. Kalau itu tidak ada, sama saja kita menaruh garam di lautan luas. Kalau pemerintah tegas melarang pembangunan reklamasi, pasti banjir besar Jakarta gak bakal terulang. Masalahnya ada gak kemauan pemerintah utk melindungi masyarakatnya? Jangan2 mereka masih asyik masyuk bermesraan dengan pengusaha memborbardir kawasan reklamasi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: