Donde esta mi mami?

Secara singkat judul di atas berarti Di mana Ibuku?. Adalah satu kalimat yang diucapkan bocah kecil Enrique saat mengetahui bahwa ibunya, Lourdes, tidak lagi menemaninya bermain. Kalimat yang sama yang juga diucapkan jutaan anak-anak dari Honduras, Meksiko dan negara Amerika Tengah lain yang harus kehilangan kasih ibu mereka karna menjadi imigran di AS. Kalimat inilah yang pada satu waktu nanti membawa mereka mengarungi perjalanan terjal, berbahaya, tidak manusiawi, yang dituliskan secara apik oleh Sonia Nazario dalam buku berjudul Enrique’s Journey. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka Agustus 2007. Buku yang merupakan kumpulan laporan investigasi Sonia tentang perjalanan berbahaya yang harus ditempuh anak-anak, perempuan atau laki-laki demi mencari pelukan ibunya yang dimuat dalam harian Los Angeles Times, membawa Sonia meraih Pulitzer Award tahun 2003.

Setiap tahun, sekitar 700 ribu imigran memasuki AS secara ilegal. Mereka berasal dari negara miskin di selatan Amerika seperti Honduras, Meksiko, Jamaika atau Republik Dominika. Negara yang miskin, tak banyak memberi peluang kerja, harga barang yang mahal, pendidikan yang sulit terjangkau, yang memaksa para imigran memasuki AS, atau yang sering disebut el Norta oleh mereka.

Sebagian besar dari 700 ribu imigran ini adalah kaum ibu, biasanya ibu tunggal seperti Lourdes. Miskin, sendirian dan menanggung banyak anak, membuat ibu-ibu ini mengambil resiko meninggalkan anak-anak mereka di negeri asal (jadi teringat kisah-kisah BMI -buruh migran indonesia- kita ya). 10 peso sehari atau sekitar 1 dollar amatlah tidak cukup untuk menghidupi anak-anak mereka. Apalagi untuk sekolah atau sekadar membeli baju ganti. Cerita tetangga, sepupu tentang AS , seolah memberi pengharapan bahwa di sanalah ladang emas yang sesungguhnya. Dan Lourdespun pergi.

Meninggalkan Belky yang berumur 9 tahun dan Enrique yang baru berusia 5 tahun, Lourdes menjadi imigran ilegal ke AS. Janji untuk pergi hanya 2 tahun, molor menjadi 10 tahun. Belky yang diasuh oleh kakak Lourdes sedikit lebih beruntung karna dapat konsentrasi sekolah dan berada di keluarga yang perhatian padanya. Namun sayang, Enrique tidak seberuntung kakaknya. Dalam pikirannya hanya ada satu yang dituju, IBU.

Bermodalkan keteguhan hati (untuk tidak menyebutnya dengan nekad), sedikit uang di tangan dan pengetahuan minim tentang perjalanan ke Utara, Enrique mencoba menguji takdirnya. Kereta api barang, bus hingga ban dalam untuk menyeberangi sungai, dipilihnya sebagai alat angkutan. Berbagai kejadian yang sering dialami para imigran ilegal pun dialaminya. Mulai dari dirampok, dipukul, dikeroyok, hampir dibunuh, menjadi gelandangan dialaminya. Jika Enrique perempuan, mungkin dia juga akan diperkosa.

Berbagai macam orang ditemuinya, mulai dari teman sebaya sesama pejuang, bandit, bandar narkoba, pastor baik hati, perawat sukarela, polisi perbatasan (la migra) ditemuinya. Dalam Enrique’s Journey, Sonia tidak hanya menceritakan kekejaman manusia pada para imigran. Tapi juga ada masa ketika kebaikan dan kemurahhatian muncul.

Seperti yang ditunjukkan oleh Olga Sanchez Martinez yang membangun penampungan bagi mereka yang terluka dalam perjalanan. Padre Leo yang murah hati yang membuka gerejanya untuk menjadi tempat penampungan imigran. Yang pada saat yang sama ia pun harus meyakinkan jemaatnya untuk menerima mereka. Atau penduduk di Oaxaca dan Veracruz (negara bagian Meksiko) yang sangat murah hati membagi apapun yang mereka miliki pada para imigran yang menumpang kereta barang. Padahal mereka juga bukan orang yang kaya-kaya banget. Seplastik limun, satu tangkup sandwich telur, tortilla atau sweater bekas adalah pemberian terindah bagi para imigran.

Dan pada akhirnya, setelah tujuh usaha yang sia-sia, lebih dari 12.000 mil, dan 122 hari, akhirnya Enrique tiba di pangkuan ibunya. Saat itu ia berusia 17 tahun dan Lourdes 35 tahun. Totally, they’ve been separated for 11 years.

Pertemuan dengan Lourdes, tak serta merta membuat hubungan ibu dan anak itu lancar selancar jalan tol. Ada masa-masa di mana Enrique menjadi sangat marah karna merasa ditinggalkan, tidak dicintai, ditukar oleh uang, yang membuatnya lebih mencintai bir, lem, atau mariyuana. Sementara sebagai orang yang telah berkorban banyak hal, Lourdes pun merasa marah pada anak laki-lakinya itu karna tidak dihargai, disepelekan, dan kecewa karna Enrique putus sekolah. Konflik yang sangat sering ditemui dalam hubungan orang tua anak kaum imigran di AS, yang pada akhirnya turut memunculkan geng-geng Amerika Tengah, bandit-bandir narkoba sebagai bentuk “persaudaraan” baru di kalangan anak-anak ini.

Membaca kisah Enrique dan pejuang-pejuang cilik Amerika Tengah, membuat kita pasti akan mengingat nasib anak-anak BMI kita. Meskipun sangat jarang kita dengar anak-anak BMI berani menempuh jalan ribuan kilo untuk menyusul ibu mereka ke Arab, Malaysia, Hongkong atau kantung-kantung BMI lain di luar negeri. Namun ada satu kesamaan, mereka yang ditinggalkan tidak bernasib lebih baik. Ditelantarkan, pertikaian antar anggota keluarga (yang dipicu misal oleh ayah yang menikah lagi karna ditinggal ibunya) adalah kondisi yang sering terjadi.

Membaca buku ini tidak hanya membaca satu kisah perjalanan, tidak hanya membaca sebuah laporan investigasi yang kaya dan berani (bayangkan untuk melengkapi buku ini Sonia membutuhkan waktu 5 tahun mengulang perjalanan Enrique dan menemui orang-orang yang dijumpainya), namun juga membuat kita sadar tentang kekuatan anak-anak. Anak-anak dengan kemampuan yang mereka miliki, dengan cara yang mereka pahami mampu bertarung menghadapi segala hal dalam dunia ini. Namun, pelajaran dan bukti juga bagi kita bahwa tidak ada yang lebih baik selain membiarkan anak-anak tumbuh dalam bimbingan kita sendiri. Orang tuanya sendiri.

Kalau teman-teman ingin melihat photo Enrique, keluarganya, anaknya, Olga klik http://www.enriquesjourney.com

redrena

~ by redrena on March 11, 2008.

One Response to “Donde esta mi mami?”

  1. Sebenarnya, migrasi adalah salah satu mekanisme pertahanan hidup yang paling purba dari umat manusia. Terkadang, suatu peradaban justru terbangun sebagai akibat dari adanya migrasi. Masih karena alasan untuk mempertahankan hidup, sebagian orang menjadikan migrasi sebagai komoditi yang dihargai sangatlah tinggi, sehingga orang kadang dipaksa membayar tidak hanya dengan uangnya, tapi juga dengan nyawanya dan harga dirinya.

    Di sisi lain, terdapat suatu ironi, ketika lalu-lintas modal kian tidak mengenal batas-batas negara, pergerakan manusia justru harus bertabrakan dengan tembok-tembok kekuasaan negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: