Pendar Cahaya di Cigumentong

cigumentong.jpg

Lima tahun tinggal di Jatinangor (perbatasan antara Bandung dengan Sumedang), baru setelah bekerja di Jakarta aku mendengar nama tempat ini. Dusun Cigumentong, jaraknya hanya 16 km dari Parakan Muncang, yang berarti kurang dari 30 km dari Jatinangor. Dusun Cigumentong termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Sumendang yang berbatasan langsung dengan Bandung dan Garut. Kemana aja ren?

Perkenalanku dengan tempat ini dimulai saat aku mencari-cari tempat yang menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi utamanya. Dan ketemulah nama Dusun Cigumentong. Di tempat ini warga desa menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energi utama untuk menyalakan lampu di rumah mereka.

Sebelum berkisah tentang listrik tenaga surya, aku akan mengajakmu membayangkan bagaimana perjalanan menuju Cigumentong. Tempat ini layak dikunjungi karna ada beberapa lokasi yang menarik. Jika di awal tulisan ini aku bilang bahwa jarak antara Cigumentong dengan pusat kecamatan hanya berjarak kurang dari 20 km, maka jangan dibanyangkan perjalanan menuju tempat ini akan mudah semudah naik sepeda roda tiga.

Dari Cimanggung, atau kita sebut saja Parakan Muncang, kita harus berjalan sekitar 8 km menuju Desa Sindulang. Tanyalah tukang ojek kemana arah Desa Sindulang, dia akan bilang sebelum jembatan kedua dari parakan muncang ke arah tasik, belok kiri, naik ke jalan setapak ke arah gunung. Mantap.

Perjalanan ke Desa Sindulang cukup menyenangkan. Jalan setapak kecil, tanjakan dan kelokan tajam di beberapa tempat, namun menyajikan pemandangan yang indah. Dari sebuah bukit yang landai kita dapat melihat pemandangan di bawah, pabrik-pabrik di sekitar Cicalengka beradu ruang dengan rumah penduduk dan lahan pertanian. Membawa kita pada renungan, sampai kapan lahan pertanian itu akan bertahan sebelum tergantikan oleh deretan pabrik-pabrik tekstil, sabun, mainan, atau garment.

Dan bukit landai ini juga menjadi salah satu tempat pemuda Sumedang bercengkerama. Aku sampai di tempat ini sekitar jam 8 dan masih kulihat ABG, orang tua dan anaknya berkumpul, makan bubur atau sekadar olah raga pagi. Betapa manusia sangat merindukan alam bebas.

Untuk menuju ke desa Sindulang, dusun Cigumentong termasuk dalam teritori desa ini, kita harus melalui rimbunnya hutan. Kami sempat sedikit deg-degan, maklum ini kali pertama aku, budi dan riyadi (driver kami) masuk hutan. Untunglah jalan di dalam hutan tersebut sudah diaspal, karna hutan ini termasuk ke dalam area hutan lindung.

Beberapa kilo sebelum sampai di desa sindulang, kami dihentikan oleh petugas berbaju hijau muda. Petugas tersebut menanyakan arah kami. Ternyata di depan kami ada kawasan air terjun yang disebut Curug Sindulang. Selintasan mata kami sempat melihat Curug Sindulang, yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Airnya deras, namun mungkin karena sedang musim hujan jadi tidak terlalu jernih. Di sekitarnya sudah dibangun gazebo-gazebo untuk tempat turis istirahat. Saat itu sedang dilakukan kerja bakti, karna tanggal 16-23 Maret ini akan diadakan pekan wisata Curug Sumedang. Aku sempat diminta untuk meliputnya oleh salah seorang pengurus kecamatan ketika mewawancarai narasumber kami. Pak Na’i, pengurus kecamatan itu, juga berpromosi bahwa kami akan menemukan orang-orang yang aneh di sana. Misalnya saja orang yang suka makan ulat bulu, makan biji aren, dan lainnya. Hello… dalam hati aku tertawa, belum tau dia aku kerja di tv kayak apa.

Sayang, pemandangan Curug Sindulang gak sempat aku foto. Namun, aku berjanj, jika ada waktu aku akan kembali ke sana. Toh tidak terlalu jauh juga dari Jakarta atau Bandung.

Jalan beraspal mulus berujung di pintu masuk kawasan hutan buru Gunung Masigit Kareumbi. Hutan ini sering dijadikan tempat pengamatan oleh para peneliti junior dari Unpad (Universitas Padjadjaran) dan Unwim (Universtias Winaya Mukti). Di pintu gerbang memang terlihat beberapa bangunan untuk mendukung kegiatan penerlitian tersebut, namun sayang bangunan-bangunan itu terlihat tidak terawat. Hanya ada seorang petugas yang sedang membersihkan rumput dan seorang ibu penjual makanan dan minuman ringan di sana. Petugas hutan tersebut bilang tugasnya hanya sampai jam 5 sore, setelah itu tidak ada petugas piket kecuali jika sedang ada peneliti.

Dusun Cigumentong

solare-baru.png

Setelah sampai di pintu gerbang hutan kawasan buru, atau yang lebih dikenal dengan nama KW oleh penduduk, petugas tadi memperingatkan kami bahwa kami tidak bisa membawa mobil hingga dusun Cigumentong. Jalan yang layak pakai hanya sekitar 1 km ke dalam hutan. 1 km lagi? Kupikir-pikir kayaknya jarak Cigumentong Parakan Muncang lebih dari 16 km deh.

Singkat kata singkat cerita, kami memutuskan untuk menaruh mobil kami di sebuah tempat di dalam hutan. Tempat itu sepertinya menjadi tempat parkir mobil bagi mereka yang akan mengangkut hasil kebunnya (tomat, kentang, kubis, dll) dari Cigumentong ke kota. Jalan aspal pun telah berganti menjadi jalan tanah. Menurut mereka yang tengah bekerja mengepak tomat, untuk menuju ke dusun Cigumentong kami harus jalan kaki sekitar 1 km lagi di atas tanah yang berlumut. Pantas saja mobil dilarang masuk, kecuali yang double wheel.

Jalan tanah saja sudah licin, apalagi jalan berlumut di musim hujan seperti sekarang? Untuk sampai ke dusun yang hanya dihuni oleh 19 kepala keluarga atau sekitar 90 orang ini, aku, budi dan riyadi berbagi tugas membawa peralatan tempur.

Memasuki dusun Cigumentong, seolah memasuki dunia lain. Hanya ada sekitar 10 rumah di sana yang berbatasan langsung dengan hutan, ladang dan bukit. Cigumentong tepat berada di sebuah bukit dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan air laut.

Bertahun-tahun penduduk Cigumentong hanya menikmati penerangan dengan mengandalkan lampu cempor (lampu minyak yang ditempel di dinding). Jumlah penduduk yang minim dan kemampuan ekonomi masyarakat yang rendah, sepertinya tidak menarik bagi PLN untuk menyambungkan listrik ke dusun ini. Padahal jarak antara Dusun Cigumentong dengan dusun sebelumnya yakni Dusun Leuwiliang hanyalah sekitar 3 km. Betapa hak seseorang atas sumber daya, keamanan dan kenyamanan (dalam hal ini listrik) sangan mahal dan diskriminatif.

Baru pada tahun 2005, warga Cigumentong bisa menikmati sedikit cahaya itu. Pendar cahaya itu datang bukan dari PLN tapi dari sumber energi yang selama ini hanya bermanfaat untung menjemur pakaian atau menandai bahwa hari telah berganti siang. Ya, sinar matahari. Ja’i Suryana menginisiasi keberadaan listrik tenaga surya itu. Berkat perkenalannya dengan seorang dosen daeri ITB, Mulyo Widodo, dan usaha warga menuntut listrik dari pemerintahan setempat, tahun 2005 warga mendapat bantuan listrik dari Bupati Sumedang.

Listrik yang dihasilkan memang tidak besar. Setiap rumah hanya “diperbolehkan” memasang listrik sebesar 5 SP. Hanya mesjid dan satu rumah yang bisa mengakses hingga 10 SP, yakni rumah Ja’i Suryana ini. Dengan daya 5 SP dapat digunakan untuk menerangi 4 ruangan, ruang tamu, dapur, ruang tidur dan ruang keluarga.Kamar mandi? Maaf maaf saja, di Cigumentong hanya ada satu rumah yang mempunyai kamar mandi. Yang lain, masih mempercayakan urusan kamar mandi di sungai tak jauh dari dusun mereka.

Kembali ke masalah listrik, proses perubahan energi surya menjadi listrik di tempat ini sangat mudah. Di atap rumah masing-masing penduduk, diletakkan satu unit panel surya berukuran 230 x 185 x 30 mm secara sembarangan. Panel surya inilah yang berfungsi menyerap sinar matahari. Sinar tersebut kemudian disimpan di dalam baterai sebanyak dua buah yang berkekuatan 6 volt di dalam rumah. Selain itu hanya ada panel control, jumper dan lampu LED (light emitting diode). Jadi bukan lampu neon, bolham yang digunakan disana. Untuk menghubungkan dan menyalakan lampu, serahkan pada kabel-kabel yang dipasang di dalam rumah.

Ketika kami meminta salah satu penduduk memperlihatkan bagaimana cara memasang lampu, Bu Mumum, dengan cekatan memperlihatkannya pada kami. Kabel-kabel itu hanya disambungkan dengan tangan kosong.

Aku sempat bertanya, “gak takut kesetrum bu?”

Dengan cuek dan sambil tersenyum Bu Mumum menjawab, “ah da henteu. ieu mah sanes listrik ti PLN. aman, moal nyetrum.”

Warga Cigumentong memang belum bisa mengandalkan listrik dari tenaga surya untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka. Bisa dipastikan listrik ini memang hanya untuk penerangan, agar kampung tidak menjadi gelap, agar suara adzan di mesjid bisa terdengar lebih kencang, agar anak-anak bisa mengaji dan belajar lebih nyaman. Namun listrik di sana tidak bisa dipakai untuk menyetrika baju, tidak bisa dipakai untuk menonton televisi, tidak bisa dipakai untuk mengecas hp.

Namun di tengah dusun kecil mereka, yang mungkin sebentar lagi akan hilang karna warga diminta untuk pindah ke dusun lain yang lebih dekat, keberadaan lampu tenaga surya ini mampu memberi warna dalam malam-malam mereka.

Pembangunan energi berbagai energi alternatif yang bersumber dari sumber daya yang terbarukan, beberapa waktu terakhir tengah naik daun. Di Indonesia sendiri, melalui PP Nomor 5 tahun 2006, pemerintah telah menerapkan kebijakan energi mix. Pada praktiknya, pengembangan energi terbarukan ini masih sangat lamban. Program biofuel, desa mandiri energi, bahkan yang terakhir pengembangan nuklir, tidak hanya belum secara serius digarap, malahan kadung menimbulkan berbagai permasalahan. Pembukaan lahan untuk biofuel dianggap justru menimbulkan kerusakan lingkungan akibat perkebunan monokultur dan terpinggirnya masyarakat adat. Desa mandiri energi, yakni wilayah yang di dalamnya hanya mengandalkan energi dari sumber-sumber terbarukan seperti matahari, angin atau air, adalah program ambisius yang akhirnya hanya menjadi proyek bagi pemda. Sementara nuklir ditolak mentah-mentah oleh warga, salah satunya oleh warga Muria, karna dianggap pemerintah belum siap untuk pengembangan teknologi yang beresiko tinggi ini.

Semuanya pada akhirnya bermuara di satu hal, kemampaun pemerintah untuk mandiri dalam pengelolaan segala sumber energinya, baik yang energi fosil maupun yang terbarukan. Bebas dari campur tangan asing, terutama kaum pemodal. Sehingga hak setiap warga negara akan energi, atas listrik, atas kenyamanan dan keamanan, bukanlah hak yang hanya dapat diperoleh oleh segelintir orang yang kaya.

redrena

~ by redrena on March 12, 2008.

One Response to “Pendar Cahaya di Cigumentong”

  1. Ya terimakasih kepada neng Rena yang telah menayangkan di Internet untuk menjadi bahan pertimbangkan para pejabat khususnya di birokrasi kabupaten Sumedang mengenai permohonan pemberdayaan masyarakat supaya ada perhatian dan diprioritaskan bahwa masyarakat Cigumentong benar-benar layak dibantu terutama dibidang sarana dan prasarana yang sangat rusak dan perlu pembaharuan. Dikarenakan tidak mampu untuk merehabilitasi bangunan maka kami sebagai tokoh masyarakat Cigumentong memohon kepada bapak Bupati Sumedang untuk merealisasikan perencanaan program kampung Wisata Cigumentong yang diharapkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat kami ada peningkatan.

    Wassalam

    Ja’i Suryana
    (seperti didiktekan langsung kepada penulis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: