Telingaku vs Suaramu

Setiap orang Indonesia pasti pernah berhubungan dengan pengamen. Mau yang ngamen di perempatan lampu merah, ngamen di dalam bis, di angkot, di dalam kereta, di tempat jajanan kaki lima sampai di halaman rumah kita sendiri. Tinggal nunggu saja kapan pengamen muncul di atas pesawat terbang. Pokoknya, kita gak akan pernah lepas deh dari sosok sang penghibur jalanan.

Seperti yang setiap malam kualami. Dalam perjalanan dari UKI ke Cibinong pasti selalu ada pengamen yang nongol di bisku. Mulai dari anak kecil, perempuan muda, pemuda tanggung, sampai orang dewasa. Biasanya mereka datang bergantian. Satu ketika bis masih ngetem di UKI, satu ketika bisa mulai melaju pelan, dan satu ketika bis mulai masuk jalan tol. Bisa dihitung untuk satu kali perjalanan saja sudah ada minimal tiga orang pengamen yang akan kita dengar suaranya. Bahkan Syamsul pernah mengalami dihibur oleh lima orang pengamen sepanjang perjalanan Citeureup – Mampang. Well ..

Malam itu aku sudah mulai akan tertidur di bis. Satu jurus yang sangat amat sering digunakan oleh hampir sebagian besar penumpang bis untuk menghindarkan diri dari memberi receh pada pengamen. Yah, kadang kuping ini juga kan lelah dibombardir dengan lagu-lagu yang dinyanyikan mereka.

Jreng…. nah mulailah dia. Tapi tidak seperti biasanya, pengamen kali ini menggubah lagu yang dia nyanyikan. Lagu pertama adalah Dealova-nya Once yang dibikin jadi berirama Salsa. Well… lumayan lah. Volumenya juga gak terlalu keras jadi tidak memekakkan telinga. Masuk lagu kedua, dia nyanyikan lagu Ari Lasso.. yah dengan gubahan versinya. Lagi, lagi dan lagi sampai kira-kira delapan lagu yang bersamaan dengan pintu keluar Citeureup.

Bagiku sendiri, hiburan malam yang diberikan oleh pengamen kita kali ini benar-benar menghibur. Tak sekadar bersuara menyanyikan lagu-lagu yang kadang-kadang gak nyambung dengan musiknya. Atau gak sekadar mengecrek botol berisi beras. Atau yang kadang bikin aku sedih gak sekadar nyanyi yang di akhir lagu berpidato yang isinya meminta belas kasih, setengah mendoakan, dan setengahnya lagi mengancam.

Memang tidak sedikit pengamen (ada yang bilang seniman jalanan) yang bersuara emas, serius, benar-benar bisa bernyanyi dan bermusik. Misalnya para pengamen yang ada di KRL di Bogor. Tapi memang jumlahnya kalah jauh dibandingkan kategori kedua yakni preman berkedok pengamen. Atau kalau kamu sering ke Bandung, setiap Sabtu malam di sepanjang Jalan Dago akan berjubel kelompok-kelompok pengamen dadakan. Biasanya mereka adalah mahasiswa yang sedang mencari dana kegiatan atau sekadar menghabiskan malam minggu bareng.

Balik ke topik, saya rasa jika saja pengamen2 itu lebih mau berusaha untuk tidak hanya bersuara tapi benar-benar bernyanyi, masih banyak orang yang akan menghargai kerja mereka. Berhentilah berpikir pendek, asal, membodohi diri sendiri dan malas yang mengandalkan hidup dari memelas.

Saya tidak menolak keberadaan mereka di jalanan, karna saya tahu pilihan mereka ke jalan adalah pilihan yang paling sulit yang harus diambil. Keputusan yang harus diambil dalam kondisi lingkungan yang sudah tidak bisa lagi dijadikan topangan untuk hidup sementara ada “secercah sinar” di gemerlapnya ibukota yang bisa diambil meski hanya remah-remahnya saja. Tapi saya juga berharap, ketika kondisi ini belum bisa dirubah, lebih manusiawi jika saya, kita dan mereka belajar untuk saling menghargai. Saya menghargai suaramu dan kamu juga menghargai kuping saya.

redrena

~ by redrena on April 3, 2008.

2 Responses to “Telingaku vs Suaramu”

  1. Aku mau nambahi:
    Dari Citeureup sampai Mampang aku dihibur oleh Lima orang pengamen yang menyanyikan satu lagu yang sama.

  2. Yah namanya juga orang usaha. Hidup dikota superindividual memang tidak mudah. Kalau mau memilih pasti mereka juga tak mau menekuni “pekerjaan” ini. Kalau mau menghargai mereka ya berilah sereceh dua receh, tapi kalau memang tidak ada ya hak kita untuk menolaknya tentu dengan halus supaya mereka mengerti. Ha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: