Underground and upground

Siapa yang tak tahu SIngapura. Negara yang oleh Barat dianggap sebagai “singa”nya Asia Tenggara. Negara yang lebih luas sedikit dari Jakarta (Singapura 692,7 km2 sementara Jakarta 661,52 km2), yang jika kita ingin mengelilinginya dapat dilakukan hanya dalam satu hari perjalanan.

Perjalanan ke SIngapura di penghujung April tahun ini adalah perjalanan pertama saya. Sebuah event bisnis untuk lingkungan hidup yang diselenggerakan Program PBB untuk Lingkungan Hidup atau UNEP kembali memilih Singapura sebagai kota penyelenggara. Saya pun berangkat ke sana bersama dengan rekan-rekan media yang lain yang diundang oleh UNEP. Well, bukan diundang tepatnya, mengutip perkataan teman Antara saya, kami berkompetisi untuk mendapatkan tiket meliput acara tersebut. Tidak hanya acara orang-orang bisnis yang ingin menghijaukan bisnis mereka, namun juga mengunjungi Semakau Landfill dan Procet New Water-nya pemerintah Singapura.

Di luar forum-forum yang hanya dihadiri sekitar 500 orang tersebut, saya ingin mengajak anda untuk menyusuri jalan-jalan Singapura di tulisan ini. Dan terlebih masyarakatnya. Singapura termasuk kota yang cukup bersahabat bagi pejalan kaki, dalam istilah bahasa yang kerap saya dan Syamsul gunakan, pedestrian friendly. Trotoar yang cukup lebar disediakan, tidak banyak orang lalu lalang, tidak ada kaki lima, lampu jalan yang cukup terang di malam hari dan nama jalan yang jelas terpampang di setiap sudut perlintasan.

Sebagai penganut paham jalan kaki adalah cara ternikmat menikmati suasana suatu kota, tentu saja saya amat terkesan dengan keadaan ini. Hari pertama berada di Singapura, saya langsung berjalan bersama Ella dari hotel menuju Bencollen Street untuk menikmati makan malam di pinggir jalan. Pun hari-hari yang lain, saya memilih berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kecuali saat ke Changi Airport, saya memilih menggunakan kereta monorail (SMRT).

Saat berjalan kaki itulah saya melihat betapa kemacetan juga masih menjadi masalah lalu lintas di sana. Meski telah tersedia berbagai alat transportasi massal yang murah dan bersih, toh namanya manusia di negara maju dengan pendapatan per kapita U$ 28.228, ketergantungan masyarakat manusia terhadap kendaraan pribadi masih tinggi. Di Singapura inilah saya melihat parade mobil mewah keluaran terbaru dengan konsumsi BBM tingak tinggi mengantri di sepanjang jalan protokol Singapura saat jam-jam sibuk (jam 8 pagi dan jam 5 sore). Meski berjalan dengan tertib, mobil-mobil ini masih harus berbagi ruang dengan bis, taksi dan becak (di Singapura tidak ada zona bebas becak) dan motor.

Selain parade kendaraan boros bahan bakar, satu hal yang menggelitikku adalah mengapa tidak ada orang di atas? Trotoar yang nyaman, pohon-pohon yang rindang dan udara yang relatif bersih ternyata tidak cukup mengundang masyarakat Singapura untuk naik ke atas. Tidak butuh waktu lama untuk mencari tahu penyebabnya.

Keberadaan kereta monorail SMRT telah menciptakan ruang baru bagi masyarakat Singapura, yakni daerah “underground”. Daerah di bawah tanah yang menjadi pusat keberadaan SMRT karna stasiun-stasiunnya dibangun beberapa meter di bawah tanah. Jadi gak ada cerita lagi tiba-tiba mobil dihentikan untuk memberi waktu kereta yang akan lewat.

Pasar pengguna SMRT yang besar telah menumbuhkan pula pasar-pasar yang lain. Meski di bawah tanah kita akan sangat mudah menemukan restoran, toko buku, toko sepatu, toko baju hingga supermarket. Jika di Indonesia semua hal berpusat di atas, maka di Singapura semua hal berpusat di bawah tanah atau di dalam gedung. Di tempat inilah kita akan dengan mudah menemukan penduduk Singapura. Mereka yang sedang makan, berbelanja, melobi klien, atau sekadar hanging out dengan teman. Jika di Jakarta kita akan bersenggolan dengan tubuh orang lain di atas bumi, maka di Singapura kita akan terpukau dengan begitu banyaknya orang di bawah tanah.

Komunitas underground di Singapura tentu bukan yang pertama dan satu-satunya di dunia. Di setiap negara yang sudah menerapkan sistem transportasi massal berupa kereta bawah tanah, komunitas seperti ini pasti ada. Tentu saja yang berbeda hanya pada jumlah orang. Ketika saya melihat underground Singapura, saya dengan sangat mudah mengingat underground di Inggris. Dan saya langsung teringat pada bau yang keluar setiap kereta lewat. Nah, saat inilah saya kemudian berpikir betapa nikmatnya hidup di atas.

Bawah atau atas mungkin tinggal masalah kebiasaan. Tapi yang pasti, berbagai kasus transportasi di negara kita memang harus segera diselesaikan. Entah dengan meniru sistem transportasi negara lain, mengeluarkan kebijakan yang tegas dan konsisten atau menyerah pada pasar.

redrena

~ by redrena on April 28, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: