Sudut lain di Negeri Singa


Sejak Inggris angkat kaki dan melepaskan kaki dari Malaysia pada Agustus 1965, Singapura seolah tak terhentikan dalam memacu perekonomiannya. Negara dengan lebih dari 4 juta penduduknya ini memanfaatkan setiap inci area yang ada sebagai ruang pundi-pundi uang. Berbagai perusahaan multinasional hingga lembaga-lembaga finansial memiliki kantor perwakilan di negeri ini. Salah satunya HSBC yang berada tepat di depan Singapore River.

Komunitas Falun Dafa di Singapura, tersebar di berbagai tempat. Di tempat-tempat tersebut mereka melakukan latihan, seperti pernafasan, meditasi dan olah jiwa. Seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang saya temui Minggu sore (20/4/2008) di bawah jembatan Esplanade DR. Falun Dafa atau yang lebih dikenal dengan Falun Gong adalah suatu cara melatih diri (jiwa dan raga) yang diyakini dapat membawa seseorang ke tingkat jiwa yang lebih tinggi yang menyelaraskan diri sendiri dengan alam semesta. Ditemukan oleh Master Li Hongzhi pada tahun 1992 di Cina, Falun Dafa sempat dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Cina pada tahun 1999, yang membawa ribuan pengikut Falun Dafa ditangkap dan mengalami kekerasan fisik oleh pemerintah Cina.

Sejak saat itu Falun Dafa tidak hanya berkembang di Cina, namun juga menyebar di negara Asia yang lain.

Masyarakat Singapura saat ini tengah berbangga diri dengan kehadiran kincir angin terbesar di dunia yang disebut sebagai Singapore Flyer. Terletak di Marina Bay, pembangunan kincir angin setinggi 165 meter ini menghabiskan dana hingga 240 dolar Singapura ini. Jika mau menikmatinya harus siap-siap menyetorkan uang 29,50 dolar Singapur untuk satu kali putaran menikmati pemandangan Patung Merlion, Raffles Place, Istana dan ikon Singapur yang lain Esplanade dari atas.

Inilah Pulau Semakau. Jika saya datang ke Singapura tahun 2045 dan mengunjungi Pulau Semakau, kemungkinan besar pulau ini akan menjadi area pemukiman atau another skyscraper di tempat ini. Padahal saat ini Pulau Semakau adalah pulau sampah bagi warga Singapura. Sejak tahun 1999 segala limbah mulai dari limbah rumah tangga, hotel hingga industri yang telah dibakar di insinerator, dibuang ke tempat ini dan dipadatkan hingga menjadi satu daratan baru, atau yang biasa dikenal sebagai sistem sanitary landfill. Sebelumnya daerah ini adalah laut lepas yang dibendung sehingga dapat menghasilkan daratan seluas 350 hektar. Untuk ini pemerintah Sigapura menggandeng berbagai investor (selalu) untuk membiayai proyek yang menghabiskan dana 610 milar dolar Amerika. Hmm… pastinya lebih mahal dibandingkan mengimpor pasir dari Indonesia

Ingin ke mesjid saat berada di Singapur? Datanglah ke Chinatown. Tidak hanya mesjid, di area ini hampir seluruh agama memiliki “kantor perwakilan”. Mesjid yang saya kunjungi di malam terakhir saya di Singapura bernama Jamal Mosque (Chulia Mosque). DIbangun sekitar 1826 – 1827 oleh kaum muslim dari India Selatan, hingga saat ini mesjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pertama kali pada tahun 1830-1835 dan terakhir kali pada tahun 1974 dan melengkapinya dengan sebuah monumen kecil di depannya.

Mesjid ini tidak terlalu luas, tidak memiliki kubah besar dan arsitekturnya merupakan kolaborasi dengan kebudayaan China. Penduduk muslim di Singapura hanya sebesar 13,9 persen dari total penduduk. Selain Jamal Mosque, terdapat Sri Mariamman Temple (kuil bagi umat Hindu) dan juga klenteng di area Chinatown yang harus beradu ruang dengan restoran, kantor dan tentu saja pasar malam Chinatown.

redrena

~ by redrena on April 30, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: