Sekali lagi tentang perempuan

Perempuan dengan lingkungan adalah dua hal yang tidak terpisahkan, sama halnya ibu dan anak. Makanya kemudian ada istilah mother nature yang berarti alam semesta. Dan ini satu lagi kisah tentang perempuan dan lingkungannya.

Satu hari di pojok Jakarta Utara, lebih dekat lagi saya menuju Rt 06 Rw 11, Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, bersama budi (kameramen saya) dan lia (anak magang). Keperluan saya hari itu mengambil gambar untuk melengkapi paket talk show saya. Tapi lebih jauh dari itu, saya tau saya pasti akan menemukan hal yang luar biasa. Perasaan yang selalu meliputi diri saya setiap kali saya bertemu dengan orang baru. Hari itu saya akan bertemu dengan Ibu Tia, seorang guru playgroup.

Rumah itu kecil saja sebenarnya. Bahkan bisa dibilang tersembunyi. Saya harus masuk gang kecil lagi di antara deretan rumah di area itu. Yah, tau lah Tanjung Priok, mana ada lingkungan yang tidak rapat. Eits, saya lupa sebelum masuk gang di gapura areal rumah Ibu Tia saya membaca plang Juara IV Jakarta Green and Clean 2006. Di depan rumah yang dipenuhi beraneka ragam tanaman saya lihat target saya Ibu Tia.

“Wah sudah datang ya? Cepat sakali. Ayo masuk, maaf ya saya baru pulang,” Ibu dua orang anak laki-laki ini serta merta menyambut kedatangan kami. Dengan sedikit perasaan malu namun butuh kami mulai membantu Ibu Tia mempersiapkan rumahnya. Rumah kecil Ibu Tia adalah sebuah bengkel, tempat ia dan beberapa ibu lain di lingkungannya mengerjakan daur ulang sampah plastik. Hari itu, kami akan mengambil gambar kegiatan Ibu Tia.

Ups, ternyata hari itu bukan hari kelompok Ibu Tia berkumpul bersama dengan ibu-ibu yang lain. “Biasanya kita ngumpul hari Minggu. Karna saya kerja jadi saya harus bagi waktu.”

Beberapa ibu di Warakas beberapa tahun terakhir melakukan usaha daur ulang. Usaha ini disponsori oleh sebuah perusahaan raksasa produsen toiletris dunia, Unilever. Mereka diminta untuk mendaur ulang (reusable, belum recycle) kemasan plastik pembungkus produk mereka. Tidak hanya di Warakas saja, untuk wilayah Jakarta Utara mereka menggandeng kaum ibu di Sukapura, Cilincing. Selain itu Unilever juga membuka kelompok-kelompok daur ulang perempuan di 4 wilayah Jakarta yang lainnya.

Di Warakas, Ibu Tia adalah penggerak kelompok ini. Guru sekolah playgroup di kawasan Citraland ini harus membagi waktu antara pekerjaan profesionalnya dengan usaha kecilnya ini. Setiap minggu ia harus menyetorkan 20 buah kantung plastik daur ulang yang akan dipasarkan di sebuah supermarket besar di Jakarta. Untuk itu Ibu Tia dibantu empat ibu lainnya yang bertugas mengumpulkan, mencuci dan memotong. Sedangkan untuk menjahit, semuanya masih harus dikerjakannya sendiri. “Belum ada yang pede menjahit,” katanya.

Ibu Tia diminta untuk membuat kantung daur ulang ukuran kecil (small bag). Jika kuota telah terpenuhi, untuk menambah pengalaman dan juga pendapatan Ibu Tia mengkreasikan bentuk yang lain, seperti tempat hp, tas selempang, atau dompet. Pengetahuan dasar membuat tas diperolehnya dari workshop yang diadakan Unilever yang mendatangkan “guru” daur ulang dari Ciledug. Bermodalkan sebuah mesin jahit, sedikit demi sedikit ia belajar membuat beraneka ragam kerajinan.

“Kalau sekarang hanya mampu bikin kantung-kantung kayak gini. Kalau di tempat lain ada yang udah bisa bikin jas hujan, payung, trolly bag bahkan kerai kamar mandi. Ilmu saya sih belum sampai sana,” kata Ibu Tia sambil menyambung potongan plastik.

Tidak sulit mencari tahu apa motivasi Ibu Tia melakukan kegiatan daur ulang sederhana ini. Menurutnya sudah saatnya ibu-ibu yang ada di rumah untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat, dibandingkan dengan hanya berdiam diri di rumah, bergosip atau menonton sinetron. Paling tidak dengan cara ini mereka mendapatkan sejumlah uang yang pastinya sangat membantu di tengah kondisi serba sulit seperti sekarang.

Usaha kecil kaum ibu di Warakas ini memang masih terlalu dini jika mengharapkan hasil yang besar. Tapi dari sini kembali kita dibukakan mata bahwa ketika perempuan bergerak, ia tidak hanya bergerak untuk dirinya sendiri.

Tidak hanya Ibu Tia dan kaum ibu lainnya yang punya motivasi di luar keinginan melestarikan lingkungan. Pihak produsen seperti Unilever pun pastinya memiliki motivasi yang sama. Kebutuhan atas plastik untuk kemasan produk-produk mereka pastilah masih amat tinggi. Maklum saja dengan produksi yang tinggi, biaya produksi plastik yang lebih murah dibandingkan dengan yang lain, membuat perusahaan ini tentunya menyumbang sampah yang besar pula bagi lingkungan. Kewajiban merekalah sesungguhnya untuk menyediakan infrastruktur pengolah limbah, tidak hanya menghasilkannya.

Tahap pertama, rendam setengah jam dan cuci bersih.

Meski dikerjakan di waktu senggang, tetap harus teliti

Tahap kedua, plastik yang sudah bersih dan kering dipotong dengan ketebalan tertentu.

Tahap ketiga, potongan-potongan plastik kemudian disambungkan. Setelah tersambung baru dibuat tas berdasarkan pola. Untuk menguatkan tas plastik, di dalamnya dilapisi dengan kain terpal.

Menyambung plastik dan membuatnya menjadi tas bukanlah pekerjaan yang mudah. Plastik yang licin dan penggunaan benang knur termasuk tantangan bagi Ibu Ida. Tingkat kesulitan pengerjaan yang tinggi dan masih terbatasnya supply bahan baku membuat harga kantung plastik daur ulang ini lebih mahal dibandingkan dengan yang lain. Untuk satu buah small bag, Ibu Tia mematok harga 40-45 ribu rupiah, tergantung pada variasi gambar.

Dan inilah contoh benda yang dibuat dari plastik daur ulang

redrena

~ by redrena on May 8, 2008.

21 Responses to “Sekali lagi tentang perempuan”

  1. Boleh minta contact Ibu Tia di Warakas? Thx. Elisa

  2. Ibu Tia bisa dihubungi di 081310417460

  3. salam kenal

  4. salam kenal

    roy said this on November 6, 2008 at 6:23 pm (edit)

    trims sudah mampir. mereka termasuk wilayah administrasi jakut, bagaimana nih pemda sudah ikut ambil bagian?

  5. salam kenal

    Bisa minta alamat dan no tlp ibu Tia di warakas,Thanks

  6. halo dewi..

    makasih ya udah mampir. nomor telpnya ibu tia adalah 081310417460.
    alamatnya di Warakas III Jakarta Utara. Telpon dulu saja deh, catatatn alamat rumahnya Ibu Tia saya lupa taruh. Maaf ya.. hehehehehe….

    Mau mulai melakukan recycle ya?

    Semoga sukses ya

    Salam,
    Rena

  7. boleh saya link blog anda di blog saya? tq sebelumnya..oya, sekarang saya juga lagi menekuni usaha seperti ini, membuat berbagai kerajinan dari sampah plastik.

  8. halo mas raihan. trima kasih sudah mampir. wah kalo punya infonya bisa dong dishare. insyaallah nanti bisa saya liput. trims ya

    rena

  9. wah keren, bisa menghasilkan uang tambahan

  10. Mb rena, bisa gak suply ke Jogja??soalnya saya dari dulu tertarik bget dgn produk daur ulang ini.Mohon bantuan & kerjasamanya.

    • Halo Mba Virly, maaf baru balas. Terima kasih untuk responnya ya. Mohon maaf sekali saya bukan orang yang membuat produk kerajinan tersebut. Di atas, menjawab respon dari Mba Dewi saya sudah mencantumkan nama dan nomor telp orang yang membuat kerajinan tersebut. Kalau Mba Virly tertarik bias langsung menghubungi Ibu Tia.. Terima kasih

      Rena

  11. tali yang pinggir tas itu namanya apa yahh??
    bolehh tanya kann tolong di jawab yahh..

    • Trima kasih untuk responnya mba fitri. Tali yang di pinggir itu namanya tali senar. yang biasa dipakai sama anak-anak untuk main layangan. bahannya plastik aja. tapi untuk bisa lebih kuat bisa juga dipakai tali untuk sol sepatu..

      rena

  12. sangat bagus untuk menyelamatkan bumi kita

    • Betul sekali Mas Arka, inisiatif seperti ini memang perlu diperluas, gak perlu besar dan massal tapi cukup untuk mengurangi sampah kita dan memberdayakan komunitas terkecil di lingkungan kita..

      rena

  13. maaf bu, saya ratna… hasilnya ituh di jual ga bu?? trims… kalau ada di supermarket, daerah mananya?? terimakasih..

    • Salam Mba Ratna,

      Panggil rena aja ya.. maaf banget lama membalasnya.. Hasil dari kerajinan itu sudah barang tentu dijual, karna memang tujuannya selain untuk mengurangi sampah juga untuk pemberdayaan masyarakat khususnya kaum perempuan. Tidak semua produk komunitas – komunitas ini yang dijual ke supermarket, sebagian besar dijual dengan sistem door to door atau di lingkungan terdekat. Yang dijual ke supermarket adalah mereka yang komunitasnya berada dalam dampingan salah satu produsen toiletries. Nah, mereka biasanya menyalurkan hasil tas kerajinan ini ke HERO supermarket (aduh saya jadi menyebutkan nama brand deh hehehe) di daerah Kemang.

      Terima kasih ya..

      Rena

  14. wah kreatif saya sangat suka ^^ heheh , by the way saya ada tugas juga bikin tas daur ulang , wah ini bisa jadi refrensi saya , thx yaaaa pemilik blog ini ^^

  15. Halo rena…aku seneng bgt nemu blog ini🙂 kebetulan aku lagi cari bahan daur ulang utk projek desain ku….bu tia bs lgsg aku kontak ya…..tx bgt
    yuni

    • Dear Yuni..

      Thanks udah mampir-mampir di blogku.. Iya, Yuni bisa menghubungi Ibu Tia langsung ke nomor tersebut. Semoga beliau belum berganti nomor ya.. tapi sebenarnya saat ini masih banyak juga individu maupun komunitas yang mulai melakukan hal tersebut..

      Trima kasih

      Rena

  16. 1.Ibu Bisa tidak kami membeli untuk kami jual di toko kerajinan kami?
    2.Bisakah kami dikirimi beberapa produk, kemudian harga per kodi paling murah jenis apa dan yang paling laku harga berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: