Layang-layang Persahabatan

Aku punya tiga orang sahabat. Mereka sahabatku sejak kecil. Kami tinggal di lingkungan yang sama, rumah kami pun berdekatan. Kami memiliki kesamaan, kata orang kami berasal dari keluarga yang “broken home”. Tapi kami sendiri tidak mengerti apa arti “broken home” itu. Yang kami tahu kami hanya punya satu orang tua, dan itupun karena satu hal yang menyedihkan.

Namaku Lingga., Arlingga tepatnya. Aku tinggal bersama ibuku. Aku anak tunggal. Ibuku seorang pekerja keras. Dialah yang membesarkanku seorang diri sejak aku masih kecil, mungkin sejak aku masih dalam kandungannya. Aku tidak mengenal ayahku karena Ibu tidak pernah menceritakannya padaku.

“Nanti saja ya, Nak ketika kamu sudah besar dan mengerti tentang kehidupan,” kata Ibu ketika aku bertanya tentang ayah dengan wajah murung. Dan sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi. Aku tidak ingin melihat Ibu bersedih, apalagi menangis.

Sahabat terdekatku yang pertama adalah Galuh. Dia hidup bersama dengan ayahnya. Ibunya baru saja meninggal karena tertabrak mobil beberapa waktu lalu. Hingga saat ini Galuh masih bersedih apalagi ketika teringat ibunya. Karena itu Galuh paling suka main ke rumahku jika Ibu sedang di rumah. Kadang aku sebal padanya, karena dia suka mencuri perhatian ibu.

“Berbagilah dengan sahabat-sahabatmu, Lingga. Terutama kasih sayang, karena merekalah yang berharga dalam hidupmu,” kata ibu menasihati setiap kali aku mulai cemburu pada Galuh.

Sahabatku yang terakhir adalah Panca. Dia memiliki banyak saudara. Senang sekali jika main ke tempanya, karena ada banyak mainan di sana warisan dari kakak-kakaknya. Orang tua Panca telah berpisah, orang dewasa bilang bercerai. Tapi bagi aku dan Galuh Panca sungguh beruntung karena memiliki banyak saudara dan mainan yang bisa dipakai sepuasnya.

“Beruntung apa kalian ini. Aku sedih karena kadang orang tuaku bertengkar kalau bertemu. Lagian barang-barang itu menyebalkan, semua cuma benda. Aku tidak punya kawan,” keluh Panca sewaktu pertama kali kami mulai bercerita.

Setiap hari kami pasti pergi ke sekolah bersama-sama, walaupun kami tidak bersekolah di tempat yang sama. Pertama kali pasti Galuh yang datang ke tempatku, menuruhku cepat-cepat dan berpamitan pada Ibu.

“Lingga, kamu ini lama sekali. Cepat sekolahmu kan paling jauh, nanti kita terlambat. Ibu, aku minta pisang gorengnya ya. Ibu mau berangkat kerja ya? Hati-hati ya Bu,” begitulah setiap hari terdengan suara Galuh yang memekakkan telinga.

“Ya, hati-hati ya kalian. Jangan bercanda di jalan. Lingga cepatlah selesaikan sarapanmu,” kata Ibu sambil mempersiapkan keperluannya bekerja.

Setelah selesai denganku, kami pergi ke rumah Panca. Di depan pintu gerbang rumahnya Panca sudah menunggu. Kalau pagi kami tidak ingin masuk ke dalam, karena terlalu ramai oleh suara-suara kakak-kakak Panca.

“Seperti biasa, kalian terlambat 5 menit. Pasti Lingga lama. Ayo, kita balap lari sampai sekolah Galuh,” ajak Panca. Panca anak yang selalu tepat waktu, setiap kali janjian pasti dia yang pertama kali datang.

***

Selain kesamaan yang pertama, yang tidak membanggakan, kami punya kesamaan yang lain. Kami suka bermain layang-layang. Sebenarnya sih aku yang lebih dulu suka, lalu menularinya pada Galuh dan Panca. Pertama kali diajak bermain mereka tidak mau, bahkan Galuh bilang

“Ah Lingga, ini kan permainan cowok. Masa Galuh disuruh main layang-layang. Gak mau apalagi kalau nanti kita harus kejar layang-layang putus. Gak mau ah, berbahaya. Galuh masih sayang nyawa,” gerutu Galuh. Lucu juga dia.

“Yah, Galuh kamu salah. Yang namanya mainan gak ada yang namanya mainan cowok atau mainan cewek. Emang ada namanya layangan cowok dan layangan cewek. Janji deh aku gak akan ngajak kamu ngejar-ngejar layangan. Kita main di tempat yang luas, di lapangan,” kataku meyakinkan Galuh dan Panca.

“Kecuali….” sambungku.

“Kecuali apa Lingga?” tanya Panca penasaran.

“Iya kecuali aku gak punya uang untuk beli layangan. Hehehe..” candaku.

“Huuu Lingga itu sih sama aja. Kamu kapan punya uang, kamu kan boros,” jawab Panca, sambil menjitak kepalaku. Akhirnya aku dihujani jitakan dan cubitan oleh Panca dan Galuh.

Akhirnya dengan berbagai perjanjian seperti tidak boleh mengejar layangan putus, tidak meminta uang dari orang tua masing-masing untuk membeli layangan sehingga kami harus menabung, dan bermain di lapangan, kami sepakat bermain layang-layang. Untuk itu setiap kali ingin bermain layang-layang kami harus berjalan cukup jauh ke lapangan bola di desa sebelah.

Ternyata Galuh sangat cepat menangkap ajaranku. Dia dengan cepat mampu menaikkan layang-layang, sehingga dia bisa bermain sendiri. Sedangkan Panca kadang masih sulit untuk mengendalikan layangannya. Hasilnya layang-layang miliknyalah yang paling cepat putus.

“Yah, Panca gimana sih kamu ini. Tuh kan putus lagi, putus lagi. Yah habis dong uang tabungan kita,” gerutuku.

“Iya deh maaf Lingga. Habis anginnya kencang, dan lagi ada yang dekat-dekat dengan layanganku,” sesal panca.

Siapapun yang memutuskan layangannya akan merasa menyesal, karena kami memiliki tabungan untuk membeli layangan. Uang saku kami, kami sisihkan untuk membeli layangan dan benang. Jadi jika tidak berhati-hati menerbangkannya akan mengecewakan teman-teman yang lainnya. Bagi kami saat itu uang sekecil apapun sangat berharga.

Hampir setiap hari kami bermain layang-layang, kecuali ketika masa ulangan umum atau ketika akan ulangan harian. Waktu bermain ini sangat menyenangkan dan membuat kita semakin akrab. Hingga saat itu tiba.

***

Beberapa hari ini Galuh terlihat murung. Pertama-tama kami pikir Galuh sedang teringat pada ibunya. Jika sedang begitu biasanya kami diamkan dia dengan renungannya. Galuh suka marah kalau diganggu, tapi jika sudah selesai biasanya dia bercerita pada kami dan riang kembali. Tapi yang ini berbeda, aku dan Panca bisa merasakannya. Selain tampak murung, Galuh juga terlihat pucat dan tidak bersemangat. Tubuhnya sering kali dibalut jaket atau sweater dan dia mulai malas jika diajak bermain layang-layang.

“Kamu kenapa Luh,? Sakit ya?” tanyaku suatu hari karena sudah tidak tahan.

“Iya, kamu kelihatan pucat seperti mayat. Pasti bukan karena sedang ingat Ibumu kan?” tanya Panca terlihat cemas.

“Ah tidak apa-apa. Aku hanya lemas. Tapi nanti sore aku mau ke dokter sama Bapa,” jawab Galuh menenangkan.

“Aku ikut ya? Ke dokter mana?” tanyaku.

“Aku juga ya. Kita pergi sama-sama biar tahu kamu sakit apa,” Panca tidak ingin ketinggalan.

“Gak usah deh, aku pergi sama ayahku saja. Lagian besok kan kita ada ulangan. Matematika lagi, agak susah kan kali ini. Mending kalian belajar dulu nanti kalau sudah selesai baru ke rumahku. Tar aku kasih tahu deh,” dengan susah payah Galuh menjelaskan.

Melihat sakitnya Galuh bicara, kami tidak tega. Akhirnya kami memutuskan pulang dan berjanji akan datang lagi nanti ketika Galuh sudah pulang. Kami ingin Galuh istirahat dan sehat kembali.

Menanti sore bagiku lama sekali. Aku tidak bisa konsentrasi belajar. Rumus-rumus yang ada di depanku seperti cacing yang menjijikkan. Begitupun dengan Panca, karena kami belajar bersama. Akhirnya setelah kami pikir Galuh sudah pulang, kami bergegas ke rumah Galuh.

Pukul 7 malam, Galuh dan ayahnya belum juga pulang. Kami mulai cemas menunggu. Tidak beberapa lama ayah Galuh datang, tapi kami tidak melihat Galuh.

“Galuh kemana Pak? Apa sudah sembuh? Sakit apa dia?” tanya kami bertubi-tubi.

“Sttt… tenanglah kalian. Galuh ada di rumah sakit sekarang. Dia harus dirawat sementara ini. Bapa ke sini mau mengambil beberapa barang Galuh dan menyampaikan pesan Galuh pada kalian. Untunglah kalian ada di sini,” kata Bapa.

“Galuh sakit apa Pak? Apa pesannya,” tanyaku.

“Galuh pesan kalian harus tetap berkawan, dan tetap mainkan layang-layang. Galuh sakit leukemia Lingga, Panca,” tak disangka ayah Galuh mulai menangis. “Bapak akan kehilangan Galuh, Nak. Bapak akan kehilangan Galuh.”

“Leukimia, penyakit apa itu? Galuh akan hilang?” tanya Panca tak mengerti.

“Sudahlah, kalian pulanglah dulu. Besok sesudah pulang sekolah kalian boleh menengok Galuh ke rumah sakit. Hari sudah malam, Bapa akan pergi lagi menemani Galuh,” kata ayah Galuh meminta kami pulang.

Akhirnya kami pun pulang dengan banyak pertanyaan tentang penyakit Galuh. Sesampainya di rumah aku bertanya pada Ibu apa itu leukemia. Ibu bilang penyakit itu berbahaya, penyakit sel darah ketika sel darah putih lebih banyak dari pada sel darah merah sehingga orang yang menderitanya akan kekurangan sel darah merah yang akan menyebabkan kematian. Sontak aku merasa kaget, demikian juga dengan Panca. Kami tidak mengira kami akan kehilangan Galuh demikian cepat. Bukan karena Galuh pindah rumah seperti yang sering dia katakana pada kami, tetapi meninggalkan kami ke dunia yang lain. Kami berharap penyakit Galuh tidak separah itu, sehingga kami bisa bersama bermain lagi. Kami berdoa, memohon pada Tuhan kesembuhan Galuh.

Esoknya kami langsung ke rumah sakit begitu sekolah usai. Di rumah sakit kami lihat Galuh semakin putih dan pucat saja. Kami sedih sekali. Kata dokter yang baru saja memeriksa Galuh, penyakit Galuh terlambat diketahui. Kondisi Galuh kritis sekarang. Di kedua pergelangan tangannya ada jarum infus. Yang satu berwarna putih dan yang satu berwarna merah seperti darah. Mata Galuh kecil sekali.

“Galuh, ini Lingga dan Panca datang menjenguk Galuih. Galuh apa kabar? Lingga dan Panca kangen sekali sama Galuh. Galuh cepat sembuh, kita main lagi nanti,” tak sadar aku meneteskan air mata melihat keadaan Galuh.

“Iya Galuh, Panca juga ingin Galuh cepat sembuh. Tadi kita habis ulangan, pasti Galuh sudah ketinggalan pelajaran banyak. Nanti Panca beritahu teman-teman sekelas Galuh. Galuh cepat sembuh dong,” kata Panca lirih.

“Eh ada Lingga dan Panca. Kalian nengok Galuh ya?Makasih ya. Galuh senang sekali. Galuh sepi disini, Cuma ditemani ayah. Gak ada yang ngajak Galuh cerita dan bercanda. Iya deh Galuh cepat sembuh. Galuh ingin main layang-layang lagi,” jawab Galur lemah. Kami tidak tega melihatnya.

“Sudah ya, Dik jangan bicara panjang-panjang dulu. Atur nafasnya,” kata Pak Dokter yang masih ada di sebelah Galuh.

Sakitnya Galuh lama sekali. Hampir satu bulan Galuh ada di rumah sakit. Setiap hari kami menengok Galuh. Aku dan Panca bercerita soal kejadian hari itu di sekolah, di rumah, di perjalanan. Kami sudah tidak pernah bermain layang-layang lagi. Kami hanya ingin Galuh sembuh. Kami pikir dengan menemani Galuh, Galuh bisa riang kembali dan mempercepat kesembuhannya.

Tapi sepertinya Galuh sudah sangat kesakitan, hingga pada satu sore Galuh pergi. Galuh pergi menemui ibunya. Kami ada di samping Galuh ketika Galuh pergi. Melihat ketika ayah Galuh meminta Galuh mengucapkan syahadat sesaat sebelum Galuh pergi. Melihat dokter dan suster melepaskan infus dari tangan Galuh. Melihat tubuh Galuh ditutupi kain putih. Dan melihat ayah dan ibu menangis. Kami pun menangis. Tidak ada lagi Galuh teman kami. Galuh yang cerewet. Galuh yang periang. Galuh adik kecil kami.

Pada hari penguburan Galuh kami datang dan ikut berdoa semoga Galuh bahagia di sana, bertemu dengan ibunya seperti yang diinginkan Galuh. Kami juga ingat pesan Galuh. Galuh bilang jika kami kangen Galuh, kami pergi ke lapangan dan bermain layang-layang. Terbangkan layang-layang setinggi mungkin karena Galuh akan menitipkan pesannya lewat layang-layang kami.

Mulai saat itu bermain layang-layang bukanlah permainan biasa untuk kami. Bermain layang-layang adalah cara kami bermain dan bicara dengan Galuh. Di setiap laying-layang kami tuliskan pesan untuk Galuh. Kami terbangkan setinggi mungkin agar Galuh bisa meraihnya. Sesudah itu kami merasa lega dan merasa Galuh tetap ada di samping kami.

Itulah persahatan Lingga, Galuh, Panca dan layang-layang.

***

redrena

~ by redrena on May 9, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: