Menggapai Cita-Cita

Kemarin saya mendapat satu paket bingkisan dari Tupperware. Di dalamnya ada sebuah buku cerita yang isinya cerpen-cerpen karya anak-anak SD, SMP dan SMA tentang persahabatan dan membantu sesama. Judul bukunya Children Helping Children. Saat membaca buku itu saya teringat cerpen-cerpen yang pernah saya buat. Cerpen tentang dunia anak yang tentunya tidak jauh dari persahabatan dan usaha meraih cita-cita mereka. Inilah salah satunya.

“Hore. Ibu… Ibu … Aku lulus ibu. Aku lulus!” Dita berteriak kegirangan sesaat setelah menerima surat kelulusan sementara dari Ibu Sinta, wali kelasnya.

“Selamat ya Dita. Kamu hebat sekali. Nilaimu tertinggi di antara teman-teman sekolahmu,” kata Bu Sinta ikut bangga.

“Terima kasih, Bu. Semua kerja keras saya selama enam tahun tidak sia-sia,” kata Dita sambil melihat surat kelulusan sementara yang baru diberikan Bu Sinta.

“Dengan nilai sebagus ini, kamu bisa masuk ke SMP manapun yang kamu suka, Dit. Rencananya kamu mau mendaftar ke mana? Sekolah bisa ikut membantu kamu mendaftarkan diri ke SMP yang kamu inginkan,” terang Bu Dita.

Tiba-tiba raut wajah riang Dita mendadak berubah murung. “Dita belum tau, Bu. Belum punya pilihan,” kata Dita gugup.

“Baiklah, tapi nanti jangan lupa bicarakan dengan Ibumu ya. Ingat sepuluh hari lagi batas waktu mendaftar ke SMP,” kata Bu Sinta mengingatkan.

“Terima kasih,Bu”

***

“Ada apa, Dit? Wajahmu kok murung? Nilai ujianmu buruk ya?” tanya Rudi kepada Dita saat mereka berjalan pulang dari sekolah.

“Ah tidak, Rud. Nilai ujianku baik kok, dan aku lulus dengan nilai terbaik,” kata Dita pada Rudi dan Alia, dua orang sahabatnya.

“Wah, hebat dong. Kamu memang pintar, Dita. Coba kalau aku sepintar kamu, aku jadi tidak bingung nih milih sekolah. Oh ya, rencananya kamu mau melanjutkan sekolah ke mana?” Alia sahabatnya yang agak cerewet ini mulai berkomentar.

“Yah, nilaiku memang lebih baik, tapi aku tidak beruntung, Rud, Al. Aku sedang bingung belum tahu mau melanjutkan ke mana. Karena sepertinya tahun ini pengeluaran Ibu akan besar. Kan kalian tahu, adikku yang paling kecil akan masuk SD,” Dita mulai bercerita tentang permasalahannya.

“Hmm, iya yah. Mana sekolah sekarang mahal lagi. Kata ayahku masuk ke SMP Negeri saja sekarang sudah harus mengeluarkan uang Rp.1 juta. Itu belum termasuk biaya yang lainnya untuk anak baru seperti kita,’ terang Rudi.

“Ah masa sih, Rud. Wah makin berat saja aku bilangnya sama Ibu. Ah, gak tau ah. Aku pusing!” Dita setengah berlari menuju rumahnya yang tinggal beberapa langkah.

“Dita tunggu…” teriak Rudi dan Alia sambil mengejar.

Di depan pagar rumah Dita, “Dita, sabar ya. Ingat kan kata ibumu, pasti ada jalan kalau ada kemauan keras. Bersemangatlah Dit, kami pasti bantu kok,” kata Alia sambil memegang tangan Dita.

“Iya Dit, kalau ada apa-apa datanglah ke rumahku, kalau kami bisa bantu pasti kami bantu,” tambah Rudi.

“Iya deh, kawan-kawan. Aku masuk dulu ya, kasihan Ibu sudah lama menunggu.”

***

Dita, Ananda Praditya, nama lengkapnya. Bersama ibu dan dua orang adiknya, Dita tinggal di sebuah rumah kecil di daerah Bogor. Ayah Dita telah lama tiada, ketika adik Dita, Aan masih berumur satu tahun. Kini Ibu Ditalah yang menjadi kepala keluarga, dengan bekerja sebagai buruh pabrik di sebuah pabrik pakaian jadi di dekat rumah mereka. Ditalah yang setiap harinya mengurus adik-adik dan rumah ketika Ibu bekerja. Hari ini Ibu sengaja tidak masuk kerja karena ingin melihat secepat mungkin hasil ujian Dita.

“Maafkan Ibu ya, Nak. Bukan Ibu tidak ingin menyekolahkanmu lebih tinggi, Ibu hanya tidak mampu dengan biayanya. Sekolah sekarang mahal sekali. Ibu juga sudah tidak diperbolehkan lagi meminjam uang di pabrik. Ibu juga sedih dengan keadaan ini, karena Ibu tidak mampu memberi yang terbaik untuk Dita. Sayang sekali padahal nilaimu begini tinggi,” tutur Ibu yang terlihat menjadi jauh lebih tua dibanding umurnya yang baru 35 tahun.

Ibu memandangi terus surat tanda kelulusan sementara Dita. Pikirannya menerawang, terlihat dari sorot matanya. Dita menjadi kasihan, tapi dia juga punya keinginan yang tidak bisa dibendung untuk melanjutkan sekolahnya.

“Jadi bagaimana dong,Bu. Masa Dita hanya sekolah sampai SD saja. Malu kan bu sama teman-teman. Lagian kata Bu Sinta sekarang kan harus ikut program wajib belajar 9 tahun, Bu,” kata Dita setengah menangis.

“Iya nak, Ibu juga tahu. Tapi mau bagaimana lagi. Tahun ini adikmu Aan juga masuk SD. Uang tabungan Ibu sudah Ibu pakai untuk biaya masuk sekolah Aan. Belum Ibu harus membeli baju dan buku pelajaran untuk dia,” terang Ibu.

“Ah, Dita sebel. Kenapa sih Dita tidak seperti anak yang lain, yang tidak usah bersusah-susah hanya untuk sekolah. Kenapa sih, Bu? Kan Dita…” isak Dita.

“Dita, kamu tidak boleh begitu! Kita tidak boleh menangisi keadaan dan merutukinya. Kita harus tetap berusaha Dita. Bekerja keras untuk semua hal yang kita inginkan,” Ibu memotong tangisan Dita, mengingatkan anak sulungnya itu.

“Maafkan Dita Ibu. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi. Tadi Dita khilaf, karena Dita ingin sekali ke SMP. Dita tidak memikirkan adik-adik,” sesal Dita.

“Maafkan Ibu juga Dita. Sekarang lebih baik jika kita pikirkan jalan keluarnya,” kata Ibu.

***

Satu bulan sudah berlalu sejak masa penerimaan siswa baru, dan Dita masih belum juga bersekolah. Kini Dita lebih banyak di rumah, menjaga adik-adiknya dan mengurus rumah. Tapi Dita tidak berdiam diri meratapi kesedihannya. Dita bangkit kembali. Kini selain menjaga rumah, Dita juga mengasuh beberapa orang anak kecil di lingkungan rumahnya. Orang tua dari anak-anak itu seperti ibu Dita, menjadi buruh di pabrik.

Dita dibayar untuk tugasnya menjaga anak-anak itu. Uang yang didapatnya dikumpulkan untuk biaya sekolah dia tahun depan. Hingga satu siang,

“Hai Dita, apa kabar?” tiba-tiba Alia dan Rudi datang mengunjungi rumah Dita.

“Hai Rudi, Alia. Kabar baik. Tumben kalian datang kemari,” jawab Dita

“Kami kangen kamu Dita. Sepi rasanya bersekolah kalau kamu tidak ada. Oh, ya aku dan Rudi sekarang bersekolah di tempat yang sama tapi sayangnya tidak sekelas,” jelas Alia sambil berjalan masuk ke rumah Dita.

“Wah senangnya. Kalian sabar ya. Tahun depan aku pasti bersama-sama kalian lagi,” teriak Dita dari dapur karena sedang menyiapkan minuman.

“Cerita dong Dit, kamu satu bulan ini ngapain aja?” tanya Rudi sambil kipas-kipas karena kepanasan setelah berjalan agak jauh ke rumah dita.

“Mulai beberapa hari lalu, aku menjadi penjaga anak-anak untuk ibu-ibu yang bekerja. Lumayan sih hasilnya. Uang yang kudapat, kukumpulkan. Kata Ibu biar uang itu sepenuhnya milikku untuk biaya aku masuk SMP nanti. Jadi akulah yang membiayai sekolahku sendiri. Nanti kekurangannya akan ditutupi oleh ibu,” terang Dita sambil menyuguhkan minuman pada Alia dan rudi.

“Wah. Lagi-lagi hebat sekali sahabatku ini. Aku jadi malu. Seharusnya aku juga sudah bisa berusaha sepertimu kan,” kata rudi.

“Yah, setiap orang kan berbeda Rud, Al. Yang penting niat dan kerja keras, ya gak? Sudah ah diminum dulu, dan ceritakan soal sekolah baru kalian, biar aku membayangkan dan menjadi pemicu semangatku,” kata Dita yang kini sudah kembali keceriaannya.

***

Tahun ajaran baru sudah tiba. Tak terasa satu tahun telah berlalu sejak Dita lulus SD dan bersedih karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke SMP. Kini berbekal ijazah tahun lalu yang masih baik karena tersimpan dengan rapi, demikian juga nilainya yang masih berlaku, Dita melangkah menuju SMP favoritnya. Bersama ibu Dita berjalan dengan penuh semangat. Dalam tas Ibu di sana tersimpan uang hasil jerih payah Dita selama satu tahun. Dengan uang itu Dita menggapai cita-citanya sendiri.

***

redrena

~ by redrena on May 9, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: