Kedelai Kita

Saat pergantian tahun, masyarakat kita terutama para pencinta makanan murah meriah namun kaya gizi berbahan dasar kedelai harus mengurut dada. Tahu dan tempe goreng tidak lagi murah meriah, bahkan sampai sekarang harganya belum mengalami penurunan. Sebagai pecinta tahu sumedang saat ini saya harus merelakan Rp500 per satu potong tahu garing ini. Kalau di pedagang tahu yang biasa saya kunjungi di UKI saya dapat memperoleh tahu yang ukurannya agak lebih besar, namun di pedangan lain sepertinya tidak.

Ketika saya masih di Bisnis Indonesia saya pernah menulis tentang problematika kedelai kita. Tahun itu, 2005 mulai terjadi kenaikan harga kedelai yang cukup signifikan. Tidak hanya itu, monopoli distribusi kedelai yang tadinya di tangan Bulog dan Kopti, saat itu mulai dipegang lagi oleh para sindikat yang di dalamnya para kartel-kartel importir kedelai. Berikut kisahnya

Sindikat importer kedelai singkirkan Koperasi Tahu Tempe

Dimuat di Harian Bisnis Indonesia pada 4 Februari 2005

Membangun sebuah koperasi yang dapat memakmurkan anggotanya bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi dengan melibatkan hampir 500.000 anggota serta mampunyai dampak ekonomi yang besar.

Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti), pada masa keemasannya di zaman rezim Orde Baru, merupakan salah satu koperasi yang termaju di Indonesia, dengan anggota hampir setengah juta perajin tahu tempe dengan melibatkan jutaan pekerja.

Efek yang ditimbulkan dari kehadiran koperasi ini sunggu amat besar kala itu, banyak anggotanya yang terbantu dalam usaha pembuatan tahu tempe. Bahkan beasiswa dan ongkos naik haji sebagian anggota Kopti ditangung oleh dana sisa hasil usaha.

Kebesaran Kopti yang tergabung dalam wadah Induk Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Inkopti) karena peranan pemerintah waktu itu yang memberikan fasilitas lebih serta perhatian penuh.

Fasilitas itu berupa dominasi impor kedelai oleh Bulog yang disalurkan ke Kopti. Sehingga anggota Kopti memperoleh harga kedelai yang stabil serta bersaing. Juga importasi kedelai disesuaikan dengan panen kedelai dalam negeri sehingga tidak merugikan petani local.

Dengan perhatian penuh pemerintah, Kopti berkembang luar biasa. Di sisi lain, konsumsi tahu tempe di Indonesia tidak pernah surut, melainkan terus bertambah dengan seiring bertambahnya jumlah penduduk.

Menurut mantan Ketua Inkopti yang sekarang menjabat Ketua Kopti Bandung, Akil Dermawi, peran koperasi pada waktu itu sudah sedemikian besar, menguasai 80% pasokan kedelai nasional.

Bahkan sejumlah Kopti di Indonesia sudah mempunyai aset berharga dengan nilai yang cukup besar untuk kepentingan anggota. Di antaranya, untuk pembinaan sistem usaha, manajemen, peningkatan pendidikan keluarga hingga pembagian SHU.

“Waktu itu yang menjadi pesaing Kopti hanya terbatas pada pedagangn yang bergerak di bidang perdagangan kedelai dan tarafnya hanya internasional. Karena mereka tidak mempunyai jaringan perdagangan sampai ke daerah-daerah seperti Kopti,” ungkapnya.

Kejayaan memudar

Tetapi bagaimana kondisinya sekarang? Kopti sudah berada di ujung tanduk kehancura. Eksistensi sebagai sebuah koperasi yang besar mulai memudar. Pasar-pasar yang selama ini dipegang Kopti direbut kaum konglomerat dengan bantuan perbankan nasional.

Lebih dari itu, lanjutnya anggota Kopti yang dulu banyak menikmati hasil usaha koperasi, berbondong-bondong mengalihkan pembeliannya ke kalangan swasta yang melakukan praktik penjualan tidak fair.

Kalangan pemasok kedelai swasta itu yang terdiri dari segelintir konglomerat, melakukan penjualan dengan harga lebih murah dibandingkan dengan Kopti selama bertahun-tahun, meski pedagang swasta itu harus merugi.

Karena kekuatan modalnya yang besar dan didukung oleh pasokan uang dari perbankan, akhirnya Kopti harus tersingkir. Kopti dianggap tidak bankable di mata perbankan.

Menurut Akil, setelah Kopti tersingkir maka sindikat importer kedelai tersebut, yang dibantu sejumlah oknum pejabat di pemerintahan, mulai mampu memainkan harga sekehendaknya dengan keuntungan Rp500 per kg sampai Rp1.000 oer kg.

Padahala, semasa Kopti berjaya, keuntungan yang diperoleh Kopti tidak lebih dari Rp150 per kg. “Itu juga Rp75 kembali lagi ke anggota dan Rp75 per kg untuk biaya operasional koperasi.”

Permainan harga oleh kalangan swasta telah membuat perajin di sentra produksi tahu Cibuntu, Badung, resah. Mereka menduga kenaikan terjadi karena permainan harga di kalangan pemasok kedelai.

Atang Soebandi, pemilik pabrik tahu PT Mandiri Djaya Lestari, mengatakan setiap enam bulan sekali harga keelai impor pasti megnalami kenaikan Rp100 – rp200 kg. Para perajin tahu pun tidak memiliki pilihan lain untuk membeli kedelai. Pasalnya, saat ini hanya terdapat beberapa toko pemasok kedelai yang masih berjalan. Masalahnya, pemilik tokonya, ya … itu-itu juga.

Menurut Atang, dari beberapa toko yang masih menyediakan kedelai, tidak ada ketentuan harga yang pasti. Sehingga mereka bisa dengan mudah menaikkan harga kacang. Di daerah Cibuntu sendiri hanya terdapat tiga gudang kedelai yang menyediakan kedelai bagi ratusan perajin tahu.

“Dulu memang kami lebih mudah mendapatkan kedelai dengan harga murah dari Kopti. Tapi semenjak tahun 1992 kami keluar dari sana karena Kopti sudah tidak lagi menyediakan kedelai impor.”

Hal yang sama juga dilakukan oleh para perajin tahu dari Cibuntu. Untuk menjaga agar selalu mendapatkan kedelai secara teratur, setiap hari harus membeli lima kuintal kedelai seharga Rp4.000 per kg dari sebuah gudang kacang di daerah Jamika Bandung.

Setiap kali terjadi kenaikan harga, perajin mengambil strategi dengan cara menyesuaikan ukuran tahu. Ini dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian. Taktik ini ditempuh lantaran sulit memotong gaji pekerja atau menaikkan harga ke pengecer.

Tahu Cibuntu yang dulu terkenal karena ukurannya yang besar, saat ini semakin memudar. Ukuran tahu Cibuntu sekarang hanya berukuran 4×4 cm, padahal sebelumnya mencapai 5×5 cm per buah.

Permainan importir

Didit Yoseph, Marketing Manager PT Merdeka Suryatama, salah satu pedagang kedelai, mengungkapkan naiknya harga kedelai terjadi karena adanya permainan harga di kalangan importir di Jakarta.

Selama ini jalur distribusi kedelai asal Amerika dan Argentina masih harus melalui tangan importir besar di Jakarta. Merekalah yang memiliki akses dengan petani kedelai di negara asal kedelai impor tersebut.

“Mereka juga mengetahui pasar kedelai di Indonesia cukup bagus. Sehingga berupaya bisa mengendalikan harga,” ungkapnya.

Bahkan di Semarang, Jateng, harga kedelai di pasar ritel sempat mencapai Rp5.000 per kg. Sementara pihaknya sendiri tidak mampu berbuat apa-apa untuk menurunkan harga. Didit menjelaskan sangat ulit memasok langsung kedelai dari negara asalnya tanpa bantuan perantara. Selain itu kendala utama adalah kesulitan dalam memperoleh L/C.

Gonjang-ganjingnya harga kedelai membuat perajin kesulitan karena harga diatur oleh kalangan importir yang berada di Jakarta. Begitu juga dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM yang membuat biaya transportasi menjadi naik.

Akil mengungkapkan kejayaan Kopti untuk membantu menyediakan bahan baku kedelai di masa mendatang tergolong sulit. Selain keberpihakan pemerintah yang cenderung memberikan angin lebih besar ke swasta juga para konglomerat itu sendiri yang anti koperasi.

“Sejak kami berdiri, Kopti selalu diupayakan untuk tidak berkembang oleh kalangan kartel tersebut dengan berbagai cara. Termasuk isu liberalisasi perdagangan, padahal bagi perajin manfaat koperasi jauh lebih baik dari pada pengusaha swasta.”

Dia memprediksikan dengan permainan harga yang dilakukan segelintir pengusaha tersebut, ada kemungkinan beberapa tahun ke depan Kopti sudah akan ditinggalkan anggotanya.

Kalau Kopti sudah runtuh, maka kemenangan ada di pihak pedagang swasta yang belum tentu memikirkan kesejahteraan perajin tahu temped an petani kedelai local, melainkan menggenjot keuntungan sebesar-besarnya dari masyarakat Indonesia.

***

Dan ketika masyarakat (perajin tahu tempe dan konsumen) resah dengan harga kedelai yang mahal ditambah pasokan yang terbatas, dengan seenaknya PT Cargill Indonesia menimbun 13 ribu ton !!! kedelai importnya di gudang mereka di Surabaya, Januari 2008.

redrena

~ by redrena on May 14, 2008.

One Response to “Kedelai Kita”

  1. enggak ada postingan lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: