May on Mei

” Kita bisa menutup mata dengan apa yang terjadi di depan kita, tapi kita tidak dapat menutup hati kita untuk mengatakan sesuatu yang benar.”

Bulan Mei tidak akan pernah hilang dari ingatan bangsa ini, seperti halnya bulan Agustus atau September. Bagi sebagian dari kita Mei 1998 dan Mei Mei berikutnya selalu meninggalkan kenangan, sebagian besar berisi kepahitan. Dan kenangan kepahitan itulah yang divisualisasikan dalam film berdurasi 105 menit. Dari mulut seorang perempuan bernama May tentang pengalamannya di bulan Mei.

May adalah seorang perempuan muda cantik keturunan etnis Thionghoa yang bermimpi menjadi seorang artis terkenal. May tinggal bersama dengan ibunya, perempuan paruh baya pemilik sebuah kedai mie ayam di depan rumahnya di daerah Glodok (kalau tidak salah ya). Berdua mereka menjalankan bisnis keluarga di rumah yang sudah berumur 200 tahun.

Bersama dengan Ares, kekasihnya May berusaha menggapai impiannya menjadi artis terkenal dan hidup bahagia. Namun satu hari di bulan Mei, May harus kehilangan segalanya. Satu hari yang tidak pernah diduga May, ia harus kehilangan ibunya, terusir dari rumahnya, kehilangan kekasihnya, kehilangan anaknya dan kehilangan mimpinya. Keluarga itu tercerai berai, dipaksa harus berpisah dan kehilangan segalanya.

Hingga satu masa setelah 10 tahun kejadian yang tak terlupakan itu. Ketika May harus menjalani hidup layaknya mayat hidup di pojok bar di Kuala Lumpur, ketika ibu May hidup seperti orang linglung di sebuah kedai makanan di Malaka, dan ketika Ares tengah kebingungan mencari cahaya hidupnya, kisah ini akhirnya bertepi.

Tapi ternyata tidak hanya May, ibunya dan Ares yang tersiksa karna peristiwa Mei’98. Ada Pak Gandang, seorang pengusaha laundry yang sukses yang juga menyimpan siksa. Sebuah sertifikat rumah berusia 200 tahun adalah hutang Sugarda pada keluarga May yang ingin dilunasinya. Meski untuk itu ia terpaksa menjual lebih banyak dari yang didapat, menjual semua hasil kerja kerasnya. Semua untuk hati yang tidak bisa menutup dari kebenaran.

Film yang disutradarai oleh Viva Westi ini terbilang film yang unik dibandingkan film-film lain di khasanah perfilman Indonesia. Sengaja diputar perdana 5 Juni di bioskop Indonesia, May berusaha menghadirkan satu kisah lain dari potongan kisah peristiwa Mei ’98. Seperti yang dituliskan di websitenya http://may-themovie.com, Viva Westi menyatakan kisah dalam film ini bukanlah kisah nyata, tapi dibuat berdasarkan riset yang bisa dipertanggungjawabkan. Temanya sangat universal tentang kekasih yang terpisah, ibu yang kehilangan anaknya dan seorang lelaki yang pernah melakukan kesahalan karena memanfaatkan situasi dan ingin memperbaikinya. Hanya dengan cinta dan rasa maaf kesalahan masa lalu itu bisa diterima dengan ikhlas. Yang salah adalah salah, dan yang benar tidak pernah menjadi salah.

Ini adalah kali pertama saya menonton film Indonesia yang berkesan. Meski jumlahnya yang sangat terbatas, namun saya senang masih ada sutradara-sutradara Indonesia yang cukup cerdas menghadirkan kondisi sosial masyarakat ke dalam layar bioskop. Berusaha untuk tidak melakukan penggiringan opini terhadap pihak-pihak tertentu sang penulis naskah, Dirmawan Hatta merajut cerita dan konflik antara May, Ares, Ibu May, dan Pak Gandang dalam bingkai peristiwa Mei’98.

Alur cerita maju mundur menjadi kejutan tersendiri buat saya dan membuat 105 menit dalam bioskop yang hanya diisi oleh 6 orang ini tidak terasa lama. Namun sayang, cerita yang bagus dan set yang menarik tidak didukung oleh pemeran utama yang mumpuni. Jenny Chang pemeran May dan Yama Carlos pemeran Ares masih terlalu datar dalam mengekspresikan kepahitan hidup yang harus dialami kedua orang itu. Namun Tutie Kirana pemeran Ibu May, Lukman Sardi pemeran Pak Gandang cukup total mengekspresikan konflik yang terjadi dalam hidup mereka.

Tidak ingin berpanjang-panjang, jika kamu ingin memulai berbuat jujur terhadap diri sendiri, menonton film ini mungkin akan membukakan hatimu.

redrena

~ by redrena on June 9, 2008.

6 Responses to “May on Mei”

  1. sepertinya km cocok jadi penulis sinopsis film ren. makasih rekomendaasinya

  2. jadi udah nontoh? gimana menurutmu?

  3. belum nonton e. tapi kalau baca resensimu, film ini dibikin bukan sekedar menangkap peluang bisnis. tapi ada ideologi yang mau disampaikan.

  4. bukan sebuah ideologi tapi gagasan membaca sebuah sejarah dari sudut pandang korban.

  5. keren juga, gua suka dengan yang disajikan, gua mesti belajar banyak tentang kehidupan, teritama sejarah yang terlupakan…..

  6. iya sayang,seperti halnya film-film “berkualitas” lain di Indonesia, film ini tidak bertahan lama di papan layar bioskop kita. Terima kasih sudah berkunjung.

    rena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: