Susahnya Mau Berbuat Baik

Sabtu, 7 Juni lalu kantorku mengadakan acara reboisasi dalam rangka menutup musim penayangan talk show yang mengangkat tema pemanasan global. Selain acara reboisasi di saat yang sama kami juga melakukan shooting talk show dengan teman Reboisasi di Indonesia. Sekaligus menjadi acara shooting off air talk show pertama kali di luar studio. Kegiatan ini juga menyertakan karyawan DAAI TV dan teman-teman pelajar. Sekitar 250 orang kami undang untuk hadir dalam acara tersebut. Untuk kebutuhan itu maka kami memilih lokasi yang cukup strategis, dekat dengan kantor dan cukup menggambarkan tema yang sedang kami angkat.

Setelah berunding dan melakukan survei di beberapa tempat kami memutuskan Hutan Lindung Angke Kapuk sebagai tempat shooting plus tanam pohon. Tapi apa dinyana, maksud baik tidak selalu berjalan baik.

Sebetulnya Hutan Lindung Angke Kapuk bukanlah pilihan pertama tim kami sebagai lokasi kegiatan. Sebelumnya saya sangat berminat melakukan kegiatan ini di Taman Wisata Angke Kapuk. Tempatnya cukup bagus dari segi pengambilan gambar. Pengelola sudah menyiapkan tempat-tempat khusus untuk menanam bakau. Tapi sayang ketika kami mengutarakan maksud kami, kami dibuat terkejut. Ternyata untuk menanam pohon bakau di tempat itu kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000 per bibit. Bayangkan jika kami ingin menanam 1000 bibit. Bisa dibayangkan kami harus mengeluarkan uang sebesar 50 juta rupiah hanya untuk menanam bibit pohon.

Kami sempat bertanya mengapa harus ada membayar sebesar itu untuk sebuah kegiatan yang kami tahu itu bermanfaat besar bagi lingkungan ini. Pihak pengelola Taman Wisata, Ibu Murni menyatakan bahwa dirinya juga tidak sepakat dengan sistem seperti itu. Selama ini ia memang diberi wewenang untuk mengelola tempat itu oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam DKI Jakarta. Untuk itu Ibu Murni dibebaskan untuk melakukan kegiatan apapun dengan catatan tidak digratiskan. Sehingga mau tidak mau Ibu Murni menetapkan sejumlah “harga” bagi siapapun yang melakukan aktivitas di sana, termasuk melakukan penanaman pohon.

Tidak sepakat dengan aturan itu, maka kamipun mencari daerah lain. Bergeser sedikit ada Hutan Lindung Angke Kapuk. Setelah melakukan survey dan bertanya dengan petugas setempat (tidak ingin terkejut untuk kedua kalinya), kami menghubungi pengelola tempat itu. Adalah Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta yang memiliki wewenang pengelolaan hutan lindung terakhir di DKI Jakarta. Berbeda dengan pengalaman di Taman Wisata Angke Kapuk, kami tahu bahwa kamipun harus mengeluarkan sejumlah uang untuk melakukan penanaman pohon di tempat itu. Kali pertama pihak Dinas memberikan harga 5.000 rupiah per bibit, belum termasuk ongkos pembersihan tempat.

Sebagai media televisi yang tidak berorientasi pada profit kami sering kali merasa sulit jika melakukan kegiatan yang membutuhkan biaya besar. Jika dihitung-hitung dibutuhkan sekurangnya 3 juta rupiah untuk menanam 1000 pohon plus sekitar 100 ribu untuk pembersihan lahan. Patricia, produserku mencoba bernegosiasi dengan Dinas. Kali kedua mereka menyatakan membebaskan kami dari segala biaya karna dianggap bertujuan sosial. Kami hanya diminta membayar 300 ribu rupiah untuk membersihkan lahan dan menyediakan lubang untuk penanaman. Patricia setuju, dan segala hal pun disiapkan.

Kali ketiga mendekati hari H, pihak Dinas berubah pikiran. Mereka meminta kami membayar Rp 2.500 per bibit. Ketidakkonsistenan ini membuat kami bingung, curiga dan lelah. Mengapa ada kebijakan yang berubah – rubah dalam waktu satu minggu? Bagaimana sebenarnya aturan jika ada kegiatan semacam itu? Untuk apakah uang itu ? Apakah tidak ada dana pemeliharaan untuk wilayah hutan itu sehingga mereka masih harus memberikan pungutan kepada pihak yang ingin melakukan penanaman pohon di sana?

Sudah sejak kejutan pertama di Taman Wisata Angke Kapuk saya berpikir. Di mana letak rasionalisasinya ketika seseorang ingin melakukan sesuatu di tempat atau di area ketika pihak yang diberi kewenangan tidak melalukan banyak hal, namun orang itu harus membayar kepada pihak itu? Banyak hutan di negara ini, lebih sempitnya di kota ini yang terbengkalai, yang menandakan sang penerima mandat tidak mampu melakukan tugas yang dimandatkannya. Tolong bantu jelaskan pada saya dari mana ada aturan ketika kita ingin berbuat sesuatu hal yang baik kita masih harus berhadapan dengan pungutan? Ke mana pajak yang sudah saya bayarkan setiap bulannya dari potongan gaji hasil kerja keras saya? Sudah terlalu banyak kemuakan yang harus saya telan belakangan ini.

redrena

~ by redrena on June 11, 2008.

4 Responses to “Susahnya Mau Berbuat Baik”

  1. kasihan ya. memang betul, ruang publik itu hanya isu

  2. namanya juga mental birokrat pengemplang!!!

  3. mba Rena khusus untuk TWA AK, uang 50.000 adalah untuk kaos, lainnya dianggap gratis, dengan membeli kaos harapan kami dapat mengejak semua pihak menjadi peduli mangrove.. kalau di TWA AK pohon yang ditanam dijamin tumbuh dan bagus karena teknik penanamannya juga unik yaitu dengan keranjang dari bambu dan bibit mangrove yang sudah siap tanam..karena kami tidak ingin seremonial saja seperti program Gerakan Rehabilitasi Lahan yang milyaran yang gagal, DAAI TV juga sudah meliput.nanti tanggal 19 Juli 2008 dari ROTARACT akan menanam juga mohon kehadirannya

  4. Hanya usul ya Pak Bambang, kenapa jika untuk mengajak peduli harus disiasati seperti itu? Bagaimana jika mereka yang peduli tapi tidak memiliki kemampuan sebanyak itu? Sementara niat baik toh tetap harus diapresiasi dan difasilitasi. Untuk pemeliharaan justru kita harus memulai untuk tidak hanya mengajak orang menanam saja tapi juga memelihara. Saya lihat itu yang kurang digerakkan di kita, gerakan pemeliharaan. Saya sepakat dengan kritik Bapak mengenai Gerakan Rehabilitasi Lahan.

    Saya sudah menerima agenda tanggal 19 Juli, akan saya bicarakan dengan tim liputan yang lain. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: