Tentang Kemarahan dan Kerja

Beberapa waktu ke belakang saya sering sekali marah. Mulai dari kemarahan hanya karna masalah yang remeh sampai masalah yang memang harus saya tanggapi dengan marah. Masalah yang remeh misalnya ketika di kantor ada teman kerja yang “meminjam” kalender meja saya yang berisi catatan-catatan kegiatan dan nomor telpon tanpa sepengetahuan saya, meminjam komputer sambil mengacak-ngacak tumpukan buku di meja yang memang sudah acak-acakan, atau hanya karna berkali-kali didorong oleh ibu – ibu atau remaja di busway. Rasanya sudah cukup membuat saya ingin memakan orang.

Kalau hal berat misalnya marah karna terlalu lelah dengan rutinitas, marah karna berkonflik dengan orang terdekat, marah karna gagal, marah pada diri sendiri. Kalau marah untuk persoalan yang remeh saja sudah membuat saya ingin memakan orang, bagaimana dengan marah yang ini? Mungkin bukan orang lain lagi yang saya makan, tapi diri saya sendiri.

Apakah saya membutuhkan anger management seperti halnya yang dilakukan oleh Ben Stiller dalam film anger management?

Dulu, ketika saya berada dalam kondisi yang masih sangat berat, saking tidak bisanya saya melampiaskan pada hal yang lain, ketika saya marah, besar atau kecil, saya lampiaskan dengan tidur. Tidur berjam-jam dengan Syah yang masih bayi. Untunglah dia masih bayi, coba kalau sekarang sudah teriak-teriak dia di telingaku kalau saya tidur kelamaan.

Pernah satu waktu, ketika kemarahan itu sudah sangat besar, hingga menangis pun rasanya sudah tidak mempan, saya tidur berjam-jam. Anehnya, di dalam tidur itupun saya masih bermimpi saya menangis dan saya masih bisa mengingatnya sampai sekarang.

Tidak banyak yang saya bisa lakukan saat itu memang, ketika saya masih berstatus ibu RT alias ibu rumah tangga. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk melampiaskan energi marah itu. Maka mungkin saya bisa memahami mengapa banyak kaum perempuan yang bisa mengambil langkah nekad saat dia marah. (Well, ini hanya satu analisa sederhana ya. Jangan dijadikan rujukan). Bunuh diri, bakar diri, bunuh anak, bakar anak, bakar suami, bakar rumah dan lainnya.

Setelah fase ibu RT berakhir dan menjadi fase perempuan pekerja, saya memiliki begitu banyak cara untuk melampiaskan energi marah itu. Oh ya, bagi saya marah itu energi lho. Tau sendiri kekuatan yang terkandung di dalamnya kan. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan lah, mulai dari membuat skripsi, berdiskusi, jalan di daerah Dipati Ukur sendirian, menulis, dan yang terakhir adalah bekerja. Bekerja adalah menjadi cara terefektif, termudah dan menguntungkan untuk saya.

Terefektif karna setiap hari saya bisa bekerja. Sabtu dan Minggu sekalipun jika saya sedang marah saya bisa melampiaskannya dengan datang ke kantor, atau sekadara liputan. Atau suatu hari saya sedang marah saya bisa memperpanjang waktu saya bekerja di kantor, mengerjakan apapun dan hasilnya akan saya dapatkan lebih cepat dibandingkan biasanya.

Termudah karna jika saya tidak dapat menahan amarah itu saya dapat dengan mudah memarahi orang-orang di sekitar saya dengan alasan pekerjaan saya itu. (Uhm… ini kadang terlihat tidak profesional sih..) Termudah karna saya bisa melampiaskannya kapan saja dan dimana saja.

Menguntungkan karna ya tentu saja pekerjaan saya dapat selesai dengan cepat. Selain itu saya tidak perlu buang-buang uang untuk membeli tissu untuk menghapus air mata saya.

Kalau Syamsul pernah bilang bahwa bekerja itu adalah untuk kemanusiaan, saya perlu menambahkan sedikit bekerja adalah penambal sisi kemanusiaan saya.

Entah sampai kapan saya masih harus menyimpan amarah ini. Karna saya juga belum tahu apakah saya memiliki keberanian untuk menyelesaikan akar amarah-amarah itu. Tapi di satu sisi saya berterima kasih dengan amarah-amarah itu, meski membuat saya menjadi lebih temperamental, energi itulah yang seolah menjadi energi tambahanku melalui hidup saat ini.

Saya hanya berharap bos besar tidak membaca postingan ini. Bisa-bisa dia cari gara-gara yang memancing amarahku.

Bagaimana denganmu?

redrena

~ by redrena on July 3, 2008.

2 Responses to “Tentang Kemarahan dan Kerja”

  1. hmm…. ya, kalau pengen marah, ga usah disimpan-simpan. dilampiaskan saja. Seperti kamu bilang, marah itu sebenarnya manifestasi dari luapan energy yang tidak terbendung oleh keadaan diri.

    Seperti hal-hal lain, sesuatu yang berlebihan memang menyusahkan. Kelebihan makan, bisa kekenyangan, kelebihan minum bisa beser tiap saat. Kelebihan beban bisa bikin marah.

    lepaskan saja, agar bebannya berkurang. Memang tidak akan hilang dengan sempurna, paling tidak cukup untuk menyeimbangkan diri.

    Cuma, saranku, kalau bisa, jangan dilampiaskan ke orang lain. Lampiaskan saja ke aku. Nanti kita cari cara gimana agar dampaknya tidak melebar kemana-mana. Siapa tau, itu bisa membantu.

    takecare honey, i love you

  2. Janji saya adalah, saya tidak ingin menjadikanmu samsak abadi lagi.
    I love you too

    rena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: