Belajar dan belajar

“Setiap hari kala berangkat bekerja, saya bertaruh bahwa alam semesta itu sederhana, simetris dan estetis – alam semesta yang suatu hari nanti akan dipahami oleh kita manusia, dengan perspektif yang terbatas,” (George Smoot, fisikawan penerima Nobel)

Ketika masa sekolah dulu saya paling malas jika Pak Paul, guru Fisika SMA, sudah masuk ke kelas dan memulai program-programnya. Mulai dari segala macam rumus, perbandingan, energi, namun sering kali melupakan apa yang bisa murid-muridnya lakukan. Sudah bukan barang baru lagi jika banyak praktisi pendidikan populer saat ini menyatakan kesalahan ada pada metode pengajaran yang guru-guru itu lakukan. But anyway, i dont wanna talk about this perspective actually. Just wanna share a kind of reflection.

Di antara pelajaran eksata yang ada, biologilah yang paling kusuka. Pengetahuan tentang dunia hayati, mahluk hidup, jati dirinya, susunannya, adalah beberapa dari banyak alasan yang mendasarinya. Namun aku dengan senang hati menolak matematika, fisika, apalagi kimia. Ditambah dengan kekurangtekunan membuat biologi pun seolah-olah lenyap dari interestku tertutupi oleh kehausanku akan ilmu yang lebih dinamis tentang masyarakat.

Jika beberapa bulan terakhir aku secara rutin membeli sebuah majalah tentang alam dan ilmu pengetahuan, itu pun bukan tanpa alasan. Begitu banyak materi di dunia ini yang begitu mubajir jika disia-siakan. Meski untuk memahami dunia dan semesta inipun, rasionalitas manusia masih terlampau terbatas. Seperti ketika dalam satu ulasan dalam majalah tersebut membahas mengenai asal mula materi pembentuk dunia bahkan alam semesta ini. Bahkan fisikawan, ilmuwan yang terencer otaknya pun masih sangat terbatas daya tempuh nalarnya menjelaskan alam ini.

Dan di tengah perjalanan dari terminal Senen menuju Mangga Dua, saya menjadi sangat menyesal betapa saya dulu tidak begitu gigih mengatasi kemalasan saya, mempelajari fisika, akar ilmu pengetahuan.

Alih-alih menyesali dan mengucapkan kata terlambat, masih ada banyak waktu untuk saya untuk mempelajari itu semua, mempelajari filsafat dan membagikannya pada orang lain agar tak ada lagi kata terlambat.

redrena

~ by redrena on July 4, 2008.

3 Responses to “Belajar dan belajar”

  1. Aku juga sering menyesal karena tidak serius. Padhaal kalau saat itu serius, pasti sekarang akan lebih baik dari sekarang. AKu mengambil kesimpulan, sekarang ini adalah gambaran dari yang akan datang. Menurutku, rasa menyesal itu karena kita berhasil melihat kelemahan kita. Perasaan itu akan menjadi energi positif apabila kita bisa menjadikannya dasar untuk maju

  2. huahahahahaha… sama banget tuh!!! gara-gara pacaran sama si pembalap yang IPA banget itu, gw jadi ‘ngeh’ kalo ternyata fisika itu menarik banget!! sialan tu guru-guru SMA kita.. ngejelasinnya pada ngga bener!! cuma disuruh ngapalin rumus tanpa berusaha mentransfer logika dan keindahan fisika. Alhasil tot, sebagai bentuk balas dendamnya, sekarang gw rajin baca buku-buku science untuk anak SD!! karena ternyata keren yaah.. lumayan juga buat main sulap-sulapan dan nipu-nipu elo nanti.. wakakakak..

  3. Pada akhirnya setiap orang menemukan motivasinya masing-masing untuk mempelajari semua ilmu. Satu lagi tips untuk mendidik anak-anak kita nanti tentang ilmu pengetahuan. Hahaha bravo anna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: