Ketika Arang menjadi Emas

Sebelumnya saya sempat mengulas mengenai sengsaranya rakyat Sierra Lione atas minyak yang dimilikinya. Konflik antara suku bangsa yang berakhir di arena perang suku. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Sierra Lione, tapi juga di negara-negara lain, di suku-suku lain di Afrika. Perang yang sering kali diikuti dengan genosida terhadap suku tertentu sudah bukan lagi masalah suku, ras, warna kulit tapi tidak lebih dari masalah perebutan penguasaan atas sumber daya alam seperti minyak, emas, timah bahkan arang !!

Hari ini majalah National Geographic edisi Juli sampai ke tangan saya. Satu ulasan mengenai Gorilla di Pegunungan Virunga yang terletak di perbatasan antara Republik Demokratik Kongo (RDK), Uganda dan Rwanda menarik perhatian saya. Tidak hanya karna populasi Gorilla yang saat ini terancam punah, hanya sekitar 720 ekor di muka bumi ini, tapi juga karna perburuan itu tidak hanya membunuh hak hidup Gorilla. Hak hidup manusia di wilayah segitiga konservasi itu juga dibunuh.

Pada Juni 2007 satu ekor Gorilla punggung perak ditembak mati oleh seseorang. Selang sebulan Juli 2007 6 ekor Gorilla punggung perak dari satu keluarga ditemukan mati tersebar di dalam wilayah Taman Nasional. Meski bagi ketiga negara di bentang Pegunungan Virunga Gorilla merupakan aset besar, karna menghasilkan pundi-pundi uang bagi pemegang hak konservasi, pejabat korup setempat, polisi hutan hingga para milisi, namun Gorilla pulalah yang menjadi pelampiasan amarah, selain perempuan dan anak-anak tentunya.

Sumber masalah bukanlah terletak pada invasi Gorilla ke lahan pertanian penduduk di sekitar taman nasional, tapi pembunuhan Gorilla dilakukan untuk menutupi bisnis arang yang terjadi di dalam hutan konservasi yang dilakukan oleh seluruh pihak yang ada di sana. Mulai dari tentara RDK, milisi Nkunda (pemberontak dari suku Tutsi sempalan dari Rwanda), milisi Hutu, termasuk polisi hutan.

Mungkin kita disini berpikir kenapa bisa hanya karna arang manusia bisa membunuh Gorilla bahkan sesamanya sendiri (satu daerah dimana AK 47 menjadi semacam kartu kredit). Mark Jenkins (kontributor NG) ditemani fotografernya Brent Stirton dalam penelusurannya menemukan bahwa arang adalah sebagai pengganti minyak yang berarti emas bagi seluruh penduduk di RDK, Rwanda dan Uganda. Ketika minyak tidak ditemukan di sana, satu-satunya sumber energi yang digunakan oleh seluruh masyarakat yang ada di hutan, desa, kota, tempat pengungsian, pemerintah, bahkan oleh para sukarelawan perang adalah ARANG..

Arang yang bagus, yang pembakarannya lebih tahan lama, dihasilkan dari kayu keras yang berasal dari dalam Hutan Pegunungan Virunga. Setiap tahunnya sekitar 270 milliar rupiah dihasilkan dari perdagangan kayu hitam ini. Sebagai buruh angkutnya, masyarakat setempat menyebutnya keledai, adalah perempuan yang diupah tidak lebih dari 9.000 rupiah sehari.

Bisnis arang inilah yang menghidupi hampir seluruh peperangan yang ada di wilayah tersebut. Ancamannya tidak hanya hutan yang pastinya akan gundul, keanekaragaman hayati yang sudah pasti akan berkurang drastis tapi juga kehidupan manusia yang ada di dalamnya.

Sekali lagi, persoalan tidak hanya sekadar suku A melakukan genosida terhadap suku B, tapi eklpoitasi sumber daya alam dengan mengatasnamakan perang yang justu dilakukan oleh mereka yang mengklain dirinya adalah seorang konservasionis. Sekali lagi tentang energi. What a world….

Benar-benar tak ada minyak arang pun jadi.

redrena

~ by redrena on July 4, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: