Yang Muda Yang Berprestasi

Bulan ini saya mempersiapkan materi untuk talk show Meniti Harapan bulan Agustus nanti. Tema yang diangkat adalah anak-anak yang berprestasi yang bisa menjadi sumber inspirasi. Tema ini kami persembahkan sebagai hadiah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Ada empat tema yang akan kami angkat dan disiarkan setiap minggu. Tema atau profil yang akan diangkat adalah Tobi Moektijono, Rizka Feryani Ciptaningrum dan Juliawati Jati, Aulia Reza dan Yurgen Alifia, serta Richi dan Linda.

Tobi Moektijono, peraih medali emas Olimpiade Matematika tingkat sekolah dasar 2005 adalah seorang penulis buku kumpulan soal unik matematika. Sejak kelas 4 SD ia telah mulai membuat soal matematika yang sedikit demi sedikit dikumpulkan oleh Grace Oviana Surjadi, ibunya. Dan ketika Tobi kelas 6 SD, dengan biaya sendiri ia menerbitkan kumpulan soal-soal matematika buatannya sekaligus kunci jawabannya. Tidak hanya satu buku, Tobi saat ini sudah menerbitkan dua buku kumpulan soal matematika. Kini Tobi duduk di kelas 9 SMP Kolose Kanisius Jakarta dan tengah mempersiapkan mengikuti ajang Olimpiade Matematika Tingkat SMU tahun depan. Penerima Piagam Satyalancana WIra Karya ini bercita-cita menjadi medical engineering.

Profil kedua adalah Rizka Feryani Ciptaningrum dan Juliwati Jati. Rizka dan Juli adalah peraih medali emas dan perunggu di Special Olympic 2007 di Shanghai Cina. Rizka meraih medali emas untuk cabang olah raga tenis meja, sedangkan Juli peraih medali perunggu untuk cabang atletik. Rizka dan Juli adalah penyandang tuna grahita. Namun kondisi ini tidak menghalangi kedua orang muda ini untuk berprestasi di bidangnya. Berdasarkan catatan Special Olympic Indonesia (SOIna) tinta emas Indonesia dalam ajang internasional ini kerap kali diukir oleh para atlit usia muda. Seperti halnya atlit yang lain, atlit SOIna juga berlatih keras. Kelemahan yang mereka miliki tidak lantas membuat beban latihan berkurang. Meningkatkan kepercayaan diri dan memeratakan kesempatan adalah tujuan utama diselenggarakannya kegiatan yang digagas oleh keluarga Kennedy ini.

Di luar kegiatan keolahragaan, Rizka dan Juli juga tetap menjalankan aktivitas pengembangan diri. Rizka baru saja menyelesaikan pendidikannya di SLB Budidaya Cijantung. Sementara Juli masih tercatat sebagai pelajar di SLB Dian Grahita.

Profil Ketiga adalah Aulia Reza dan Yurgen Afilia. Aulia Reza siswa kelas 3 SMA Kharisma Bangsa di Serpong adalah peraih medali emas dalam Olimpiade Lingkungan di Azerbaizan pada 2007. Rumah kaca otomatis buatannya telah berhasil memukau tim dewan juri. Sementara Yurgen Afilia (bersama dengan dua rekannya yang lain yang salah satunya adalah Reza) meraih medali perunggu dalam kompetisi Sains International Sustainable Suistanable World Energy, Engineering, Environement Project di Houston pada 2008. Tim Yurgen membuat satu alat penarik ion-ion negatif dari udaara seperti asap rokok. Satu penemuan baru untuk membatu mengatasi masalah kenyamanan udara bagi mereka perokok pasif.

Baik Reza maupun Yurgen lagi-lagi harus dengan bermodal usaha dan perjuangan sendiri untuk ikut bertarung dalam kompetisi yang akhirnya dimenangkan oleh mereka. Biaya penelitian, pembuatan project hingga keberangkatan ke Azerbaizan dan Amerika semuanya atas biaya mereka sendiri dan pihak sekolah.

Profil keempat adalah Richi dan Linda, keduanya adalah atlit Indonesia sekaligus pelajar di SMP Ragunan. Keduanya juga menuai prestasi yang tak kalah gemilang. Richi peraih medali emas bagi tim taekwondo Indonesia di Turki, sementara Linda meraih medali emas untuk cabang olah raga voli.

Di luar anak-anak tersebut saya yakin pasti kita telah sering mendengar prestasi-prestasi gemilang yang telah diraih oleh mereka. Jakarta Post yang terbit hari ini (Jumat, 18 Juli) misalnya memuat fot berita tim matematika tingkat dasar Indonesia yang baru saja mengikuti Kompetisi Matematika Internasional di Po Leng Kuk, Hongkong pada 12-16 Juli 2008. Tim kecil ini berhasil membawa lima medali emas dan satu medali perak dalam ajang yang bergengsi ini (berdasarkan pengalaman ibunda Tobi, Ibu Grace yang anaknya juga meraih medali perunggu di ajang ini).

Tidak hanya matematika, atau olah raga, tentu kita sangat familiar dengan nama Yohanes Suryo bersama dengan tim Olimpiade Fisika dan Kimianya ke berbagai ajang di luar negeri. Mereka pun pulang tidak dengan tangan hampa. Baik mereka yang berpunya ataupun tidak berpunya semuanya ikut serta menunjukkan sumbangsihnya bagi negeri ini.

Sayangnya, seperti halnya hati masyarakat Indonesia yang lainnya, hati anak-anak muda ini pun sering kali tersakiti oleh negara ini. Lebih tepatnya oleh pemerintah negara ini. Pertama, tidak sedikit di antara mereka yang harus berjuang sendiri, baik dengan usaha dan modal sendiri mengikuti berbagai kompetisi tersebut. Tentu kita tidak lagi memperdebatkan pentingkah anak-anak kita mengikuti kompetisi itu. Yang jelas mengembangkan sains dan berpikir logis memang masih sangat dibutuhkan di negeri yang lebih banyak diisi oleh hal-hal tidak logis ini.

Reza misalnya, seperti yang telah saya sebutkan untuk membuat rumah kaca otomatisnya ia harus membiayainya sendiri dibantu oleh sekolah. Demikian pula saat ia mengikuti kompetisi di Azerbaizan. Yurgen sebelas dua belas (alias sama saja nasibnya). Tobi, menerbitkan buku pertama kumpulan soal matematika dengan uangnya sendiri (yah uang orang tuanya sih). Meski kemudian setelah memenangkan Olimpiade ia mendapatkan pembimbing dari DIknas.

Rizka dan Juli dari SOIna, mereka lebih tragis lagi. SOIna sendiri sebenarnya berbentuk seperti NGO, yang menyalurkan bakat olah raga bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk mengikuti berbagai kompetisi, bahkan pelatnas atau latihan sehari-hari saja mereka harus membiayai semuanya sendiri. Atau dengan bantuan sponsor. Negara? Baru pada SOIna di Shanghai kemarin negara “mau sedikit” membantu.

Jika ada pepatah yang menyatakan apa yang telah kita (masyarakat) ini berikan bagi negara? Maka lebih pantaslah jika saya bertanya apa yang negara ini sudah berikan bagi masyarakat, bagi pemuda kita, bagi rakyat kita? Bukan kepada sebagian orang yang menjadi konglomerat yang telah menghisap sumber daya dan manusia kita masih ditambah dengan meninggalkan hutang yang tidak akan habis dibayar tujuh turunan. Bukan .. bukan itu.

Dalam satu wawancara dengan orang tua Tobi, Bapak Heru menjawab pertanyaan standar saya tentang impian dan harapan mereka terhadap anaknya. Jawabnya simple saja.

“Bagi saya ya Mba, yang penting adalah Tobi benar-benar bisa bermanfaat bagi orang banyak, bagi masyarakat. Nah masyarakat itu kan gak cuma Indonesia saja. Dia bisa berkarya dan karyanya itu berguna bagi orang banyak. Jika satu waktu dia memutuskan untuk berkarya di Indonesia tentu saja itu adalah pilihan yang baik karna pasti banyak sekali yang membutuhkannya disini.”

Kelu hati saya. Saya tidak tahu apakah Pak Heru ini termasuk orang yang juga terluka hatinya. Ketika anak-anak kita berteriak-teriak kecewa ketika mereka gagal dalam ujian nasional, saya tahu mereka terluka. Ketika anak-anak harus mengambil keputusan keluar sekolah karna harus bekerja atau uang yang tidak cukup untuk sekolah, saya tahu mereka terluka. Ketika anak-anak harus belajar di kolong jembatan, di pinggir tempat pembuangan sampah, di pinggir rel, saya juga tau mereka terluka.

Namun yang lebih melukakan adalah ketika kita sudah berbuat sesuatu tetapi kita disia-siakan. Lukanya tak terperikan. Tapi luka itu tidak menggelapkan cahaya semangat mereka.

redrena

~ by redrena on July 18, 2008.

3 Responses to “Yang Muda Yang Berprestasi”

  1. Aku ingat ceritamu tentang anak-anak yang ‘super’ dan anak-anak yang ‘spesial’.

    Aku sempat berpikir, barangkali apa yang sesungguhnya ‘super’ atau ‘special’ atau ‘istimewa’ dari teman-teman yang kamu ceritakan adalah mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.

    Sesuatu itu, sesungguhnya bukanlah kekurangan atau kelebihan yang kasat mata atau fisik. Kamu tahu, kelebihan dan kekurangan itu sifatnya relatif.

    Kesuperan, kespecialan, atau keistimewaan itu sesungguhnya berada pada lingkungan sosial di mana teman-teman itu tumbuh dan berkembang. Tanpa itu, rasanya mustahil kita bisa melihat keajaiban-keajaiban itu.

    Masalahnya adalah lingkungan yang mampu melahirkan anak-akan super dan istimewa itu sepertinya tidak atau kurang memiliki tempat untuk tumbuh secara leluasa di negeri ini.

    Mereka yang diamanatkan untuk membangun lingkungan seperti itu terlampau sibuk memikirkan urusannya sendiri. Kerakusan mereka menjadi vaksin yang menyebabkan mereka imun terhadap berbagai masalah-masalah pelik di negeri ini.

    Karena terlalu banyak melahap korupsi, perutnya yang gendut menyebabkan mereka tidak lagi sanggup melihat bagaimana kehidupan dari bumi yang mereka jejak.

  2. Yah, tidak hanya mereka yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri saja yang saya pikir harus dibukakan mata hatinya. Tapi juga orang-orang awam di sekitar kita yang terlalu tinggi melihat ke atas, terlalu berat menanggung beban hidup, terlalu letih sehingga mereka tidak lupa (tidak sadar) ada mutiara itu.

    Negara memang harus dituntut tapi masyarakat juga harus dibangkitkan.

  3. Setahu g sih sekolah Kharisma Bangsa ada di Pondok Cabe, bukan Serpong Bu. He……..:) Yuh sekolah emang mantap banget, tapi uang sekolahnya juga muantapppppp! Pake dollar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: