Haru

Beberapa minggu terakhir perasaan saya bagaikan orang yang naik roller coaster di taman hiburan. Ini masih terkait dengan pekerjaan saya kali ini yang mengangkat anak-anak muda yang berprestasi. Jika kemarin saya menuliskan tentang terlukanya hati anak-anak kita atas ketidakadilan yang harus mereka terima dan juga membuat hati saya terluka, hari ini saya sangat terharu. Terharu karna dalam setiap luka itu ada setitik cahaya yang memberi harapan pada hati anak-anak yang lain yang terluka.

Jumat Sore saya memenuhi janji saya bertemu dengan Juliawati Jati, 16 tahun penyandang tuna grahita. Sore itu selain berbincang-bincang dengan Juli saya juga akan mengambil gambarnya ketika sedang latihan renang. Bersama Widodo saya meluncur ke Danau Sunter Sport Center. Setibanya di sana saya tidak hanya bertemu dengan Juli, sudah menunggu beberapa anak – anak lain yang juga akan melakukan ritual yang sama dengan Juli. Latihan renang rutin dua kali seminggu yang dilakukan oleh anak-anak yang tergabung dalam Special Olympic Indonesia (SOIna). Oh ya, bagi yang belum membaca postingan saya sebelumnya Juli ini adalah pemenang medali perak Junior Special Olympic di Australia 2008 dan juara keempat Special Olympic di Shanghai, Cina 2007.

Sekitar tujuh orang anak-anak berkebutuhan khusus seperti down sindrom dan autis berlatih renang bersama dengan Juli. Dua orang pelatih dari Universitas Negeri Jakarta mendampingi mereka. Selama menunggu mereka latihan dan Widodo mengambil gambar aku berbincang dengan Ibu Iih atau yang biasa dipanggil Tante Iih. Usia dua tahun Juli sudah diterbangkan dari Sampit, Kalimantan Timur, berpisah dari orang tuanya dan dirawat di Jakarta bersama dengan Tante Iih. Tidak ada sekolah dan tempat terapi adalah satu dari beberapa alasan lain yang mendasari Juli harus tinggal terpisah dari orang tuanya. Orang tua Juli tidak ingin nasib Juli seperti nasib kakak tertuanya yang harus meninggal dunia ketika berusia tiga tahun akibat penyakit yang sama.

Namun, meski jauh terpisah, kasih orang tua tidak pernah lepas dari Juli. Setidaknya dia dapatkan itu dari Tante Iih. “Saya hanya ingin dia mendapatkan kesempatan, bisa mandiri dan percaya diri.” Sebuah harapan yang kerap saya dengar dari orang tua anak-anak berkebutuhan khusus, melihat aspek-aspek dalam kehidupan ini tidak ramah terhadap mereka. Untuk itu sejak kecil Tante Iih tidak ingin Juli bermanja – manja. Berbagai kegiatan dilakukan Juli, mulai dari sekolah di SLB Dian Grahita, menari, bermain musik seperti organ, keyboard, angklung, hingga olah raga. Dan di dunia yang terakhirlah Juli menuai prestasi.

( Melihat aku berbicang dengan tantenya, Juli langsung memanggilku dan mengajak

berkenalan. So friendly )


Obrolanku dengan Tante Iih sesekali disela dengan percakapanku dengan orang tua lain yang tengah menunggu anak-anaknya berlatih. Atau disela oleh teriakan pelatih renang yang memanggil satu per satu anak-anak untuk berenang bersama dengan yang lainnya. Orang tua Janneth bercerita padaku, tidak seperti Juli Janneth, penderita down sindrom, lebih menyukai sesuatu yang berbau seni, seperti bermain piano dan menulis. Di setiap kesempatan ia menulis apapun yang dipikirkann

ya. Tidak hanya itu, Janneth pun sangat disiplin dan mandiri. Baginya Janneth tidaklah berbeda dengan anak-anak yang lain.

Demikian juga dengan Ibu Lily orang tua Sasha, gadis berumur 19 tahun. Akibat tubuhnya dimasuki oleh satu jenis virus tak dikenal dan tak terdeteksi, daya tangkap dan bicaranya menurun drastis ketika Sasha berumur 2 tahun. Seperti halnya Tante Iih dan orang tua Janneth, Ibu Lily tidak menyerah. Sasha digembleng seperti halnya anak yang lain, meski disesuaikan dengan kemampuan fisik dan mental mereka.

Dalam setiap detik perbincangan saya dengan para orang tua anak-anak berkebutuhan khusus ini, saya menyadari betapa kebesaran hati untuk menerima adalah sebuah modal utama. Setelah itu perjuangan dan usaha keras. Dan ketika mereka diberikan kesempatan, kepercayaan sediki demi sedikit kita akan melihat bahwa mereka juga akan memberikan kebahagiaan itu bagi kita. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah kerja keras. Di titik inilah, saya terharu untuk yang pertama kalinya hari itu.

Jam lima sore latihan renang selesai. Saya bersama tim kecil berangkat menuju persinggahan berikutnya yakni rumah Juli di Petojo Selatan. Hari itu kami ingin melihat medali yang pernah didapatkan Juli dan melihat Juli bermain alat musik. Dengan kata-kata yang terbatas yang keluar dari mulutnya, Juli menjawab pertanyaan-pertanyaan singkatku.

“Harap maklum ya Mba. Daya tangkapnya memang segitu. Ditambah dia pemalu. Tapi sejak ikut berbagai kompetisi rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit meningkat. Itu saja sudah membuat saya senang,” ungkap Tante Iih sembari terus mengingatkan Juli untuk mengangkat kepalanya ketika berbicara dengan lawan bicara.

Tak lama medali yang pernah didapatkan Juli dikeluarkan dari kamarnya. Cukup banyak juga ternyata. Ada yang tingkat nasional, ada pula yang internasional. Tak bosan-bosan Juli, kata Tantenya, melihat-lihat medalinya, memakainya kembali, mengaguminya. Dasar anak-anak… kataku dalam hati.

Dan tak butuh waktu lama lagi untukku merasa terharu untuk yang kedua kalinya. Juli mulai memperagakan kebisaannya yang lain. Bermain keyboard, sebenarnya ada dua pilihan keyboard atau organ. Tapi keyboard lebih dekat dari jangkauan kami, jadilah Juli memilih alat itu. Satu hal yang membuatku terpukau, Juli seperti tidak mengenal kata lelah. Bayangkan dari jam 7 pagi dia sudah mulai aktivitasnya dengan bersekolah, jam 1 siang dia pulang sekolah dan langsung berlatih menari. Jam 3 sampai 5 dia latihan renang. Full dua jam kulihat dia di dalam kolam. Energi dari mana anak yang satu ini ya?

Dua lagu yang dia bawakan. Satu lagu milik Ahmad Dhani, dan satu lagu lagi berjudul Nona Manis. Jemarinya sangat cekatan. Dan dua lagu itu dibawakannya tanpa melihat catatan, alias menghafal. Berdiri di belakangnya aku merasa ya.. benar tidak ada yang tidak dapat dilakukan oleh mereka. Mereka bisa melakukan segala sesuatu, hanya saja daya tangkapnya tidak secepat anak-anak atau orang-orang biasa. Sabar.. sabar dan sabar.. Tapi bukankah itu juga yang kita butuhkan, meskipun kita manusia normal?

Di balik rasa haru yang keluar karna moment itu, aku jadi teringat Syahrani. Betapa berdosanya saya jika menyia-nyiakan apa yang dimiliki Syah saat ini. Meski untuk itu saya harus bekerja lebih giat lagi, lebih sabar lagi, dan lebih kuat lagi.

Tapi bagaimana dengan anak-anak yang lain? Pada siapa mereka bisa bergantung?

redrena

~ by redrena on July 21, 2008.

2 Responses to “Haru”

  1. surga di telapak kaki ibu

  2. sangat manusiawi, tak ada orang yang menari bila melihat orang lain menderita. salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: