Saat Air Mengalir Sampai Jauh

Siapa yang tidak sejuk hatinya saat melihat beningnya air yang mengalir? Bisa langsung kita rasakan kesegarannya yang kadang membuat kita lupa bahwa air, sama halnya seperti manusia, tengah berada dalam situasi yang rentan, bahasa kerennya fragile, vulnerable . Lewat tulisan ini saya ingin membawa dua hal yang saling kontradiktif tentang air ini, sama halnya lagi seperti kehidupan manusia. Sambil saya ajak berpetualang ke Sukabumi

Pertengahan tahun 2007, aku bersama dua orang rekanku berkesempatan mengunjungi Dusun Pandan Arum, Desa Cipete, Kabandungan, Sukabumi. Pandan Arum adalah dusun terakhir di desa itu. Letaknya tidak terlalu jauh dari Parung Kuda, hanya berjarak sekitar tiga puluh km atau empat jam perjalanan menuju wilayah Taman Nasional Gunung Halimun. Selama tiga hari dua malam aku berada di tempat itu untuk melihat salah satu pemanfaatan air modern yang dikelola oleh masyarakat desa.

Meski berada hanya sepelemparan batu dari Parung Kuda, yang sudah bisa disebut kota, masyarakat Pandan Arum hingga kini belum bisa menerima jaringan listrik dari PLN. Tiga ratus keluarga atau sekitar seribu jiwa rupanya belum menarik minat PLN setempat untuk mengaliri daerah ini dengan listrik. Padahal, desa Cipete, yang notabene adalah induk dari dusun ini, telah memperoleh fasilitas tersebut. Alasan klise mengemuka, wilayah yang sulit dijangkau secara topografi dan penduduk yang sedikit, membuat dusun Pandan Arum dibenarkan untuk diabaikan.

Tepat di tengah Dusun Pandan Arum mengalir Sungai Citanian. Volume airnya cukup besar meski alirannya tidak cukup deras. Setidaknya untuk saat ini, ketika wilayah Gunung Halimun Salak yang di dalamnya terdapat hulu sungai ini masih dapat terjaga kerimbunan pohonnya.

Selain digunakan untuk kepentingan irigasi, Sungai Citanian sudah sejak lama digunakan sebagai sumber tenaga listrik bagi masyarakat Pandan Arum. Letak sungai yang berdekatan dengan rumah penduduk, memudahkan penduduk untuk menarik kabel dari kincir air sederhana ke rumah mereka. Kincir air sederhana inilah yang mengubah aliran air menjadi energi listrik. Sayangnya kontur Dusun Pandan Arum yang kurang berundak-undak membuat warga harus mengeluarkan tenaga ekstra agar kincir air bisa bergerak. Mereka harus membeli bensin atau solar untuk menggerakkan kincir agar air bisa mengalir.

Sebelum tahun 2004, deretan kincir air bertenaga bbm sangat mudah ditemui di sepanjang aliran Sungai Citanian ini. Di satu sisi warga bisa menikmati listrik, namun di sisi lain warga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya. Dan yang pasti, hanya yang mampu secara ekonomi lah yang bisa menikmati hal ini.

Sejak tahun 2004, manfaat air Sungai Citanian tidak lagi hanya untuk pengairan, atau menggerakkan kincir air. Usaha mengalirkan listrik ke dusun itu telah berkembang menjadi lebih maju dan berdaya guna luas. Tri Mumpuni, perempuan pelopor Listrik Masuk Desa, menginisiasi program penyediaan listrik dengan tenaga mikrohidro bagi masyarakat dusun ini. Tenaga mikrohidro adalah tenaga yang dihasilkan dari aliran air yang dapat dipasang di sungai kecil dan tidak memerlukan dam yang besar sehingga dampaknya terhadap lingkungan sangat kecil. Menurut Tri Mumpuni asal ada perbedaan ketinggian dalam aliran sungai tersebut maka, pembangkit energi air skala mikro dapat dibuat di sana. Listrik yang bisa dihasilkan melalui proses ini berkisar antara 5 hingga 100 KW

PLTMH yang dibangun di dusun Pandan Arum menghasilkan listrik sekitar tiga puluh tiga kilo watt dan dialirkan ke sekitar tiga ratus keluarga dengan penggunaan listrik yang bervariasi di masing-masing rumah, mulai dari lima puluh watt hingga dua ratus watt. Kini masyarakat Pandan Arum tidak hanya bisa menyalakan lampu, namun juga bisa menonton televisi, mengaji di mesjid desa bahkan membangun sebuah radio komunitas.

Saat ini pemanfaatan energi mikro hidro di Indonesia belum dilakukan secara maksimal. Padahal Indonesia memiliki stok energi mikro hidro sebesar 7.500 MW dan hanya sekitar 60 MW (2,5%) saja yang baru tergarap.

Foto di sebelah kiri atas adalah foto Madsani. Bapak enam orang anak ini adalah sang operator PLTMH. Waktu kerjanya dimulai pukul 4 sore, saat ia harus menyalakan instalasi hingga pukul 6 esok paginya saat ia harus mematikan turbin. Bersama satu orang rekannya yang lain Madsani saling berbagi giliran jaga. Ia beruntung, aliran sungai di Pandan Arum masih sangat bersih tanpa ada noda sampah sedikitpun yang dapat mengganggu jalannya turbin.

Madsani tinggal di sebuah rumah tidak jauh dari instalasi PLTMH. Pagi dan siang hari ia adalah seorang buruh tani. Upahnya sebagai operator diperolehnya dari hasil iuran warga yang memanfaatkan listrik dari PLTMH yang berkisar antara lima ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah.

Sementara itu foto berikutnya adalah foto Ahim, atau Pak Ahim. Pak Ahim adalah kepala dusun Pandan Arum yang berperan dalam menggerakkan masyarakat dusun untuk terlibat dalam pengadaan listrik murah ini.

Tidak hanya digunakan sebagai sumber energi, air bagi masyarakat Pandan Arum adalah segalanya. Mulai dari tempat anak-anak bermain, sumber pendapatan keluarga, hingga untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, mandi dan memasak. Air yang masih berlimpah adalah kekayaan utama yang masih dapat diperoleh secara cuma-cuma bagi masyarakat sederhana di dusun Pandan Arum.

Maklum saja, tanah dan pepohonan sudah bukan lagi milik mereka sepenuhnya. Tanah yang ada di dusun ini sudah sebagian besar menjadi milik pengusaha – pengusaha kaya dan pejabat-pejabat pemerintahan di Jakarta dan Jawa Barat. Akibatnya para penduduk lokal hanya bisa menikmati tetesan terkecil dari hasil tani dan garapan mereka karna harus membayar sewa tanah atau menjadi buruh tani. Demikian pun dengan area perkebunan teh yang ada di antara wilayah dusun dan Gunung Halimun. Perkebunan teh Nirmala nan luas itu pun hanya menyisakan sedikit hasil yang bisa dinikmati oleh para penduduk.

Ada satu kisah ketika saya tengah menunggu Widodo mengambil gambar turbin PLTMH. Seorang pria menghampiri kami berdua dan dengan mimik serius ia menawarkan tanah kepada kami. Dengan cekatan ia menunjukkan bidang-bidang tanah yang “menurutnya” masih bebas alias belum jatuh ke tangan kedua golongan masyarakat di atas. Ketika kami menanyakan mengapa ia begitu antusias menawarin kami tanah dengan entengnya ia menjawab demikian, “Habis biasa sih Mbak, Mas. Rata-rata orang Jakarta yang kesini kan pasti cari tanah. Nah, Mbak dan Mas kan dari Jakarta. Jadi mau tanah yang mana?” … Weleh weleh

Kesederhanaan (untuk tidak menyebut sebagai tanda-tanda kemiskinan) masyarakat Pandan Arum tidak hanya berhenti pada keminiman akses mereka terhadap listrik, tapi juga terhadap berbagai sarana kehidupan yang pokok seperti pendidikan dan kesehatan.

Ketika hendak menuju stasiun radio komunitas kami sempat melewati satu-satunya sekolah dan posyandu di dusun Pandan Arum, SDN Cisalimar 1 dan Posyandu Cisalimar. SDN Cisalimar 1 memiliki dua bangunan utama dan beberapa ruang kelas. Kondisi di masing-masing kelas sudah cukup mengkhawatirkan dengan jumlah kursi yang sedikit, langit-langit yang nyaris runtuh karna lapuk dan tidak berjendela. Kamera saya mengarahkan ruang kelas dari balik jendela yang berupa jeruji kawat.

Sementara bangunan Posyandu sangatlah sederhana dan kosong. Meski dari luar terlihat kokoh, namun di dalamnya hampir tidak tersedia apapun selain meja dan kursi. Kamera saya hanya bisa mengabadikan pintu depan Posyandu dengan papan nama yang setengah terbalik dan terkunci. Please take a look and maybe we can make something…

Di tengah jalan saya berpapasan dengan beberapa orang anak kecil yang sedang bermain. Terbayang langsung di benak saya bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu dan masa depan mereka di tempat tersebut. Satu masalah mungkin terselesaikan, yakni ketika anak-anak ini tidak harus lagi menggunakan lampu templok dengan cahaya seadanya di waktu malam karna listrik telah tersedia. Namun cukupkah hanya sekadar listrik untuk mengubah nasib mereka, ketika masalah-masalah yang lain belum terselesaikan.

Dan ketika melintasi jalan desa saat dalam perjalanan pulang, kembali satu hal merasuk dalam pikiran saya. Ketika dengan mata kepala saya sendiri saya melihat beberapa orang tengah memikul gelondongan-gelondongan kayu, saya berpikir berapa lama lagi turbin PLTMH akan bertahan? Ketika hutan Gunung Halimun semakin gundul sudah pasti akan berpengaruh pada cadangan air di hulu sungai. Lalu bagaimana nasib Sungai Citanian? Akankah masih ada aliran air yang mampu menggerakkan turbin? Akankah warga Pandan Arum tetap menikmati listrik dari sana? Atau malah mereka harus kembali ke lampu templok?

Jika tidak bisa memberikan emas pada mereka, maka janganlah kau rusak lumbungnya.

redrena



~ by redrena on October 15, 2008.

One Response to “Saat Air Mengalir Sampai Jauh”

  1. Tadi siang ada diskusi tentang krisis finansial dan ekonomi global di JMC. Diskusi tersebut membedah berbagai soal dan menemukan suatu fakta bahwa pada saat ini, hampir tidak ada dalil-dalil neoliberal yang tidak diterapkan oleh ekonomi dunia.

    Masalahnya, semakin banyak dalil-dalil itu diterapkan, semakin besar hantaman krisis yang harus dirasakan. Semua jalan yang ada dalam pikiran seolah-olah sudah menemui kebuntuan hingga muncul suatu pertanyaan, is this the end of the laissez faire?

    Bagi kita, this is the end of the laissez faire… indeed, for those whom ideologically believe on market, this is the end of logical sense… the ultimate of the madness…

    Frustasi… Frustasi yang merangkak dari bawah hingga atas. Dari pojok kampung di sukabumi sampai kantor presiden koboi amerika George Bush Jr. Frustasi yang membuat hutan-hutan ditebangi, dan frustasi yang membuat presiden super-songong, super-tolol, dan super-rakus seperti Bush Jr untuk mengambil pilihan-pilihan politik yang sebenarnya tidak lebih dari sekadar menggali kuburnya sendiri.

    Frustasi yang mendorong orang meninggalkan akal-sehatnya sendiri, melakukan tindakan-tindakan seadanya… bukan untuk mempertahankan hidup apalagi mengembangkan. tapi hanya sekedar mengisi waktu sambil menunggu kematian.

    Kita tidak boleh frustasi, kita harus pastikan, anak-anak kita berlari sampai jauh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: