Dimanakah tempat aman bagi perempuan?

Adakah tempat aman bagi perempuan? Jika ada dimanakah ia? Di rumahnya kah? Di tempat kerjanya kah? Di sekolah? Atau bahkan tidak ada tempat aman bagi perempuan?

Pagi ini, saat saya tengah duduk manis di atas becak di daerah Karang Asem, Citeureup, Bogor, saya melihat pemandangan yang mengajak saya berpikir ke depan dan ke belakang. Saat itu becak yang saya tumpangi melintasi sebuah pabrik garmen yang tengah membuka lowongan pekerjaan. Pemandangan yang kerap saya dan kamu juga lihat saat sebuah pabrik membuka lowongan kerja adalah antrian puluhan (terkadang bahkan ratusan) orang perempuan muda dan dewasa menanti giliran mendapatkan kesempatan tes kerja.

Dari sebuah papan sederhana yang sekilas saya lihat ada empat posisi yang ditawarkan. Sebagai operator, supervisor, sampling, dan yang terakhir saya lupa karna posisinya asing di telinga saya. Di daerah ini memang terdapat beberapa pabrik (mulai dari garmen hingga odol) bercampur dengan rumah penduduk, pasar, toko kelontong dan menjadi kota kecil di wilayah Kabupaten Bogor. Antrean perempuan-perempuan itu tak ayal membuat berpikir, “Wah cukup berani juga ya pabrik itu, di zaman krisis sekarang dia berani membuka lowongan kerja. Jadi inget omongannya Kalla, sektor TPT lah yang akan menjadi pilar dan penyelamat ekonomi Indonesia di krisis ini. Benarkah?”

Anyway, saya tidak akan banyak berkomentar soal krisis ekonomi sekarang. Riset saya belum cukup dalam dan komprehensif untuk hal ini. Satu hal yang saya concern dan saya yakini juga berhubungan dengan perekonomian kita. Antrean pelamar kerja perempuan dan pekerja perempuan mengingatkan saya pada sebuah buku dan film yang baru saja saya baca dan tonton yakni buku Tangisan dari Juares (The Daughter from Juarez) dan film Bordertown.

Tangisan dari Juares dan film Bordertown mengambil latar belakang kasus penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan-perempuan pekerja di pabrik- pabrik baru di kota perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat, Juarez. Mungkin film ini terinspirasi dari kisah nyata yang hingga saat ini masih terjadi di Juarez sejak tahun 1993 dan telah menelan korban lebih dari 500 nyawa perempuan. Kebanyakan mereka yang menjadi korban adalah perempuan muda dengan usia tidak lebih dari 25 tahun, bahkan ada yang masih berusia 10 tahun.

Seperti halnya di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, Meksiko menjadi surga bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk memperbesar produksinya, memperbanyak pundi-pundi uangnya dengan mendirikan pabrik-pabrik di negara berkembang. Tidak hanya karna harga tenaga kerja yang murah, namun juga menjadi pasar dan sumber bahan baku yang murah. Saat inilah, kaum perempuan didorong untuk masuk dan menjadi penggerak roda industri bagi pabrikan itu hanya untuk mendapatkan beberapa dolar dalam sehari.

Namun, kondisi ini ternyata menempatkan perempuan Juarez (dan juga dari kota lain) ke dalam tempat yang berbahaya. Tidak hanya penghasilan yang minim, namun nyawa mereka pun hanya dipandang sebelah mata. Ratusan perempuan yang menjadi korban pembunuhan entah oleh siapa (ada yang mensinyalir dilakukan oleh geng pengedar narkoba yang berkeliaran di perbatasan, ada yang menyatakan dilakukan oleh supir bis, pembunuh berantai, ekspatriat yang disewa pabrik hingga pihak kepolisian), namanya hanya menjadi sekadar catatan di laci meja polisi. Pihak keluarga tidak pernah mendapatkan kejelasan siapa yang membunuh mereka. Negara, dalam hal ini pemerintah setempat dan kepolisian, tidak mau ambil pusing karna masalah ini bukanlah masalah yang penting, bahkan justru dengan mengangkatnya akan membuat para investor, pemilik pabrik melarikan investasinya ke tempat lain dengan alasan keamanan atau tuntutan tinggi terhadap keamanan para pekerjanya. Sementara para pemilik pabrik tentu saja tidak perlu merasa pusing karna urusan pekerja yang pulang ke rumah bukan lagi urusan mereka karna urusan mereka adalah ketika perempuan berada di pabrik dan menghasilkan barang-barang produksi yang bisa dijual.

Di akhir halaman dan sesaat membaca credit title film, saya menghela nafas.

“Fuuhh…untung aja hal ini tidak terjadi di Indonesia..”

Tapi eitsss…. jangan salah dulu Ren, belum tentu situasi di negara kita aman nyaman tentram. Kemudian saya ingat ketika saya masih di Bandung dulu. Saya sempat beberapa saat mengenal kehidupan kawan-kawan muda saya yang baru saja memulai karir mereka sebagai pekerja pabrik. Waktu itu di pabrik kaus kaki Kahatex di Cijerah. Lima orang gadis muda yang baru saja menyelesaikan sekolah mereka, berumur antara 17 – 21 tahun, berasal dari kota-kota lain di sekitaraan Bandung. Mereka mengontrak sebuah rumah di dekat pabrik, tinggal bersama, berbagi kisah di pabrik dan kehidupan.

Terkadang ketika saya mengunjungi mereka, mereka bercerita tentang sulitnya pekerjaan di pabrik hingga perjalanan malam ke tempat kerja atau dari tempat kerja saat shift malam yang mengandung resiko. Bagaimana tidak, meski wilayah pabrik dan kontrakan mereka hanyalah selemparan batu, namun minimnya penerangan dan banyaknya kumpulan pemuda gak jelas yang kerap menggoda mereka menjadi tantangan saat pulang.

Untuk itu mereka menyiasatinya dengan memilih pulang bersama. Memang hingga saat saya terakhir berkumpul dengan kawan-kawan muda ini, tidak pernah ada satu kejadian yang berbahaya terjadi pada mereka. Namun, kisah perjalanan mereka telah menunjukkan bahwa potensi itu tetap ada.

Hal inilah yang juga terbersit di kepala saya ketika saya melihat antrean perempuan-perempuan muda tadi. Di Citeureup masih banyak terdapat desa-desa terpencil, sulit akses jalannya yang mungkin bisa jadi tempat tinggal beberapa perempuan tadi. Apakah mereka yang diterima di pabrik itu akan juga mengalami hal yang sama?

Tidak di desa, tidak di kota, termasuk di Jakarta. Dua tahun terakhir saya menghabiskan Senin hingga Jumat, tak jarang hingga Minggu di kota ini. Perjalanan Bogor – Jakarta – Bogor pun sudah harus saya tempuh setiap hari. Dan hampir setiap hari pula saya bahkan hingga gelap menyelimuti Jakarta, masih harus berada di Jakarta, di jalanan Jakarta. Beberapa tempat yang saya lewati seperti Mangga Dua, Senen, Kampung Melayu, dan UKI adalah tempat-tempat yang rawan tindak kejahatan.

Perusahaan saya belum menjadi perusahaan yang baik yang menyediakan sarana transportasi antar jemput pada karyawannya yang tinggal jauh di luar Jakarta. Nasib saya samalah dengan nasib perempuan-perempuan lain yang saya temui di Bandung, di Jakarta atau di tempat-tempat lain di kota ini, dan juga perempuan di Juarez.

Saat ini bisa dibilang sangat sedikit perusahaan yang ngeh akan keselamatan karyawannya dengan menyediakan sarana antar jemput bagi karyawan mereka. Beberapa pabrik (biasanya pabrik tekstil atau garment) menyediakan sarana antar jemput, namun hanya bagi pekerja mereka yang masuk malam. Namun hal ini kerap kali mengundang konflik di daerah setempat, yang melibatkan supir angkutan. Biasalah masalah rebutan penumpang. Huf… what a world.

Saya yakin, masih banyak hal-hal seperti ini yang terjadi di Indonesia. Mungkin berbeda kasus, tapi intinya sama, betapa mahalnya hak seorang perempuan untuk mendapatkan keamanan.  Mungkin kaum perempuan harus lebih bersatu menyuarakan kepentingan ini. Tidak hanya perempuan yang ada di pabrik, tapi juga seperti saya dan kamu. Siapa yang tak ingin selamat sampai di rumah?

redrena

~ by redrena on October 23, 2008.

7 Responses to “Dimanakah tempat aman bagi perempuan?”

  1. Hidup itu pilihan. Mereka memilih untuk miskin. Apapun konsekuensi dari pilihan itu adalah hal yang harus dihadapi oleh si pemilih. Menyalahkan orang lain bahkan untuk tindakan yang sangat merugikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Bertahan, berjuang, dan memilih untuk menang; adalah senjata untuk ‘hidup’ di dunia ini.

  2. Ya.. hidup memang sebuah pilihan, tapi tidak ada orang yang memilih untuk menjadi miskin sebodoh apapun dia.

  3. Bener Ann, kayaknya ga ada yang memilih untuk jadi orang miskin. Miskin itu keadaan yang diciptakan oleh sejarah peradaban manusia. Miskin itu bukan karena malas, karena orang yang biasa bermalas-malasan itu sebenarnya orang yang tidak miskin (paling ga, orang yang nggak merasa miskin).

    Hidup memang bertahan, berjuang, dan kalau mungkin melawan. karena manusia ada zoon-politicon dalam arti yang sebenar-benarnya…

    PS: good work say, mungkin perlu ditambahi dengan foto teman-teman perempuan pekerja pabrik yang antri di depan pabriknya untuk secuil nasi (yang barangkali sudah basi)

  4. up date dong…

  5. http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/08/090819_mexicoviolence.shtml

  6. saya jg termasuk perempuan bekerja.saya setuju dengan anda sudah saatnya kita bukan aku dan kamu tapi kita untuk membantu..prihatin perempuan yg berkehidupan nyaman dinegeri ini dg materi berlimpah yg sebenarnya dia mampu berbuat banyak untuk kaumnya, akhirnya malah dilenakan dgn keindahan mall dan semua kehidupan sosialita…saya pernah baca buku ttg beberapa perempuan berpengaruh di dunia seperti hilarry,hingga sri mulyani sekalipun tak mampu berbuat byk utk kaum wanita di dunia atau dlm lingkup kecil di negeri mereka sendiri..malah seorang perempuan yg menjadi korban kekerasan seksual di negeri timur tengah saya lupa namanya yg mengunakan seluruh uang kompensasi utk membangun rehabilitasi utk perempuan senasib dengannya…sudah saatnya perempuan mampu memberdayakan perempuan lain…persetan dgn feminisme dan emansipasi..kita hanya perlu ruang utk membesarkan,mendidik anak cucu dg damai

  7. perlu digaris bawahi ini tdk hanya terjadi di juarez meksiko tp byk sekali disekeliling kita…jd mohon buka mata kita lihat..dengar..rasakan dan mari sama-sama bergerak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: